#10 Hitam Putih


Jarak aku dan Rio sekarang hanya dipisahkan oleh sebuah meja kecil. Tapi entah mengapa hati kami terasa sangat jauh. Ia sibuk memilin sebuah gelang karet menjadi untaian rumit. Tetapi dari bibirnya tidak keluar satu kata pun. Aku pun hanya termenung dalam dudukku. Tidak tahu harus berkata apa. Tidak tahu harus bagaimana. Aku menunggu ia membuka mulutnya.

Ia menghentikan kegiatannya. Tampaknya karet gelang itu sudah menjadi benda yang membosankan baginya. Dengan malas, ia melempar untaian yang telah dijalinnya selama sekitar tiga puluh menit itu pada lantai beranda rumahku. Lalu kemudian ia menghela nafas panjang.

“Rie, aku akan pindah ke Jakarta.” Katanya.

Aku menatap sebuah cecak yang berjalan melata pada dinding di sebelah kiriku. “Kapan?” Tanyaku.

“Lusa.”

“Lalu? Hanya itu? Kamu kan biasa pergi ke luar kota selama berbulan-bulan. Jadi tidak masalah bagiku.” Sergahku.

Ia menatap kembali untaian karet gelang yang tadi dilemparnya. “Tapi kali ini, aku mungkin tidak akan kembali.”

Aku diam kembali. Aku mencecap aroma perpisahan ini sudah sejak berbulan-bulan lamanya. Pergi tidak memberi kabar, datang pun jarang. Atau sekedar menyapa lewat sebuah pesan singkat pun tidak pernah.

Aku memberanikan diri melihat ke arahnya, tapi tetap diam dan tidak mau berpaling dan menatapku. Dulu sosoknya penuh dengan warna. Senyumnya selalu terkembang lebar apabila menceritakan tentang petualangannya, dan rentangan lebar tangannya seolah-olah tubuhnya saja belum cukup untuk merengkuh seluruh dunia. Tapi kini… entahlah. Semangatnya seolah terserap sebuah lubang hitam.

Ia bangkit dari duduknya dan menenteng tas ranselnya di bahu. Menatap kedua mataku sebentar lalu mengucapkan sebuah perpisahan. Aku menatapnya lekat. Rasa bersalah tersirat diantara kerling matanya. Ia sedang berbohong… aku sama sekali tidak bisa menerka niatnya.

“Sampai jumpa. Jaga baik-baik dirimu.” Ucapnya terakhir kali.

Aku masih diam saja, tidak membalas. Kini lubang hitam itu berpindah pada hatiku. Menguapkan semua rasa untuknya. Ia berjalan menjauhi rumah ku. Aku terus saja menatap kepergiannya sampai ia benar-benar hilang dan tak terjangkau lagi. Sedari dulu pun, semenjak ia pergi bertualang, aku sudah merelakan kepergiannya.

Terima kasih, Rio. Untuk semua warna yang telah kau berikan pada hidupku dulu.

Protected by Copyscape DMCA Copyright Protection

Ditulis untuk proyek #YUI17Melodies dengan tema Swing of Lie

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s