#8 Mimpi


Aku menatap baling-baling kipas angin yang bergerak searah jarum jam itu dengan pandangan kosong. Saat ini adalah pertama kalinya dalam tiga bulan ini aku istirahat tanpa pikiran apapun. Biasanya dua atau tiga jam waktu tidurku setiap harinya, selalu ku isi dengan berbagai macam pekerjaan yang terus saja menggangguku.

Tubuh ini ku gulingkan ke kanan. Aku menatap pada warna malam yang hitam pekat di luar sana. Kaca jendela bening itu adalah pembatas antara duniaku dan dunia luar. Aku membayangkan bagaimana masa kecilku dulu. Saat berlarian di lapangan terbuka dan mengejar seekor capung adalah pekerjaan yang menyenangkan. Kemudian aku teringat pada jalan setapak penghubung desaku dan hutan lindung. Jika hari masih terang, aku diperbolehkan ayah untuk bermain disana.

Aku berkedip dua kali. Pada kegelapan malam tiba-tiba aku melihat seberkas cahaya menari-nari mengitari pohon apel. Musim hujan begini, kok bisa ada kunang-kunang ya? Pikirku.

Aku mengenyahkan pikiran itu jauh-jauh. Lalu kemudian aku membalikkan tubuhku kembali dan menatap kamar persegi empatku yang berukuran enam kali empat meter itu. Seharusnya aku membuka komputer jinjingku dan mulai mengerjakan laporan keuangan kantorku. Tapi aku sungguh jenuh dan otakku penat dengan segala rutinitas itu.

Ku pejamkan mataku perlahan. Aku berniat untuk tidur selama beberapa jam saja sebelum kembali menghadapi untaian angka yang berderet. Tetapi pada saat aku akan terlelap, sesuatu mencoba membangunkanku dengan mengetuk pelan pada kelopak mataku.

Kemudian ku buka mata lebar-lebar dengan malas. Ku pikir aku akan menemukan seekor serangga ataupun hewan melata yang sedang bermain-main denganku. Tapi ternyata aku menatap pada sebuah benda berkilauan yang terbang rendah di atas kepalaku. Dengan keadaan dalam kamar yang gelap, cahaya itu membuat indera penglihatanku menjadi perih. Lalu aku refleks menutup kembali mataku.

“Halo.” Sapa sebuah suara.

Aku dibuat kaget dengan kemunculan suara itu, dan saat aku tiba-tiba membuka mata. Dia ada di depan mataku dan tersenyum dengan ramah. Aku sontak berteriak.

“Aaaakk… siapa kamu?” Tanyaku sambil bangun dari tidurku dengan cepat dan merapat pada dinding yang dingin.

Ia tertawa tertahan dan mulai terbang mendekatiku. Tubuhnya hanya berukuran kira-kira sepuluh centimeter. Dengan sayap transparan dan tubuh yang bersinar terang seperti kunang-kunang. Rambutnya berwarna coklat keemasan dan dijalin melingkar dengan sebuah benang berwarna hijau dari ujung sampai pangkal rambutnya yang halus. Pakaian yang ia kenakan pun serasi dengan benang hijau tadi.

“Mau apa kamu?” Tanyaku lagi. Tapi kali ini lebih memaksa.

“Suara hatimu tadi terdengar sampai pohon sana.” Ia menunjuk pohon apel yang tadi ku lihat sebelum aku menutup mata.

“Aku tertarik denganmu. Mau ku bantu wujudkan keinginanmu?” Lanjutnya lagi sambil menanyakan pertanyaan yang aku tidak mengerti.

“Apa? Aku tidak ingin apa-apa. Hidupku sudah berkecukupan.” Jawabku.

Ia kembali tertawa.

“Kamu bohong. Aku tahu apa yang kamu inginkan. Kamu ingin hidup bebas dan memulai semua mimpi yang kamu cita-citakan dulu kan?” Katanya.

Aku berkelit, “mimpi apa?”

Tiba-tiba dalam pikiranku terbentang gambaran sebuah padang rumput nan hijau dengan aku sedang menatap sepasang rusa dan kemudian menuangkannya dalam sebuah kanvas putih.

“Kamu menjawab sendiri pertanyaanmu tadi dalam kepalamu.” Ucapnya.

Aku mematung dan diam seribu bahasa.

“Akan ku berikan kamu sebuah kehidupan baru. Dimana cita-citamu yang sangat kau inginkan menjadi nyata. Bagaimana?” Tawarnya.

“Dan konsekuensinya?”

“Tidak ada sama sekali. Kamu hanya perlu mengucapkan kata setuju, maka seluruh kehidupanmu yang sekarang ini akan berganti menjadi seperti yang kamu inginkan.”

Aku tergoda dengan tawarannya. Hidupku yang sekarang ini begitu membosankan dan membuat jenuh.

“Aku setuju.” Kataku pada akhirnya.

Ia tersenyum dengan ramah kembali sambil berkata, “tidurlah. Maka keajaiban akan terjadi pada saat kamu terbangun nanti.”

Mataku menjadi berat seketika. Pandanganku buram, lalu kemudian aku tenggelam di alam mimpi.

***

“Kakak ayo bangun. Katanya kemarin akan mengajariku melukis.” Celoteh seorang gadis kecil yang sangat mirip dengan adikku yang telah meninggal lima belas tahun yang lalu.

“Kamu siapa?” Tanyaku.

Ia semakin mempererat tarikan tangannya, “kakak ngapain sih. Ini kan Pita, masa lupa sama adik sendiri.”

Dengan tiba-tiba aku langsung memeluknya dan membuatnya meronta-ronta sambil marah.

“Kakak aneh deh hari ini. Ya udah kalau ga mau ajarin Pita. Gak apa-apa.” Ucapnya sambil marah-marah dan keluar dari kamarku dengan berjalan menghentak tanah.

Ternyata benar. Aku bisa memiliki kehidupan sendiri seperti yang  ku mau.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan bulan berganti tahun. Aku mulai merasakan keanehan. Kehidupan yang sempurna ini ku pikir terlalu sempurna seperti sebuah mimpi. Kebahagiaan yang datang bertubi-tubi, rasa kasih sayang yang kini terus ku terima, dan juga kegiatan melukis yang dulu ditentang oleh ayah habis-habisan. Kini malah didukungnya dengan rasa syukur dan bangga.

Aku kembali melamun dalam posisi tidur di bawah pohon apel di depan rumah. Bintang bertaburan menghiasi langit pertanda besok hari akan cerah. Tapi hatiku diliputi oleh awan hujan berwarna abu-abu pekat.

“Apa ini yang aku inginkan?” Sebuah pertanyaan retoris yang ku ucap, keluar dari bibirku.

“Bukankah itu yang kamu inginkan?” Tanya sebuah suara dari balik daun apel yang menjuntai ke bawah.

Aku kembali terkejut dengan kemunculan mahluk mungil itu. Kedatangannya seolah seperti membawa jawaban atas pertanyaanku. Kemudian aku menggeleng lemah.

“Kembalikan aku seperti sebelumnya.” Kataku mengiba.

Mungkin kehidupan yang sebelumnya itu penuh dengan cobaan dan kesulitan. Tapi walau bagaimana pun, itu adalah kehidupan yang telah kupilih dan ku raih pada saat aku menginjak dewasa. Kehidupan di mana semuanya tampak penuh dengan ketidakbahagiaan. Tapi itulah kehidupanku, dan aku akan terus menjalaninya dengan penuh rasa syukur.

***

Aku membuka mataku saat cahaya matahari menyilaukanku dalam tidurku. Aku teringat pada laporan keuangan yang belum ku kerjakan tadi malam. Bukannya aku langsung bangun dan mengerjakannya, aku malah duduk terbengong-bengong dengan peristiwa aneh yang kuanggap sebagai mimpi.

Mungkin aku terlalu lama bekerja dan kurang menikmati hidup, pikirku.

Ku enyahkan pikiran tentang pekerjaan itu jauh-jauh. Sesekali kan boleh mengambil liburan. Ini kan hidupku, aku ingin menikmatinya kali ini dengan cara yang lain.

Protected by Copyscape DMCA Copyright Protection

Ditulis untuk #YUI17Melodies dengan tema It’s My Life

Advertisements

2 thoughts on “#8 Mimpi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s