#2 Lembaran Kisah


Aku berjalan dengan langkah gontai menuju halte bus di dekat kampusnya. Hari ini aktivitasnya sangat padat, sampai waktu makan siang pun ia lewati dengan mengerjakan tugas kuliahnya. Langit kelabu menggantung di batas cakrawala dan sesekali angin menghembuskan hawa dingin menerpa kulitku.

Aku teringat kejadian dua tahun yang lalu. Kejadian di halte bus itu, dan suasananya mirip dengan saat ini. Seakan-akan, dunia sekitar terperangkap dalam sebuah foto hitam putih masa lalu yang membawa kenangan.

Rintik hujan mulai turun. Aku mempercepat jalan ku menuju halte bus itu. Lalu aku merasakan dejavu lagi saat secara tidak sengaja bukuku jatuh berserakan di lantai halte bus yang kotor dan berdebu. Aku langsung memungut buku-buku yang berserakan itu.

Pada saat akan mengambil buku terakhir, sebuah tangan mendahuluiku menggapainnya. Aku langsung berdiri dan mengucapkan terima kasih dengan cepat. Tapi ucapan itu langsung menguap begitu aku melihat wajahnya. Ia tidak berubah banyak selama dua tahun ini. Sosoknya tetap sesuai dengan memori yang terpatri dalam ingatanku selama ini.

“Apa kabar, Dilla.” Sapanya.

“Baik.” Jawabku singkat.

Kami duduk dengan kaku pada bangku halte itu, sambil saling menundukkan kepala. Debaran hatiku begitu kencangnya sehingga aku takut kalau-kalau ia bisa mendengarnya.

“Kamu masih sama seperti saat aku melihatmu dua tahun yang lalu.” Ucapnya tiba-tiba setelah obrolan kami tadi berjeda.

Aku tersenyum ke arahnya. “Kamu juga masih tetap sama, Fadly.”

“Masih pacaran sama…”

“Engga.” Katanya memotong ucapanku.

“Dua tahun yang lalu aku ikut program pertukaran pelajar ke Jepang. Maaf ga bisa pamitan dulu sama kamu. Dan sejujurnya, aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Lena.” Lanjutnya lagi.

Dia selalu bisa mencairkan suasana. Ia menceritakan tentang studinya tersebut, juga tentang petualangan kecilnya mengunjungi daerah-daerah di Jepang pada saat akhit pekan. Sesekali ia pun menanyakan kabarku dan kegiatanku selama ini. Tak terasa perbincangan itu kini menjadi begitu seru. Tawa berderai pun menyisipi. Beberapa bus telah berlalu, tapi bahkan aku dan Fadly sama sekali tidak beranjang. Kami terlalu lama telah dipisahkan oleh waktu.

“Eh iya, aku masih tetap suka sama kamu loh.” Ucapnya sambil tertawa.

Deg! Debaran itu kembali datang. Padahal aku telah berusaha menghilangkan rasa itu, tapi ternyata ia masih ada di sudut kecil hatiku. Menunggu saatnya untuk kembali muncul ke permukaan, lalu mengguncangkan hatiku kembali.

Ia menyadari aku hanya diam dan tidak merespon pernyataannya. “Kalau kamu bagaimana?”

Aku menutup kedua mataku sambil menghembuskan nafas, “Dulu atau sekarang itu gak ada bedanya, Ly. Aku masih tetap sayang kamu.” Kataku akhirnya.

Aku melirik dengan pelan padanya. Bukannya ia membalas tatapanku, ia malah tersenyum menatap awan kelabu itu sambil berkata, “Kita mulai lagi yuk dari awal.”

“Mau kan?” Katanya kemudian dan akhirnya ia menatapku dengan lembut.

Aku hanya menjawab dengan sebuah anggukan singkat. Pertemuan kami pertama saat dua tahun lalu adalah di halte bus ini. Dan dua tahun kemudian, halte bus ini tetap menjadi saksi lembaran kisah kami lagi. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Tapi saat ini, aku menikmati setiap takdir yang Tuhan berikan padaku. Dengan dirinya…

Protected by Copyscape Duplicate Content Finder

Flash fiction sesuai tema judul lagu YUI untuk #YUI17Melodies

Advertisements

6 thoughts on “#2 Lembaran Kisah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s