#6 Kado Ulang Tahun untuk Ibu


Di dalam sebuah halte bus, aku menatap rintikan hujan yang tidak mereda. Beberapa kali aku melirik pada sudut halte bus yang kini penuh dengan banyak orang yang sedang menunggu hujan. Disana tampak seorang gadis kecil, kira-kira berumur tiga belas tahun dengan ibunya. Ku taksir ibunya itu sedang sakit. Di dekatnya ada sekeranjang kue basah yang belum habis dijajakan. Sesekali sang gadis mengusap peluh yang muncul di pelipis ibunya.

Beberapa orang yang berada di halte ini sibuk dengan dunia mereka masing-masing. Ada yang sedang tersenyum-senyum sendiri sambil menatap gadget canggihnya. Ada pula pelajar dengan seragam putih abu-abu asyik bersenda gurau berkelompok. Lalu ada juga seorang eksekutif muda tampak bosan dan tidak nyaman dengan keberadaannya di halte itu.

Aku masih menatap pada sosok gadis itu. Anak lain diseusianya, pasti sekarang masih duduk di bangku sekolah dengan aktivitas yang padat dari pagi sampai sore hari. Sedangkan dia, menemani ibunya yang sedang sakit menjajakan kue basah. Aku tiba-tiba teringat akan ibuku. Tentang bagaimana pengorbanannya membanting tulang membantu ayah memenuhi segala kebutuhan kami.

Hari ini adalah hari ulang tahunnya. Niatku tadi adalah akan membelikan ibu sebuah bros cantik yang waktu itu pernah ditaksirnya saat berjalan-jalan ke pusat pertokoan. Tapi hujan menahanku disini. Dan bus yang ku tunggu dari tadi, tidak kunjung datang. Kemungkinan pada saat cuaca seperti ini, jalanan di ibukota menjadi banjir sehingga terjadi kemacetan di beberapa ruas jalan sehingga menahannya untuk sampai ke halte ini tepat waktu.

Aku berjalan menghampiri gadis itu dan ibunya. Menyenggol sedikit lelaki yang sedang sibuk dengan gadget-nya, dan memotong di tengah-tengah kerumunan pelajar berseragam putih abu-abu sehingga menyebabkan pembicaraan mereka terhenti tiba-tiba. Beberapa diantara mereka ada yang menunjukkan wajah kesal, tapi karena mendengarku meminta maaf. Mereka membatalkan niatnya untuk marah padaku.

“Halo, dik.” Sapaku pada gadis manis itu.

Dengan jarak pandang yang lebih jelas dari yang ku dapat tadi saat memperhatikannya. Tampak ia adalah seorang gadis yang manis dengan bola mata cemerlang kehitaman dan wajah bulat yang semakin membuat sempurna tubuh mungilnya.

Ia melihat ke arahku dan tersenyum manis, “Iya, kak?”

“Berapa harga kue lumpurnya?” Tanyaku padanya.

Ia langsung membuka keranjang jualannya yang tadi tertutup plastik transparan. “Satunya tujuh ratus lima puluh rupiah, kak.” Balasnya.

Ibunya yang sedang beristirahat pada lantai halte itu kini membuka matanya dan tertarik dengan percakapan kami.

“Kalau kakak beli semua, jadi berapa harganya?”

“Kakak mau beli semua? Bener kak?” Tanyanya sambil senyumnya kini terkembang penuh di wajahnya.

“Iya. Berapa? Tadi kakak disuruh ibu membeli kue. Tapi karena hujan mungkin tidak bisa lagi sampai ke toko kue tepat pada waktunya. Padahal sebentar lagi acara di rumah kakak mau dimulai.” Dustaku.

“Sebentar ya, kak. Aku hitung dulu.” Katanya sambil sibuk mencari plastik untuk kue lumpur jualannya. Ibunya yang tadi lesu pun, kini membantunya memasukkan kue itu ke dalam plastik dan menghitungnya.

Mudah-mudahan uangku cukup, kataku dalam hati.

Ia selesai menghitung dan memindahkan semua kue lumpur itu ke plastik, “ini kak. Semuanya ada lima puluh lima kue, seharusnya harganya empat puluh ribu dua ratus lima puluh. Tapi karena kakak membeli semua, aku kasih bonus deh. Jadi empat puluh ribu saja.” Jawabnya sumringah.

Aku menyerahkan selembar uang lima puluh ribuku satu-satunya. Ia sekarang sibuk lagi mencari-cari uang untuk kembalian uang tadi. Saat aku menunggunya, ternyata semua orang di dalam halte itu sedang memperhatikan kegiatan kami. Beberapa bahkan ada yang salah tingkah. Ku pikir, mungkin mereka malu tentang ketidakpekaannya.

“Kakak ini kembaliannya.” Ucapnya sambil menyerahkan uang kembalianku dan juga sekantong penuh kue lumpur.

Ucapannya disambut oleh ibunya juga, “terima kasih juga ya, Nak.”

Aku mengangguk pelan sambil tersenyum pada keduanya. Aku kemudian kembali pada posisiku berdiri tadi. Tapi kali ini saat aku  melewati orang-orang yang ada di halte itu, pandangan mereka tidak lagi semarah tadi.

Aku mengambil payung kuningku dan membukanya perlahan-lahan. Rintikan hujan kini berubah menjadi semakin deras. Aku berjalan cepat-cepat di trotoar itu menuju rumahku yang hanya tinggal beberapa blok lagi dan tidak mengindahkan cipratan air hujan yang membasahi ujung celanaku.

Entah apa yang akan dikatakan oleh ibu saat beliau tahu aku membeli kue sebanyak ini. Tapi mungkin ia akan setuju dengan sikapku jika tahu yang sebenarnya. Tapi sejujurnya, aku melihat gambaran diriku pada gadis kecil itu. Aku akan melakukan apapun demi membantu meringankan beban ibuku.

Tak terasa aku kini sudah berada di depan rumahku. Disana tampak ibuku yang sedang duduk dengan ditemani secangkir kopi hitam menunggu kepulanganku. Aku langsung menghambur ke dalam pelukannya.

“Ibu selamat ulang tahun. Maaf, aku hanya bisa memberikan ini.” Kataku padanya sambil menyerahkan sekantong kue lumpur padanya.

Ia terlihat kaget saat melihat apa yang ada dalam kantong itu. Tapi tidak berkata apa-apa tentangnya.

“Terima kasih sayang, untuk kadonya. Ayo kita makan bersama-sama.” Ucapnya kemudian sambil terus tersenyum dan menggandeng tanganku menuju sebuah kursi plastik di beranda rumahku.

Protected by Copyscape Originality Check

Ditulis untuk proyek #YUI17Melodies dengan tema To Mother

Advertisements

4 thoughts on “#6 Kado Ulang Tahun untuk Ibu

  1. Pingback: [Tema 6] Kado Ulang Tahun untuk Ibu | #YUI17Melodies
  2. Pingback: [Tema 6] Thank You My Mom | #YUI17Melodies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s