#12 Aku Akan Mengingatmu


Di sebuah stasiun kereta api, berdiri seorang perempuan berbaju tunik biru dan dipasangkan dengan celana jeansberwarna biru tua sambil menenteng alat musik petiknya. Tidak jauh dari tempat itu, terbentang hamparan laut berwarna biru cerah senada dengan warna langit. Di pengelangan tangan kirinya terdapat sebuah gelang perak berbandul batu alam topaz.

Ia menyentuh bandul itu sekilas. Ia teringat dengan seseorang yang memiliki gelang yang sama dengannya. Gelang itu pun adalah pemberiannya sekaligus di desain khusus untuk mereka berdua. Ia telah berada di stasiun itu selama satu jam. Beberapa kereta telah melintas di depannya, tapi ia tetap diam di tempat sambil terus menatap laut dan mengulang kenangannya.

***

“Rika!” Panggil Mia pada temannya itu.

Orang yang merasa dipanggil langsung menengok ke arah sumber suara. Lalu setelah sadar dengan siapa pemilik suara itu, ia langsung tersenyum dan melambaikan tangannya kuat-kuat.

“Mia, ayo cepat kemari. Lautnya berkilau.” Seru Rika.

Rika memang bukan berasal dari daerah di sekitar sini. Ia adalah anak ibukota yang setiap hari menghisap polusi kendaraan yang berlatarkan gedung pencakar langit yang menjulang tinggi.

Mia berjalan mendekati Rika, tidak menghiraukan ajakan cepat-cepat dari Rika. “laut memang begitu jika diterpa oleh sinar matahari.” Ucap Mia.

Rika tidak memedulikan ucapan Mia, ia sibuk menekan tombol pada kamera sakunya.

“Kamu sampai kapan akan terus disini?” Tanya Mia.

“Sampai matahari tenggelam ya.” Jawabnya sambil terus sibuk, masih dengan kamera sakunya.

Mia menghembuskan nafas panjang. “kamu tahu itu bukan maksud dari pertanyaanku. Kamu kapan akan pulang? Mama dan Papamu pasti sudah rindu padamu.” Lanjut Mia.

Gerakan Rika terhenti. Jari telunjuk pada tombol kameranya juga ikut membeku. Ia lalu menurunkan kamera sakunya dan berbalik menatap Mia. “Nanti. Jika aku ingin.” Kata Rika lalu mengangkat kembali kamera sakunya dan melanjutkan memfoto laut.

Rika datang kira-kira dua minggu yang lalu. Mia bertemu dengannya di stasiun kereta api di kotanya. Tanpa latar belakang yang jelas, ia berteman dengan Rika yang seperti orang bingung itu. Kadang pikirannya menerawang jauh seperti sedang menunggu seseorang, kadang juga sikapnya berubah ceria mendadak.

“Mia, ayo pulang. Aku udah lapar nih.” Ajak Rika.

“Tumben belum sampai tenggelam mataharinya.” Balas Mia.

Rika meraih pergelangan tangan Mia dan menariknya, “ayo ah. Lapar nih.” Ulangnya sambil tersenyum jahil.

***

Mia mengambil selembar foto dari saku belakang celananya. Foto itu dulunya dibungkus oleh sebuah amplop berwarna cokelat bertuliskan namanya diatasnya.

Di selembar foto itu terlihat langit senja berwarna merah dengan laut beriak dibawah langit tersebut. Itu adalah foto terakhir dari Rika yang diberikan pada Mia sesaat sebelum ia naik kereta api menuju kotanya.

Selama lima belas terakhir itu, Rika sempat mengatakan mengenai alasannya datang tanpa arah lalu terdampar di kota Mia. Mia adalah orang pertama yang peduli padanya, bahkan tanpa kenal dengannya dan tanpa banyak bertanya mengenai alasan kepergiannya.

Rika dibesarkan dari keluarga berkecukupan yang sangat otoriter. Pada hari kepergiannya itu sebenarnya ia akan dikirim ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikan di bidang bisnis, pilihan ayahnya. Tetapi ia mengambil jalan ekstrim dengan kabur ke tempat ini.

Lalu sehari sebelum kepergian Rika, ibunya mengabarkan bahwa ayahnya jatuh sakit dan harus diopname dalam waktu yang lama. Walau bagaimanapun Rika tetap sayang pada ayahnya, sehingga ia memilih kembali pulang ke kotanya dengan resiko ia akan dipaksa untuk mengambil jalan yang dipilihkan ayahnya. Padahal ia selama ini ingin sekali menjadi seorang designer perhiasan.

Mia menyentuh lembut gelang pemberian Rika. Rika bilang, itu mungkin akan menjadi karya terakhirnya. Ia menitipkan impiannya pada Mia, bahwa semoga kelak ia bisa jalan di mimpi yang ia inginkan selama ini. Menjadi seorang musisi, tanpa harus berjalan pada mimpi yang diinginkan oleh orang lain.

Wajah Rika kala itu sesendu langit yang mendung. Baik Rika ataupun Mia tahu, mungkin itu adalah perpisahan bagi mereka. Tidak tahu kapan lagi mereka akan bertemu.

“Aku akan mengingatmu, Mia.” Janji Rika.

“Aku juga.” Balas Mia.

Lalu mereka berpelukan sesaat sebelum kereta itu melaju, lalu kemudian meninggalkannya.

Kini setiap kali Mia datang ke stasiun itu, dia akan selalu ingat pada Rika. Sampai kapanpun…

Protected by Copyscape Plagiarism Scanner

Ditulis untuk proyek #YUI17Melodies dengan tema I Remember You

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s