#15 Hati yang Meragu


Titik-titik air hujan terakhir mendarat di tanah, meninggalkan jejak-jejak basah disana sini. Tiba-tiba kampusku seperti dimulai kembali aktivitasnya. Ada beberapa mahasiswa yang berlarian di atas lapangan dengan bola plastik digiring di kakinya, ada pula sekelompok mahasiswi yang berjalan riuh menuju kelas perkuliahannya. Lalu mataku tertumbuk pada sesosok laki-laki di tengah taman kampus. Ia baru saja berjalan keluar dari koridor sambil menenteng sebuah gitar akustik di bahunya. Ia tak peduli dengan tembok yang basah karena air hujan, langsung saja ia mendudukinya seakan tak peduli celana jeans kumalnya jadi semakin kotor.

Aku hendak berjalan menghampirinya dan melangkah dengan hati-hati untuk menghindari genangan air hujan. Ia sama sekali belum menyadari aku mendekatinya. Baru pada saat aku telah berdiri tepat di hadapannya, ia mengangkat kepala dan tersenyum singkat padaku. Tanpa perlu banyak waktu mengamatiku, ia langsung menekuni gitarnya kembali. Jemarinya yang terampil menekan senar gitar dan menyuarakan nada sebuah lagu yang ku kenal.

“Udah makan belum? Kok mukanya kusut gitu?” Tanyaku setengah bercanda.

Ia mengangkat wajahnya kembali dan menjawab, “belum lah. Nunggu kamu datang dan traktir. Hehe.”

“Dasar. Ayo makan dulu.” Kataku padanya sambil mengajaknya ke kantin.

Ia langsung mengekoriku begitu aku berjalan di depannya. Tanpa peduli dengan sesaknya suasana kantin, kami langsung menerjang bangku kosong di depan kami dan tidak menghiraukan tatapan marah dari beberapa orang yang telah mengincar bangku itu. Dengan cepat aku memesan dua mangkuk bakso, dan tak lama kemudian pesanan kami telah tersedia di depan mata.

Tanpa basa-basi ia langsung makan dengan lahapnya, sementara aku hanya memainkan kuah bakso itu di mangkuknya.

Sebenarnya tadi aku tidak keberatan mendengarkannya bermain gitar. Tapi, lagu yang tadi ia bawakan… aku benar-benar tidak menyukainya. Itu adalah lagu untuk Gita, seseorang di masa lalu Dimas. Seseorang yang melukainya, tapi bahkan Dimas tidak berkeberatan karenanya. Ia bilang, “mungkin Gita mempunyai alasan dibalik itu.” Sedangkan jika menurutku, Gita hanya memanfaatkannya saja. Ah sudahlah, cukup tentang Gita. Emosiku akan memuncak dan mood-ku akan hilang jika mengingatnya.

“Kenapa gak dimakan baksonya, Nis?” Tanya Dimas di sela-sela kunyahannya.

“Masih panas.” Dalihku.

“Ooo bulet. Kirain gak mau. Klo gak mau, sini aku makan.” Ucapnya.

“Dasar maruk.” Kataku sambil memukul kepalanya dengan kertas yang digulung.

Ia tertawa keras lalu melanjutkan ritual makannya kembali. Aku pun, dengan malas mulai menyendok bakso itu satu persatu.

“Eh, Nis. Kemarin malam Gita telepon.” Ujar Dimas muram.

Aku menghentikan gerakanku. Bakso bulat yang berada dalam sendokku kini tergelincir kembali masuk ke dalam mangkuk. Aku pun ikut muram lalu terdiam kembali  menunggu penjelasannya.

“Dia katanya akan kembali kesini. Dua minggu lagi.” Lanjutnya.

Aku menghela nafas, “lalu… kamu mau melakukan apa? Kembali padanya setelah perlakuan dia padamu?” Tanyaku.

Ia menatap wajahku lekat, “tidak akan.” Tapi aku melihat keraguan dimatanya dan seketika aku pun ikut merasa ragu dengan hatinya.

“Aku punya kamu.” Lanjutnya sambil tersenyum.

Tapi entah kenapa, walaupun ia mengatakan kalimat itu dengan yakin. Aku masih bisa mengecap setitik keraguan di dalamnya. Semoga saja yang dikatakannya benar. Aku berpegang pada kata-katanya.

Protected by Copyscape Plagiarism Software

Ditulis untuk #YUI17Melodies dengan tema LOVE & TRUTH

Advertisements

One thought on “#15 Hati yang Meragu

  1. Pingback: [Tema 15] Hati yang Meragu | #YUI17Melodies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s