Calais dan Naima


Bulan benderang, bintang bersinar

Kabut tipis menyelimuti dinginnya malam

Aku melihat sepasang binar

Pada teduhnya wajahmu yang temaram

Calais

Aku terbangun dengan keadaan kaget saat sepasang tangan mengguncangkan tubuhku dengan keras.

“Calais, cepat bangun!” Seru Sacha dengan nada panik.

Aku menepis tangannya dengan cepat. Kemudian aku merapikan baju atasanku yang memang sudah tidak rapi lagi.

“Ada apa?” Balasku ketus.

“Kau harus cepat pergi meninggalkan Kalisch.” Ucapnya lagi.

“Kenapa aku harus pergi?” Tanyaku memaksa.

Sacha mondar-mandir tak jauh dariku berdiri. Ia langsung menuju lemari kayu milikku dan membuka serta mengeluarkan isinya.

“Apa yang kau lakukan?” Ucapku dengan setengah marah.

Aku dibangunkan di tengah malam. Setengah mengantuk dan tidak tahu apa yang sedang terjadi. Lalu sesaat kemudian, aku disuruh meninggalkan desa tempatku lahir dan hidup selama ini.

Dengan cepatnya, Sacha telah mengepak sebuah bungkusan kain yang berisi bajuku. Ia pun menarikku cepat menuju pintu belakang dan mulai memasuki hutan. Aku meronta-ronta melepaskan kuncian tangannya. Tapi ia tetap bersikukuh membawaku pergi menjauh dari Kalisch.

“Berhenti!” Kataku dengan nada memerintah.

“Ada apa sebenarnya? Kau berhutang penjelasan atau aku sama sekali tidak mau meninggalkan Kalisch.” Lanjutku memperingatkannya.

Sacha kemudian menghentikan langkahnya, lalu memposisikan dirinya duduk bersandar pada sebuah pohon besar. Suasana di sekelilingku masih gelap gulita, satu-satunya penerangan yang kami miliki adalah sebuah lampion yang menyala redup di kegelapan hutan Pollus.

Sacha membuka mulutnya untuk berbicara, “mereka menemukan belatimu di lumbung, Calais. Di malam seseorang mendobrak masuk dan mencuri beberapa persediaan makanan.”

Saat ini di Kalisch diberlakukan sistem pembagian merata untuk semua bahan makanan. Itu semua disebabkan karena panjangnya musim kemarau dan jarangnya hujan turun membasahi lahan pertanian kami. Sehingga kami mengalami defisit pangan berkepanjangan.

“Belati? Tapi aku tidak pernah memasuki lumbung itu. Mengapa bisa belati itu ada disana?” Ucapku bingung.

“Mereka berpikir kau yang mencurinya.” Ulangnya.

Aku berpikir keras mengenai belati itu, bagaimana benda itu bisa sampai disana. Terakhir kali aku melihatnya adalah saat aku berada di tempat latihan dengan Sacha tiga hari yang lalu. Lalu tiba-tiba semua itu menjadi masuk akal.

“Kau yang menjebakku?” Ucapku dingin.

“Kau yang memasuki lumbung itu kan?!” Lanjutku dengan penuh emosi.

Di tengah cahaya lampion yang redup, aku melihat Sacha bergerak dengan gelisah. Cuping hidungnya kembang-kempis seolah-olah stok oksigennya telah tersedot habis. Tak lama kemudian, pecahlah tangisnya.

“Maafkan aku, Calais. Tapi Ibu tidak akan bertahan jika hanya makan sehari satu kali. Aku terpaksa melakukannya karena Seamus tidak akan memberi kami jatah makanan lebih. Aku… aku melakukannya karena ingin menolong ibuku.” Ucap Sacha terbata-bata disela tangisnya.

Semua amarah yang tadi kurasakan kini menguap hilang bersama udara. Aku tahu, Ibu Sacha memang sedang menderita penyakit parah. Tapi karena keterbatasan bahan makanan, penyakitnya malah semakin memburuk.

Aku duduk dengan lemas pada sebuah batu besar tidak jauh dari Sacha. Ku lihat sekilas bungkusan kain yang tadi dibawakan oleh Sacha, kutaksir isinya hanya baju saja. Sama sekali tidak cukup untuk perbekalanku pergi jauh dari Kalisch.

Bagaimana aku bisa bertahan di hutan?

“Berapa lama?” Tanyaku.

Sacha membalas dengan wajah terpaku pada tanah, “apanya?”

“Berapa lama waktu yang kau butuhkan untuk membersihkan namaku, sehingga aku bisa kembali ke Kalisch? Seamus akan menggantungku hidup-hidup jika menemukanku saat ini.” Lanjutku lagi, tapi kali ini aku membubuhkan emosi didalamnya.

Sacha tampak kebingungan.

“Kau tidak dengan sengaja membuatku diusir kan? Agar aku tidak bisa kembali lagi ke Kalisch.” Tuduhku.

“Aku… aku pikir kau mungkin bisa berkelana karena sanak saudaramu tidak ada satupun di Kalisch.” Bisik Sacha.

Aku mendengus. “Sudah dibuat jadi pencuri. Lalu aku sekarang dipaksa pergi. Nanti kau mau aku melakukan apa lagi? Terjun dari tebing tinggi untuk mati?”

Aku melihat penyesalan di wajahnya. “Maafkan aku. Aku akan berterima kasih seumur hidupku untuk hal ini.” Terdengar nada getir dalam suaranya.

“Ibuku juga akan berterima kasih…”

“Shh… diam.” Potongku.

Aku mendengar ranting yang patah karena dijejak oleh beberapa pasang kaki tak begitu jauh dari tempat kami berada. Bunyinya samar-samar, tetapi begitu jelas bagi indera pendengaranku yang waspada gara-gara situasi ini.

“Matikan lampionnya.” Bisikku pelan.

Dengan cepat Sacha langsung mematikan lampionnya dan bergerak perlahan untuk bersembunyi di balik pohon. Begitu pun denganku. Aku langsung meraih bungkusan kain yang tadi Sacha berikan untuk berjongkok dan bersembunyi di balik semak-semak.

“Cari dia! Calais tidak akan bisa pergi jauh.” Perintah seseorang yang suaranya ku kenal.

Beberapa orang yang sedang membawa obor di tangannya langsung memisahkan diri dan membuat tiga kelompok kecil yang terdiri dari dua atau tiga orang. Mereka mulai menyisir hutan pada tiga tempat berbeda. Aku mengendap-endap mendekati Sacha, berusaha sekecil mungkin menimbulkan suara yang bisa mencarik perhatian mereka.

“Aku akan pergi, masuk ke dalam hutan. Kau pulanglah, jaga Ibumu. Dan sampaikan salamku padanya.”

Sacha menggeleng sedih, “maafkan aku sekali lagi, Calais. Berhati-hatilah… dan ini belatimu. Tadi ku ambil saat mereka lengah sebelum aku pergi ke rumahmu.”

Aku menerima belati tua itu dari tangannya. Pada gagangnya terdapat ukiran huruf yang melingkar-lingkar indah membentuk nama Ayahku. Benda itu adalah peninggalan terakhirnya yang sempat diberikan padaku sebelum ia pergi berperang. Lalu pada saat ia tak kunjung kembali, ia membuat hati Ibuku hancur. Dan tidak lama berselang, Ibu ikut menyusul ayah pergi ke negeri langit.

Aku meremas sedikit bahu Sacha, menganggukkan wajahku untuk berpamitan, lalu kemudian berjalan menuju hutan yang gelap pekat tanpa penerangan apapun.

Aku terus berjalan tak tentu arah tanpa melambatkan irama langkahku. Semua itu ku lakukan agar aku bisa cepat-cepat keluar dari hutan ini. Tapi ternyata hutan ini lebih luas dan lebih lebat dari perkiraanku semula. Aku bahkan tidak bisa melihat konstelasi bintang untuk memandu arahku.

Mulutnya mulai kering. Dan perutnya mulai bergejolak. Aku butuh makanan dan minuman secepatnya sebelum aku tak sadarkan diri. Karena saat ini, aku merasakan kepalaku mulai berat dan pelupuk mataku mulai berkunang-kunang dan merefleksikan warna-warni indah seperti pelangi.

Sayup-sayup dari kejauhan terdengar gemerisik suara air dan juga seseorang sedang bernyanyi. Suaranya merdu dan membuai. Membuatku ingin cepat-cepat memejamkan mata.

Aku bertahan dan terus berjalan menuju sumber suara itu. Kakiku mulai terasa kebas karena terlalu lama berjalan. Tapi aku tidak bisa menggapai tepi sungai yang beriak itu. Tiba-tiba pandanganku gelap saat sedetik sebelumnya aku jatuh mencium tanah.

***

Air beriak di sepanjang jalan

Saat langit bersedih dan menurunkan hujan

Aku menemukan sebuah kehangatan

Pada kedua matamu yang menyiratkan ketulusan

Naima

Aku menatap hampa pada sederetan pohon maple yang daunnya bergoyang berirama karena tertiup oleh angin. Suasana malam di ujung hutan Pollus ini selalu sunyi setiap malamnya. Tiba-tiba dedaunan di sebelah selatan dariku bergoyang. Beberapa ranting patah karena terinjak oleh seseorang yang belum bisa kulihat wajahnya.

Aku langsung bersembunyi di balik batu-batu besar di tepi sungai. Hampir seluruh tubuhku terlindungi batu itu. Sesosok faun1 keluar dari persembunyiannya. Ia menggenggam  seuntai kalung mutiara di tangan kanannya. Ia berjalan perlahan mendekatiku. Tapi seperti yang sudah-sudah, aku malahan berenang menjauh, keluar dari jangkauannya.

“Naima tunggu.” Pinta Marsyas. “Terimalah mutiara ini sebelum kau pergi jauh dariku.” Lanjutnya.

Aku bergeming, tetap berada di tempatku tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun.

Kemudian Marsyas kembali berkata, “aku mendapatkannya dengan susah payah. Terimalah… ini untukmu.”

Aku menggeleng kuat-kuat, “aku tidak mau. Kau sengaja menjebakku dengan seuntai mutiara air itu. Jelas-jelas kau tahu aku tidak bisa menerima benda apapun.” Balasku dingin.

“Tapi Naima. Sampai kapan kau akan terus sendirian. Kau membutuhkan seorang pendamping. Ini sudah berjalan selama hampir seratus tahun. Apa kau tidak lelah?” Tanyanya mengiba.

“Seseorang itu pasti akan datang pada saatnya.”

“Apa kau akan menerima ikatan itu jika yang memintamu adalah bangsa Nymph2 juga?” Ia kembali bertanya.

“Tidak, aku akan menerima ikatannya jika ia memang seseorang yang ku cintai. Pergilah. Aku tidak mau kau yang mengikatku. Baik seratus tahun yang lalu, maupun sekarang.” Kataku tegas sambil berenang menjauh darinya.

Aku mendengar dengan jelas teriakan Marsyas memanggil namaku berulang-ulang. Tapi aku tidak menghiraukannya, aku terus berenang menjauhinya mendekati tempat peristirahatanku selama ini, sebuah gua air di tepi sungai Naima.

Aku duduh di sebuah batu besar di tengah-tengah sungai sambil menatap bulan yang hampir purnama. Tinggal sepuluh hari lagi sebelum bulan berbentuk bulat penuh. Saat itu, saudara-saudara Naiad3-kuakan datang berkunjung. Ia mulai merindukan celotehan, tawa riang, dan nyanyian indah saudaranya.

Aku mulai merasakan kesepian selama beberapa puluh tahun belakangan ini. sudah sejak lama sekali sejak aku mengikat hati dengan seseorang. Dulu pernah ada seorang Nereid4 yang menyatakan ikatannya padaku, tapi itu tidak bertahan lama. Pada dasarnya mahluk laut tidak bisa hidup di air tawar, sehingga dalam beberapa tahun saja ia menyerah dan kembali lagi ke lautan tempat ia tinggal.

Keabadian ini… lama kelamaan terasa seperti kutukan. Menjadi abadi itu tidak normal. Setidaknya aku iri pada sekumpulan manusia yang bisa saling mengasihi dan membagi hidup mereka dengan sesama. Jika saja aku bisa memilih, mungkin aku lebih baik menjadi seorang mortal.

Aku kembali termenung menatap bulan. Cahayanya yang redup menyelimutiku. Aku teringat pada sebuah lagu yang selalu dinyanyikan oleh kami semua bangsa Naiad saat bulan purnama.

Tengadahkan wajahmu pada cahaya malam

Resapi kekuatan alam dengan bebas

Jangan pernah terjatuh terlalu dalam

Maka jejakmu akan hilang tak berbekas

Dengan asyiknya aku menyanyikan lagu itu tanpa menyadari ada seseorang yang mendekat keluar dari bagian utara hutan Pollus yang rimbun.

Aku langsung terhenyak dan membenamkan diriku di dalam air. Dengan sinar bulan yang seterang sekarang ini, mungkin saja manusia itu bisa melihatku. Bodohnya aku, tidak menyadari bahwa ada makhluk fana lolos dari perimeterku.

Tapi tunggu… ia sepertinya tidak benar-benar melihatku.

Betul saja, tak lama kemudian ia jatuh mencium tanah dengan bunyi gedebuk keras.

Aku mematung di tempatku saat ini. Riakan air di sekitarku pun langsung diam di kala aku terdiam. Manusia itu terlalu dekat dengan tempat tinggalku. Jika aku meninggalkannya begitu saja, cepat atau lambat ia akan tahu tentang tempat ini. Tapi apabila aku menolongnya, maka ia akan tahu mengenai siapa aku.

Aku mengenyahkan pikiran negatif jauh-jauh, lalu berenang cepat menuju sisi sungai sebaliknya dan mendekati manusia itu. Sudah sejak lama sekali sejak aku menjejakkan kaki pada tanah. Rasanya tidak begitu nyaman saat seorang Nymph air tawar berada di atas tanah.

Ujung gaunku yang basah menjadi kotor karena menyapu tanah. Aku perlahan-lahan mendekati sosok manusia itu. Yang sedang tak sadarkan diri dengan memeluk sebuah bungkusan kain. Lalu aku melihat sebuah belati yang diikatkan dengan sabuk kulit, melingkar pada pinggangnya. Dengan cepat aku langsung menyambar belati itu, dan ku lemparkan jauh dari jangkauan tangannya.

Ku amati perlahan wajah manusia itu. Wajahnya cukup tampan walau agak tirus, rambutnya berwarna hitam kecoklatan, kontras dengan kulitnya yang berwarna putih pucat. Di pelipis kanannya terdapat bekas luka yang cukup dalam sepanjang jari kelingking anak kecil.

Lalu tiba-tiba bibirnya bergerak-gerak di tengah ketidaksadarannya. Aku mundur selangkah dan terdiam. Tapi kemudian ia kembali tak sadarkan diri.

Aku melangkah dengan setengah berlari menuju sungai. Dengan memakai kedua tanganku, aku mengambil air sungai lalu kemudian memberikannya pada manusia itu. Air itu mengalir melalui bibirnya dan masuk ke tenggorokannya. Beberapa tetes ada yang lolos dan mengalir pada dagu dan lehernya.

Tak lama kemudian ia langsung siuman dan terbatuk-batuk dengan kencang karena tersedak. Aku kembali mundur beberapa langkah menjauhinya.

Ia mengusap air di dagunya itu dengan salah satu tangannya yang kotor. Lalu sesaat kemudian matanya menjadi awas. Kedua bola mata itu membelalak lebar dan menatap ke arahku. Kami saling diam dalam dalam jarak dan jeda.

Aku beranjak dari tempatku berdiri dan berjalan menuju sungai kembali. Tapi pada saat aku akan mencapai tepian, suaranya menghentikanku.

“Terima kasih. Untuk airnya.” Ucapnya tersirat nada tulus didalamnya.

Aku menoleh padanya dan mengangguk. Aku kembali berjalan menuju sungai, tapi pada saat kakiku menyentuh bebatuan bawah air, ia kembali menghentikanku.

“Siapa namamu? Bolehkah aku tahu?” Tanyanya.

Aku ragu sesaat, tapi tetap saja menjawab. “Naima.”

***

Mereka melihat, mereka mendengar

Tapi mereka tidak bisa merasakan

Saat sepasang makhluk berbeda ditemukan oleh takdir

Yang ada hanyalah sebuah penyesalan

Abadi dan Ketidakabadian

Manusia itu bergerak perlahan dan memposisikan dirinya sampai duduk bersila di tanah. Ia memijat pelipisnya untuk mengusir rasa pening. Dengan berjarak sekitar lima langkah kaki orang dewasa, tak jauh berdiri sesosok wanita dari bangsa Naiad sedang mengamati manusia lelaki itu. Wajahnya ragu-ragu, antara ingin pergi dan ingin tinggal untuk meneliti.

Ia baru beberapa kali saja bertemu dengan manusia, itu pun jauh dari jangkauan mata mereka. Tapi kali ini, ia bertemu langsung dengannya.

“Bolehkan aku beristirahat di sekitar sini beberapa hari?” Tanya sang manusia memecah kesunyian kata diantara mereka.

Naiad itu mengangguk dengan canggung sambil berkata, “tapi hanya sampai sebelum purnama tiba.”

“Terima kasih, Naima.” Balasnya.

Ia lalu berjalan lunglai dan bersandar pada batang pohon maple sambil memegang perutnya.

“Oh iya, ngomong-ngomong namaku Calais.” Lanjutnya.

Tetapi Naima tidak mempedulikannya, ia langsung memasuki gua peristirahatannya lalu berbaring menyamping. Ia tidak bisa tidur, ia tidak bisa sakit, ia tidak bisa lapar,dan ia bahkan tidak bisa mati. Biasanya ia berbaring seperti ini jika sedang bosan, tapi kali ini benaknya dipenuhi oleh berbagai macam pertanyaan yang sulit ia cerna.

Di luar sana Calais menatap gelapnya langit. Hanya tinggal beberapa jam saja sampai ia bisa merasakan kembali cahaya matahari menerpa kulitnya. Ia sangat kelaparan. Sudah lebih dari dua belas jam perutnya tidak diisi oleh makanan. Tapi ia terlalu letih untuk mencari dedaunan ataupun seekor ikan. Ia menyerahkan diri sepenuhnya pada kantuk yang semakin menghinggapi. Tak lama kemudian, dengkuran pelan keluar dari mulutnya yang kering itu.

Naima bernyanyi lagi. Nyanyiannya menghantarkan Calais terus terlelap dalam tidurnya. Ia terus bernyanyi sampai matahari muncul dan menggariskan warna kemerahan di kaki langit. Lalu kemudian dengan cepatnya malam berganti siang, siang berganti malam. Begitulah setiap harinya. Hingga tanpa mereka sadari, mereka telah mengikat takdir dalam delapan hari ini. Saling tertarik dan jatuh hati.

Ia mengawasi kegiatan Calais setiap harinya. Manusia itu adalah makhluk yang menarik, pikir Naima. Calais selalu bercerita mengenai dunia luar yang jauh dari jangkauan Naima, tentang desanya, mata pencahariannya, dan nasib buruknya yang membawanya sampai ke tempat itu.

Di suatu pagi, saat Calais sedang bercerita pada Naima mengenai Kalisch, sebuah bayangan gelap mendekati mereka dengan mengendap-endap. Ia adalah Marsyas, yang kini sedang diliputi amarah.

“Apa yang kau lakukan, Naima?!” Teriaknya marah.

Baik Naima ataupun Calais langsung melonjak kaget dengan suara tinggi melengking itu. Mereka langsung berbalik dengan wajah masih menunjukkan keterkejutan.

“Un..untuk apa kau kesini, Marsyas?” Tanya Naima dengan gugup.

“Siapa manusia itu? Mengapa ia disini? Dan Kenapa kau begitu dekat dengannya?” Tanya Marsyas lagi tanpa mempedulikan pertanyaan Naima sebelumnya.

Calais langsung memposisikan tubuhnya di depan Naima. Nalurinya untuk melindungi wanita yang kini mencuri hatinya itu.

“Aku Calais. Dan aku kini adalah pengikat Naima.” Ucapnya tegas.

“Apa!” Balas Marsyas marah. “Kau sama sekali tak pantas makhluk fana, untuk berdampingan dengan makhluk abadi seperti kami.” Lanjutnya sambil memandang remeh ke arah Calais.

“Itu sama sekali bukan urusanmu, Marsyas. Aku yang memilihnya dan ia pun telah memlilihku. Abadi ataupun tidak, kami mempunyai kesempatan untuk bersama.” Sela Naima.

Marsyas mematung dengan amarah masih meletup-letup dalam setiap tatapannya. Ia lalu menyunggingkan seringai jahat, “lihat saja nanti, Naima. Ketulusanku bukan harus dibayar seperti ini.”

Ia membalikkan tubuhnya sambil melangkah dengan angkuhnya dan masuk kembali ke dalam hutan

“Bersenang-senanglah kalian selagi bisa.” Ucapnya kemudian.

Kata-kata itu membisik dan menyusup memasuki hati Naima. Ia tidak tenang. Ia tahu bagaimana liciknya faun itu. Di sebelahnya Calais mencengkram tubuhnya erat. Calais pun terkena efek dari peringatan Marsyas itu. Seolah tersadar dengan perbedaan mereka.

***

Bersambung…

__________________

1Faun adalah makhluk setengah manusia dan setengah kambing. Dari kepala sampai pinggang adalah tubuh manusia (dengan tambahan tanduk di kepalanya), dan dari pinggang sampai kaki adalah tubuh kambing.

2Nymph adalah salah makhluk abadi yang berwujud wanita (biasanya, tapi banyak juga yang berjenis kelamin laki-laki) dan diasosiasikan dengan lokasi atau tempat tertentu. Mereka diidentikkan dengan peri, atau bidadari yang tinggal di alam bebas.

3Naiad adalah Nymph air tawar.

4Nereid adalah Nymph lautan.

***

Minta sarannya dong, kira-kira mending diterusin jadi cerpen aja atau novelet? #dzigg

Advertisements

2 thoughts on “Calais dan Naima

  1. bagus,tam. ide menggunakan Nymph n Faun sbg tokoh bagus.
    tapi,jujur, gw bosen ma kisah cinta beda dunia. berasa agak basi.
    coba lo kembangin cerita ttg dua makhluk itu dgn konflik yg lebih tajam lagi. trus kisah cintanya itu jd bumbu aja,bukan tema utamanya. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s