#13 Bintang yang Menghilang


Seorang laki-laki sedang duduk menatap langit yang bertaburan bintang-bintang. Sesekali ia menghembuskan nafas pasrah. Ia menghitung dalam hati. Seratus dua puluh delapan hari dan sekitar lima belas jam sejak ia terakhir kali melihat seorang gadis yang sama-sama duduk dengannya di hamparan langit berbintang pada hari itu.

“Apa kamu melihat bintang yang sama dengan yang aku lihat malam ini?” Tanyanya lirih. Ia hampir di setiap malam berbintang selalu melontarkan pertanyaan yang sama. Pertanyaan retoris tanpa balasan dari gadis yang ia maksud.

***

“Apa yang akan kamu lakukan besok, lusa, dan seterusnya?” Tanya Sahara.

Pinno berusaha tersenyum dan menjawab, “aku akan melakukan hal yang sama. Menemuimu setiap hari.”

“Jika aku tidak ada?” Sahara bertanya lagi. Pinno diam.

Mereka berdua menatap bintang yang terhampar di langit satu-satu. Bulan sabit pun ikut menghiasi langit itu dan menjadikannya lebih semarak. Pinno menatap Sahara lekat-lekat, mencoba mengingat setiap jejak keberadaannya. Sahara dan langit berbintang sebagai latarnya adalah pemandangan paling ia sukai.

Mereka tinggal di daerah pegunungan dan jauh dari pusat keramaian dan polusi udara. Langit yang seperti mereka lihat saat ini, kadang dapat mereka lihat setiap hari.

***

Alat penanda detak jantung itu berbunyi nyaring memenuhi seluruh ruangan bercat putih itu. Kesadaran Sahara mulai menghilang sejak ia di bawa ke Instalasi Gawat Darurat beberapa jam yang lalu. Kepala Pinno dipenuhi dengan kekhawatiran, ia tidak bisa berpikir dengan jelas.

Laki-laki paruh baya yang memakai jubah putih itu mulai memegang nadi Sahara dan mencari detak jantungnya. Ia menggumamkan sesuatu pada perawat di sampingnya, lalu ia mengambil alat kejut jantung. Beberapa kali alat itu menghentak dada Sahara sampai naik, tapi belum ada tanda-tanda denyut jantungnya kembali.

Dokter itu lalu mengulang kembali. Mencoba mengembalikan tanda-tanda kehidupan Sahara. Tapi tiba-tiba alat penanda detak jantung itu berdengung dengan kencang. Garis naik turunnya tiba-tiba diam.

Dokter itu melihat pada jam dinding di atas ruang IGD itu, menyebutkan waktu kematiannya lalu memenggeleng sedih pada kedua orang tua Sahara yang sedari tadi berusaha tegar. Tapi kini tangis mereka langsung pecah dengan cepatnya.

Pinno mengkeret di sudut dinding. Ia tidak bisa merasakan lantai tempatnya berpijak. Langit serasa runtuh menimpa kepalanya. Bintangnya menghilang…

***

Pinno kembali menatap langit. Ia ingat pada kejadian sehari sebelum Sahara pergi dan menghilang dari dunianya. Pertanyaan terakhirnya tidak dapat ia jawab, padahal ia selalu tertawa walaupun hatinya tidak.

Sebetulnya pertanyaan itu sama sekali tidak bisa ia jawab. Sejak Sahara tidak ada, salah satu kegiatannya setiap hari adalah menatap langit penuh bintang. Mencari jejak Sahara disana.

Pinno tahu, semenjak dokter memvonis Sahara dengan penyakit leukimia. Ia sadar, suatu saat ia akan dipisahkan dengannya.

“Tuhan, aku tahu aku serakah. Tapi bisakah aku bertemu dengannya saat ini?” Ucap Pinno pedih.

Walaupun seratus dua puluh delapan hari telah dilalui. Ia masih tetap dan mungkin terus begini. Jika saja bintangnya dapat kembali. Itu akan menjadi garis kebahagiaannya.

Tapi walau sekeras apapun hati menolak. Pinno tahu, Sahara tidak bisa kembali. Selamanya. Ia hanya perlu menunggu waktu ia menemui Sahara.

Protected by Copyscape Originality Checker

Ditulis untuk #YUI17Melodies dengan tema It’s Happy Line

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s