#17 Pergi


Aku memasukkan barang terakhir ke dalam koperku. Benda itu adalah sebuah buku kumpulan ilustrasi yang diberikan olehmu setahun yang lalu. Cahaya matahari bersinar dengan cerahnya melalui kisi-kisi jendela. Beberapa burung berterbangan dan bersiul nyaring pada pagi ini.

Aku melayangkan pandangan ke semua sudut kamarku. Mungkin akan memerlukan waktu yang lama untukku kembali lagi ke tempat ini.

“Maya, udah siap belum?” Tanya sebuah suara dari lantai bawah.

“Iya. Sebentar lagi.” Jawabku.

Terakhir, sebelum aku menuruni tangga, aku menyambar sebuah topi bisbol yang warnanya merahnya telah pudar di sebuah meja di sudut kamarku. Inisial namamu masih tertulis jelas disana, berdampingan dengan inisialku.

Di bawah, ternyata kakakku, Rasya sudah siap menungguku. Ia tetap menggunakan jaket kebesarannya, padahal cuaca di luar sama sekali tidak dingin.

“Kak, ayo berangkat.” Ajakku padanya.

Ia berjalan mendekati, lalu kemudian mengambil koper yang ku jinjing pada tangan kananku. “Cuma segini, May? Tumben… biasanya anak perempuan barangnya banyak.” Ejeknya.

Aku menyikut kuat tulang rusuknya. “Aku kan bukan perempuan kebanyakan.” Balasku sambil tertawa mengejek.

Kami berdua terus-menerus saling melontarkan kalimat ejekan sampai keluar dari rumah dan menuju mobil. Tanpa sadar aku bertumbukan dengan seseorang yang sedang berdiri di depan pagar rumahku. Rasa kesalku langsung menguap begitu tahu siapa sosok itu.

“Ega!” Seruku.

“Katanya gak bisa datang. Katanya sibuk. Katanya mau ada urusan.” Lanjutku sambil memberondong beberapa perkataan dirinya di telepon kemarin.

Ia membalasku dengan seringai jahil, “sengaja. Biar pas lihat aku, langsung ceria.”

“Ihh… pede banget sih.” Kataku sambil mencubit lengannya kuat-kuat.

Kakakku langsung memotong pembicaraan kami, “hei, udah ngobrolnya. Lanjut nanti aja, nanti kamu ketinggalan kereta, May.”

Kami langsung menuju mobil dimana Rasya sudah menunggu dengan masih saling menyikut.

Perjalanan dari rumah menuju stasiun kereta api untung saja tidak macet, dan sejauh ini kami tidak sempat terjebak macet. Sesampainya di stasiun kereta api, aku langsung menuju peron tempat dimana keretaku berada. Waktu menunjukkan pukul delapan kurang sepuluh menit. Masih ada empat puluh menit sebelum kereta itu membawaku dari Jakarta menuju Bandung.

Aku sengaja duduk bersebelahan dengan Ega di salah satu bangku di stasiun itu. Sedangkan kakakku, Rasya, menghilang entah kemana.

Ega menyelipkan sebelah earphone-nya di telingaku. Dari benda itu, mengalunlah sebuah lagu yang dinyanyikan oleh seorang wanita bersuara merdu.

Oh good-bye days, right now things inside my heart have begun to change, alright
An uncool kindness is at my side
~With you

“May, nanti sering pulang ke Jakarta kan?” Tanya Ega tiba-tiba.

Aku mengangguk padanya, “iya dong. Bandung – Jakarta kan dekat, masa gak sering pulang. Yang ada, Bunda marah-marah terus di telepon.” Kataku padanya.

Ia tertawa mendengar penjelasanku, “Kak Rasya juga. Pasti sepi gak bisa jahil sama kamu.” Tambahnya.

Aku balas tertawa dengan kencang. Mereka semua pasti akan merindukanku… dan begitu juga aku. Tapi dibalik semua itu, aku pasti akan paling merindukanmu.

“Kalo kamu?” Tanyaku menyelidik.

Ega bergeming. Tampak sedang memikirkan sebuah jawaban dalam kepalanya. Aku tidak begitu peduli dengan jawabannya. Setidaknya, keberadaannya saat ini pun sudah sangat berarti bagiku.

“Aku pasti kangen sama kamu, May.” Ucapnya kemudian.

Hatiku mencelos. Baru kali ini, ucapan bernada melankolis keluar dari bibirmu. Kemudian tiba-tiba, jantungku berdetak dengan kencang.

“Aku juga bakal kangen kamu, Ga.”

Dengan nyaring, suara seorang pria pada speaker di stasiun itu mengacaukan momen kami. Ia mengumumkan bahwa keretaku akan berangkat sebentar lagi. Dari kejauhan, tampak Rasya berlari menghampiriku sambil menenteng sekantong plastik belanjaan dari sebuah mini market di stasiun tersebut.

“Nih, buat camilan di jalan. Aku tahu kamu kan suka pusing kalau telat makan.” Katanya sambil menyodorkan seplastik penuh camilan yang berisi roti, makanan ringan, air mineral, permen karet, dan lainnya.

“Makasih ya, kak.” Tiba-tiba hatiku diliputi dengan rasa haru.

Cepat-cepat aku berjalan mendekati pintu keretaku sambil menenteng sebuah koper dan plastik belanjaan, agar air mataku tidak tertumpah. Lalu kemudian, tanpa disangka Ega mencengkram erat tanganku.

“Aku akan selalu menunggumu disini. Aku juga akan selalu mengingatmu dalam setiap guratan kuasku. Cepatlah selesaikan kuliahmu di Bandung, lalu segera kembalilah kepadaku.” Bisiknya.

Aku tersenyum dan mengangguk padanya. “Sampai jumpa lagi, Ega.”

Lirik lagu itu masih terngiang-ngiang di dalam kepalaku.

When we both are humming the same song, I wish for you to be by my side
I’m glad that we were able to meet each other, with such an uncool kindness
… Good-bye days

Kita pasti akan bertemu lagi dan melanjutkan kembali kisah kita. Dengan kamu berada disampingku selalu…

Protected by Copyscape Web Plagiarism Checker

Ditulis untuk #YUI17Melodies dengan tema Goodbye Days.

Kutipan diatas adalah lirik lagu terjemahan dari YUI – Goodbye Days.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s