#7 Tentangmu, Lautku


Aku berdiri di sebuah stasiun kereta bawah tanah yang penuh sesak seorang diri. Menurut tiketku, kereta yang akan membawaku ke sekolah akan datang dalam lima menit. Aku mematut lemas pada lantai tempatku berpijak. Menunggu adalah sesuatu hal yang harus kujalani kini. Biasanya, saat di rumah yang dulu aku langsung mengayuh dengan cepat sepeda roda duaku jika ingin pergi ke suatu tempat. Tanpa ritual menunggu.

Aku mengangkat wajahku. Beberapa wajah yang tidak ku kenal tampak sibuk dengan dunianya masing-masing. Aku seperti dianggap transparan, bahkan tidak ada.

Aku melihat pada tembok stasiun bawah tanah yang kusam dan berwarna kelabu. Ku mainkan imajinasiku sedikit. Warna abu-abu tua pada dinding itu tiba-tiba membiru. Kepakan-kepakan sayap dari umidori1 menambah suasana menjadi riuh. Deburan ombak bersahut-sahutan saat menghantam karang, dan sesekali mencapai pantai. Lalu kemudian membawa serta pasir putih ke tengah laut. Aku biasanya berlarian dengan Suzu mengejar ombak. Kemudian setelah lelah, kami akan tertidur di hamparan pasir putih sambil terus berpegangan tangan.

Tiba-tiba peluit kereta nyaring berbunyi. Gambaran laut Okinawa terhapus dengan cepatnya dari kepalaku. Aku dipaksa kembali menuju dunia asing tempatku saat ini.

“Aku rindu lautku.” Ucapku lirih.

***

“Yuna, ayo bangun. Pesawat kita berangkat dua jam lagi.” Ibu tiba-tiba mengguncang-guncang tubuhku dengan kuat. Aku yang beberapa saat lalu masih tertidur dengan nyenyak, tiba-tiba langsung bangun dengan cepat dan berlari menuju kamar mandi. Ku percepat ritual mandiku dan langsung kembali lagi ke kamar untuk berkemas-kemas.

Sebuah kotak kecil segi empat yang telah dibungkus dengan kertas kado dan sebuah pita berwarna putih yang semalam ku letakkan di atas meja belajarku, langsung ku sambar dan ku masukkan ke dalam ranselku. Di dalam kotak itu terdapat sebuah anting-anting manis hadiah untuk Suzu.

Senyumku semakin terkembang saat mengingat sahabatku itu. Dua minggu yang lalu, saat ibu mengabariku bahwa kami sekeluarga akan mengunjungi nenek di Okinawa sungguh membuatku senang bukan kepalang. Aku dan adikku yang terpaut dua tahun dibawahku langsung loncat-loncat kegirangan. Bunga matahari yang ditanam di depan rumahku pun seakan-akan ikut tersenyum dengan berita itu. Padahal sehari sebelumnya, aku terus merengut karena rindu dengan laut.

Tak terasa tiga jam telah berlalu sejak pesawat yang ku naiki tadi terbang dari Tokyo menuju Okinawa. Dalam perjalanan dari bandara Naha, Okinawa menuju Nago –kampung halamanku- juga tidak memakan waktu lama. Aku jarang sekali mengecek jam tanganku dan terus saja menikmati perjalanan ini, sambil sesekali bernyanyi dengan adikku, Yumi.

Setibanya di Nago. Bukannya beristirahat, aku malah berlari mengambil sepeda roda duaku yang tersimpan di garasi nenek dan langsung menuju rumah Suzu. Ibu yang melihat tingkahku, hanya mendiamkanku saja.

Aku mengayuh sepedaku kuat-kuat dan menikmati semilir angin yang menyusup memasuki sela-sela bajuku. Perasaan rindu itu tiba-tiba menyergap. Padahal aku baru setahun saja pindah ke Tokyo, tapi hati dan pikiranku selalu saja berada di tempat ini.

Tak lama aku sampai di rumah Suzu. Tapi ternyata, Suzu tidak ada di rumah. Sepeda birunya pun tidak terletak di tempat biasa disimpan.

“Ia pasti disana!.” Seruku.

Dengan kecepatan yang sama dengan tadi, aku mengayuh sepedaku menuju laut. Tempat favoritku di muka bumi ini.

Decit rem memekik kuat saat ban bergesekan dengan aspal jalan. Tanpa lama-lama, aku menyimpan sepedaku di tempat biasanya. Sambil menyapa cepat nenek penjual ogura2 di kiosnya, aku berlari mendekati seorang gadis cilik berpakaian kelasi sedang duduk menatap laut dengan sebuah mangkuk kosong ogura disebelahnya.

“Suzu!” Teriakku kuat-kuat.

Gadis itu menoleh dengan cepat. Senyumannya cerah menyambutku. Serasi dengan laut yang ku rindukan sebagai latar belakangnya.

“Kyaa… Yuna!” Ia balas berteriak dan berlari ke arahku.

Kami berpelukan erat dan saling melepas rindu.

Okaeri3, Yuna.” Ucapnya padaku. Aku membalasnya dengan anggukan singkat dan sebuah cengiran lebar. Tak lupa, aku memberikan sebuah kado yang telah kupersiapkan dari Tokyo untuk Suzu.

Kami mengulang kembali kebiasaan kami. Menyantap ogura kesukaan Suzu sambil bercerita tentang ini dan itu tidak ada habisnya. Langit yang tadinya biru, kini mulai memerah. Tapi, tampaknya ceritaku tidak akan habis sampai disini. Selalu ada kisah tentangmu, lautku.

______

1Umidori : seabird atau burung laut

2Ogura : es krim kacang merah

3Okaeri : selamat datang

Protected by Copyscape Online Plagiarism Software

Ditulis untuk proyek #YUI17Melodies dengan tema Sea

Tulisan diatas adalah lanjutan dari flashfiction Sakunen Natsu (Last Summer)

Advertisements

2 thoughts on “#7 Tentangmu, Lautku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s