#9 Sebuah Kejutan


Suara kokok ayam nyaring berbunyi bersahut-sahutan. Matahari pagi masih belum nampak, tetapi semburat-semburat warna jingga kemerahan mulai terlihat dari langit yang ku lihat melalui jendela kamarku. Aku langsung menuju kamar mandi untuk mengerjakan ritual pagi. Menggosok gigi dan membasuh tubuhku dengan air wudhu.

Setelah selesai mengerjakan sembahyang subuh, aku langsung berjingkat-jingkat keluar kamar menuju dapur. Lampu di ruang tengah masih saja gelap gulita. Seperti yang ku niatkan tadi malam, aku akan memasak hari ini.

Resep yang ku baca berulang-ulang tadi malam, ku bunyikan nyaring di dalam kepalaku. Bahan-bahannya pun telah ku persiapkan dari sehari sebelumnya. Beruntung, kemarin malam mama pulang larut malam setelah pulang bekerja. Sehingga tidak sempat melihat isi kulkas yang bertambah dengan bahan makanan yang tidak ia beli.

Ku dengar langkah kaki kecil berjalan menuju dapur ini. Aku membeku seketika. Mudah-mudahan kejutan ini tidak terbongkar.

Tak lama sepasang mata bulat bersinar muncul dari balik pintu dapur. Hatiku lega. Ternyata langkah kaki yang ku dengar tadi adalah milik adikku, Naya.

“Kak Raya, aku harus bantu apa nih?” Tanyanya sambil berseru girang.

“Shhh… jangan keras-keras bicaranya.” Ucapku sambil meletakkan ujung jari telunjuk pada bibirku.

Naya hanya menyunggingkan cengiran jahil di wajahnya sambil berjalan mendekatiku.

“Kamu cuci berasnya ya. Sudah kakak takar barusan, nanti kakak yang akan sekalian memasukkan bumbu ke dalamnya sebelum dimasak.” Kataku kemudian.

Ia mengambil bangku kecil miliknya untuk ia gunakan sebagai pijakan di bak cuci piring. Tingginya bahkan belum mencapai satu meter. Tapi saat aku katakan mengenai rencana ini, ia langsung menyanggupinya dengan semangat yang berapi-api. Aku geli sendiri membayangkan raut wajahnya yang menggemaskan kala itu.

Aku mencuci seekor ayam yang kemarin ku beli di pasar swalayan, setelah itu aku mencampurnya dengan berbagai macam bumbu yang telah ku racik sehari sebelumnya. Karena apabila aku harus menggunakan mesin penghalus pada pagi-pagi buta seperti ini, aku yakin seratus persen mama akan bangun dan mengacaukan semua rencana kami.

Persiapan memasak ini tinggal menuju tahap akhir. Sayup-sayup terdengar bunyi exhaust fan berdengung di dapur ini. Aku dan Naya memandang lampu rice cooker yang masih bernyala merah, padahal ini telah tiga puluh menit lebih. Dan mama sebentar lagi pasti akan bangun.

Ting!

Tiba-tiba rice cooker itu berbunyi dan lampunya berganti menjadi hijau. Naya yang riang langsung bertepuk tangan tanpa bunyi dan tersenyum lebar. Aku langsung menyajikan nasi kuning yang masih mengepul itu ke dalam sebuah piring. Kemudian setelah itu, menambahkan ayam goreng, telur dadar, kering tempe, dan irisan mentimun segar.

“Akhirnya. Selesai juga.” Kataku pada Naya.

Ia mengangguk dengan semangat sambil berkata, “aku yang menyajikan di ruang makan ya, kak?” Tanyanya.

Aku tersenyum padanya. “Iya boleh. Tapi hati-hati bawanya, jangan sampai terjatuh.”

“Iya, kak Raya.” Timpalnya.

Setelah semua tersedia di atas meja makan, tiba-tiba pintu berderit dari kamar mama. Muncullah mama dan papa dengan wajah setengah mengantuk keluar dari kamar. Mulanya mereka tidak sadar. Tapi begitu mencium bau masakan, mereka langsung menuju ruang makan dengan tergesa-gesa.

Aku dan Naya telah menunggu mereka di seberang meja. Saat mereka masuk dan melihat kami, aku dan Naya langsung berbicara bersahutan bersama-sama.

“Selamat ulang tahun, mama.” Ucap kami berdua.

Mata mama langsung berkaca-kaca begitu melihat usaha kami untuk membuat kejutan untuknya. Ia pun langsung berjalan setengah berlari dan memeluk kami berdua.

“Terima kasih, sayang.”

“Aku yang buat nasinya loh, ma.” Seru Naya menimpali.

“Iya, makasih ya, sayang. Mama makan ya nasi kuningnya sekarang.” Lanjutnya senang.

Kami semua memakan hidangan pagi itu dengan lahapnya. Nasinya masih agak belum matang, ayam gorengnya keasinan, telurnya berantakan, dan juga kering tempenya terlalu manis.

“Hmm… sedapnya. Lain kali, kalian masak lagi ya buat mama.”

Tapi menurut mama makanan itu adalah makanan yang terlezat yang pernah ia cicipi. Aku dan Naya tersenyum lagi, bersyukur hasil kerja keras kami disukai oleh mama.

Protected by Copyscape Duplicate Content Finder

Ditulis untuk proyek #YUI17Melodies tema ke-8, Cooking.

Advertisements

6 thoughts on “#9 Sebuah Kejutan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s