#3 Sepucuk Surat dari Rani


Aku memasuki sebuah café. Alasan pertamaku datang kesini adalah untuk bertemu dengan kerabat dari seseorang yang penting di masa lalu. Secara tiba-tiba, sebulan yang lalu ia mengontakku di jejaring sosialku. Ia bilang, ia harus bertemu denganku secepatnya. Sekitar tiga tahun yang lalu aku memang pindah secara tiba-tiba dari kota ini karena ayahku di mutasi ke ibukota. Karena begitu mendadaknya, aku tidak sempat berpamitan padanya. Hanya sebuah ucapan sampai jumpa saja yang kutitipkan melalui temanku dan aku tidak tahu, apakah ucapan itu tersampaikan atau tidak.

Aku mendengar namaku dipanggil dengan ragu-ragu, “Andre?” ucap sumber suara itu.

Dengan refleks aku langsung menoleh. Dari meja yang terletak di sudut café itu, tampak seseorang yang ku kenal. Wajahnya tidak banyak berubah semenjak tiga tahun yang lalu. Hanya saja kini, pakaiannya lebih rapi ala pekerja kantoran.

Aku berjalan cepat menuju meja itu. Sesampainya disana, ia langsung merangkulku sambil menepuk punggungku beberapa kali.

“Apa kabar? Kemana aja nih?” Tanyanya.

Aku menjawab sambil menjabat tangannya, “Baik, kak. Kalau kak Rei gimana kabarnya?”

“Baik… baik. Ayo duduk.”

Aku langsung memposisikan dudukku di depannya. Meja kecil itu sekarang terasa penuh sesak oleh barang-barangku yang belum sempat ku taruh di rumah.

“Ada apa, kak? Kok tiba-tiba mau ketemu sama aku.”

Ia langsung menjawab, “ada yang mau aku kasih, Dre.”

“Apa kak?” Tanyaku lagi.

“Dari Rani.”

Satu nama saja bisa membuatku langsung teringat tentang kenangan saat aku di bangku sekolah menengah atas. Dia adalah teman sekaligus sahabatku, dan juga cinta pertamaku. Dia adalah inspirasiku dan sekaligus objek fotoku. Di salah satu lipatan dompetku masih tersimpan fotonya yang sedang tersenyum menatap langit. Ia suka menulis puisi, sampai suatu kali aku memaksanya untuk menulis sebuah lagu. Dan ternyata hasilnya bagus, percis seperti apa yang ku bayangan.  Aku masih ingat kata-katanya saat itu, “suatu hari aku akan menyanyikan laguku dengan langit sebagai saksinya. Janji ya… nanti saat aku bisa tampil di hadapan banyak orang. Kamu harus mendokumentasikannya”

Janji. Hanya dengan sebuah janji aku mau ikut pindah dengan keluargaku waktu itu. Aku ingin melanjutkan sekolahku di bidang fotografi yang tidak akan bisa tercapai jika aku tetap tinggal di sebuah desa terpencil.

“Dia titip apa emang? Rani-nya mana, kak?”

Ia menyerahkan selembar amplop dengan namaku tertulis dengan tinta hitam diatasnya. Ku buka amplop itu cepat-cepat, lalu segera membacanya dalam hati.

Hallo, Andre.
Bagaimana kabarmu sekarang? Masih ingat tentang aku?
Aku masih memegang janji kita dulu, tentang impian yang kita tuju bersama.
Tahukah kamu? Aku merindukanmu.
Ucapan sampai jumpamu yang dititip pada Pita kupegang sebagai kalimat penghubung agar kita bisa bertemu kembali.
Walau terlambat, aku ingin mengatakan bahwa aku menyayangimu.
Jangan lupakan impian kita.
Raih dan wujudkanlah.

Dari, Rani.


Surat itu begitu singkat tapi buatku itu sangat bermakna. Tiba-tiba pandanganku kabur. Cepat-cepat aku menghapus air mata yang akan jatuh sebelum kak Rei menyadarinya.

“Aku lega. Akhirnya aku bisa menyerahkan surat itu padamu.” Ucap kak Rei.

“Rani berpesan. Terus ingatlah mimpi kalian dan wujudkanlah.” Lanjutnya lagi.

“Memang Rani kemana kak? Kok ga ikut datang kesini.”Desakku.

Ia menghela nafas panjang. Raut wajahnya sedih, tapi seolah-olah pasrah. “Rani meninggal enam bulan yang lalu, Dre. Kanker otak. Dia selama setahun sebelum kematiannya selalu berusaha bertemu denganmu, tapi ia tidak berani. Ia merasa mimpinya saat itu hanyalah tinggal mimpi, tidak bisa menjadi sebuah kenyataan. Ia takut jika bertemu denganmu, kamu akan menghentikan mimpimu juga karena kalian tidak bisa mewujudkannya bersama-sama.”

Aku mendengarkan perkataan kak Rei dengan seksama, tapi tidak cukup bisa untuk membalas.

“Untuk itu ia menulis surat itu. Dimanapun ia berada, yakinlah… ia selalu mendukungmu.”

Aku mengangguk pelan. Ucapan sampai jumpa yang kutitipkan itu kini membayangiku. Seharusnya aku dulu berpamitan dengannya.

Rani, baik dulu ataupun sekarang. Aku akan berusaha mewujudkan impianku. Demi kamu. Niatku dalam hati.

Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool

Ditulis untuk proyek #YUI17Melodies dengan tema My Friend

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s