#5 Sakunen Natsu (Last Summer)


Aku tidur terlentang pada lantai beranda belakang rumahku. Lantai kayu yang tadinya dingin, kini tiba-tiba menghangat karena disoroti oleh sinar matahari. Setelan kaus oblong dan celana pendek ini masih saja membuatku kegerahan. Aku, Aoki Suzu, 13 tahun. Benci sekali dengan musim panas.

Rumahku terletak di Nago, Perfektur Okinawa. Dan waktu yang kubutuhkan untuk mencapai laut hanya sekitar lima belas menit jika menggunakan sepeda. Jika ada yang bertanya, maka aku akan mengatakan bahwa musim semi adalah musim favoritku di Jepang. Satu-satunya hal yang ku sukai dari musim panas di Okinawa adalah Bon Odori1, dimana aku bisa pulang larut malam dan makan berbagai macam makanan di pasar malam dengan puas.

“Suzu, kita ke pantai yuk.” Seru Yuna datang dari dalam sambil membawa sepiring penuh semangka dingin.

Aku langsung menyambar semangka segar itu dan menjawab ajakannya dengan mulut penuh, “mayas.”

“Ah… ga asik. Ayo dong. Nanti kita beli ogura2 kesukaanmu itu.” Bujuknya lagi.

Bujukannya memang ampuh. Aku membayangkan lelehan es krim itu terasa dingin di mulutku. “Bisa deh, bujukinnya.”

Yuna hanya mengoleskan senyum kemenangan pada bibirnya atas penyerahanku itu. Tak lupa aku berpamitan pada ibuku sambil mengimbangi Yuna yang menarikku sambil berlari menuju pintu depan.

“Okāsan3, aku ke pantai dulu sama Yuna ya.” Teriakku.

Tanpa mendengar balasan dari ibuku, aku menghampiri sepeda yang disenderkan pada dinding rumahku. Aku cepat-cepat mengayuh sepedaku menyusul Yuna yang sudah melaju terlebih dahulu. Tak terasa aku mengayuh sepedaku semakin cepat hanya untuk merasakan terpaan angin menyentuh kulitku.

Kami hampir tiba di pantai. Di beberapa tempat favorit sudah penuh sesak dengan para wisatawan lokal yang menikmati pantai. Tapi kami menuju tempat kami sendiri, daerah yang jarang dipadati wisatawan. Tempat para nelayan melabuhkan sauhnya.

Kami memarkirkan sepeda kami di sebelah kios ogura langganan kami. Yuna yang sudah sangat kenal dengan pemiliknya, langsung memesan dua mangkuk ogura. Kami membawa dan menyantap ogura itu sambil berjalan menuju tepi pantai, sambil terus melemparkan gurauan yang membuat ogura itu terguncang-guncang dengan keras di dalam mulut kami.

Aku langsung duduk bersila di atas pasir pantai yang berkilauan terkena cahaya matahari. Di sebelahku, Yuna ikut duduk bersila juga. Langit biru beremburat merah saat ini terasa begitu hangat. Aku terbuai dengan pemandangan itu dan sedikit melupakan rasa tidak sukaku pada musim panas.

Tetap saja, senja itu waktu yang paling indah. Ucapku dalam hati.

“Suzu.” Tiba-tiba Yuna angkat bicara sambil terus memandang laut yang seakan-akan tidak bertepi itu.

“Aku akan pindah akhir musim panas ini ke Tokyo.” Lanjutnya lagi.

Aku seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja ku dengar, “Eh?! Itu berarti tiga hari lagi dong.”

“Iya.”

“Yuna, jangan pergi.” Rengekku sambil langsung merangkulnya.

Ia memegang erat lengan kiriku, “Ayah dimutasi ke kantor pusat. Tapi aku setiap tahun akan pulang kesini kok. Nenek kan masih disini.” Ucapnya menyemangatiku.

“Aku sengaja mengajakmu kesini untuk mengatakan itu. Aku ingin mengukir kenangan musim panas bersamamu. Dan ini… bukanlah musim panas kita yang terakhir.” Lanjutnya sambil tersenyum dengan manis ke arahku.

Tapi tetap saja, aku menangis keras-keras sambil terus merangkulnya. Hatiku terasa hampa, seolah-olah aku telah kehilangan sahabatku.

***

Aku duduk sambil mengetuk pelan sebuah pensil pada bangku sekolahku. Disaat yang sama, mp3 player-ku mengalunkan lagu Summer Song dari YUI dengan ceria.

“Musim panas telah datang, kita ke laut
Aku tak akan melupakan langit yang bergoreskan pelangi
Hari-hari yang hilang saat aku gundah telah kembali
saat aku bertemu denganmu dan tertawa bersama
Liburan musim panas telah dimulai lan la lan la.”

Hari ini, adalah setahun kemudian dari kejadian itu. Seminggu lagi libur musim panas akan dimulai. Yuna akan datang kembali kesini untuk liburan musim panasnya. Kini… musim panas yang ku benci, berubah menjadi musim panas yang ku nantikan. Aku akan mengukir kenangan indah sebanyak-banyaknya dengan berlatarkan langit biru dan bentangan laut yang senada warnanya dengan langit. Tahun ini dan tahun-tahun setelah ini, bukanlah musim panas terakhir bagi kami.

_________

1Bon Odori: Puncaknya festival musim panas

2Ogura: Es krim kacang merah

3Okāsan: Ibu

*Kutipan lirik diatas adalah terjemahan dari lagu YUI yang berjudul Summer Song.

Protected by Copyscape Duplicate Content Software

Ditulis untuk proyek #YUI17Melodies tema hari ke-5 (Summer Song)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s