#4 Niat


Diatas meja kerjaku berserakan beberapa sampel barang bukti. Mulai dari pecahan kaca, sampel tanah, selonsong peluru, foto korban, foto cipratan darah, dan lainnya. Sudah dua minggu ini kubiarkan meja itu penuh sesak. Padahal rekan kerjaku yang lain sudah mengeluh. Bukan karena aku malas, tapi memang kasus yang ku tangani saat ini belum ditutup.

Namaku, Aidan. Saat ini aku bekerja di departemen kepolisian, divisi kriminologi. Dan sub bagianku adalah forensik. Tidak pernah terpikir bahwa aku akan menjadi seorang kriminolog. Pada saat aku berusia belasan tahun, di kepalaku akan menyuarakan analis keuangan dengan lantang, seperti ayah. Tapi setelah ayah difitnah dengan vonis pembunuhan tingkat satu, arah anginku berubah.

Pikiranku tiba-tiba melayang pada kejadian delapan tahun yang lalu saat aku masih menginjak bangku sekolah. Cemoohan datang bertubi-tubi saat ayahku dijatuhi hukuman  seumur hidup karena tertangkap basah berada di dekat korban saat terakhir kalinya, dan juga karena sidik jarinya ada di senjata yang cocok dengan akibat korban tersebut terbunuh. Aku merasa ada yang janggal dengan kasus ini pun, akhirnya aku banting setir mengambil kuliah ilmu forensik.

“Bapaknya penjahat, masa anaknya jadi polisi.” Sambil tertawa dan mencibir mereka berkata. Itu adalah salah satu cemoohan yang paling membuatku sakit hati. Kadang ada kala rasanya malu dengan label yang dicap oleh mereka. Tapi pada akhirnya, karena aku berpegang teguh pada hatiku bahwa ayah tidak bersalah, aku meneruskan niat awalku.

Hal itu pun terjadi di lingkungan tempat kerjaku sekarang. Mereka tahu dengan niatku yang akan membuka kembali kasus itu, jadi mereka hanya memberikanku banyak pekerjaan remeh untuk membuatku tetap sibuk.

Hanya beberapa orang yang memandangku tidak negatif. Salah satunya adalah Nina. Lucunya… walau kami sekarang tidak bersama lagi. Tapi menyebutkan nama itu sanggup menghantarkan listrik statis keseluruh tubuhku. Kami seolah-olah seperti dua kutub magnet yang saling tarik menarik, tetapi saling menyangkal ketertarikan itu.

Saat itu Nina dengan tegas pada semua orang yang mencemoohku dan membelaku mati-matian, “Lihatlah dia karena hatinya, bukan penampilan luar ataupun latar belakang keluarganya.”

Tidak apa-apa. Baik dulu, sekarang, dan nanti akan sama saja. Semua ucapan negatif itu akan menguap ke udara pada akhirnya, saat aku bisa membuktikan bahwa ayahku tidak bersalah. Semua ada waktu dan takdirnya sendiri-sendiri. Kelak, nanti aku yang akan tersenyum menang.

______________

*ceritanya agak aneh :))

Protected by Copyscape Plagiarism Software

Ditulis untuk proyek #YUI17Melodies, tema hari ke-4

Advertisements

2 thoughts on “#4 Niat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s