#1 Seberkas Cahaya Impian


Aku kembali menyusuri jalan di kotaku sendirian. Beberapa sudut kota masih tampak ramai dengan bermacam aktivitas walaupun malam kian larut. Aktivitas ini sering kulakukan jika aku sedang berpikir. Jika harus setiap waktu berada di rumah rasanya penat sekali kepala ini.

Ada beberapa pengamen jalanan yang masih meneruskan aktivitas mengamennya. Suara mereka ada beberapa yang bagus ada pula yang fals. Mungkin langkah itu mereka ambil sebagai pencapaian awal menuju impiannya dengan mengambil jalanan sebagai panggung penampilan live-nya.

Jika ada yang bertanya mengenai impianku kini, rasanya aku tidak bisa seyakin dulu saat menjawab setiap pertanyaan mereka. Bukan karena aku menyerah, bukan juga karena aku tidak berusaha. Tapi, sedikit banyaknya karena orang tuaku menentangnya. Terutama ibu.

Ia ingin aku melanjutkan pendidikan di bidang hukum sepertinya, alih-alih aku menjadi seorang pelukis yang tidak jelas dengan penghasilanku kelak. Orang tua dimana-mana memang sama saja, ingin anaknya berhasil tanpa tahu apa yang paling membuat mereka bahagia. Kata temanku, Hanna, saat aku mengatakan padanya tentang ego ibuku yang bersikukuh anaknya tidak boleh menjadi seorang seniman.

Tiba-tiba angin berhembus kencang menerbangkan debu-debu dan sampah di jalanan itu. Dengan refleks aku menutup kedua mataku dengan telapak tangan. Saat aku membuka mataku dan menatap tanah tempatku berpijak, tak sengaja aku melihat sebuah pamflet usang tentang sebuah lomba desain yang diselenggarakan oleh salah satu universitas negeri ternama di kotaku. Tanpa berpikir aku memungut

pamflet tersebut. Sedikit tertarik dengan perlombaan itu, tapi kemudian kuurungan kembali niatku saat aku teringat tentang ibuku. Tapi entah mengapa, aku tidak ingin membuangnya. Jadi kumasukkan saja kertas kumal itu ke dalam kantong celanaku.

Setibanya di rumah aku langsung menuju kamarku. Setelah dibaca ulang, ternyata hari ini adalah deadline lomba tersebut.

“Ikut gak ya…”

Kebetulan salah satu ilustrasiku sesuai dengan tema yang panitia inginkan. Tapi tetap saja aku belum yakin dengan keputusanku. Aku tersadar dari lamunanku saat suara nyaring ibuku terdengar dari lantai bawah.

“Cilla, makan malam dulu.”

Aku langsung membalas panggilannya, “iya, bu.”

Dengan segera aku turun ke lantai bawah dan menyelesaikan sesi makan malam dengan cepat. Setelah itu aku langsung naik kembali ke kamarku dan bersiap-siap untuk tidur. Tapi pamflet di atas nakas itu seakan-akan memanggilku untuk membacanya kembali.

“Ah… kirim aja deh. Paling juga engga menang.”

Dengan cepat aku menyalakan komputer jinjingku dan langsung membuka email melalui perambah. Tak perlu ditunggu lama, email itu telah terkirim beserta satu buah ilustrasiku.

***

Beberapa minggu berselang setelah hari itu. Aku sedang berada di kamar dengan santai sambil bersenandung lagu yang diputar oleh CD player-ku. Matahari bersinar dengan cerahnya pada pagi itu. Ini merupakan hari libur yang tepat untuk keluar dan berjalan-jalan. Tapi aku memutuskan akan tinggal saja di rumah sambil mengerjakan soal-soal tes ujian masuk perguruan tinggi.

Tiba-tiba ponselku berbunyi dengan nyaring. Dengan cepat aku mengangkatnya.

“Halo.”

“Halo, Cilla. Kami dari panitia lomba kreasi desain se-kota Bogor mau memberitahu. Ilustrasi kamu telah lolos seleksi akhir dan menjadi juara pertama untuk selanjutnya mendapat kesempatan menjadi mahasiswa baru desain di universitas kami.” Ucap sebuah suara diujung sana.

Aku tertegun sesaat ketika mendengar penjelasan seorang wanita bersuara cantik dari ponselku, sebelum akhirnya aku mengucapkan terima kasih dan menutup sambungan itu. Ia juga bilang, bahwa paling lambat dua minggu untuk proses pengurusan semua berkas mahasiswa baru.

Ibu. Pikiranku langsung melayang padanya. Bagaimana cara aku memberitahunya. Aku sama sekali tidak menyangka bahwa ilustrasiku bisa lolos, bahkan mendapatkan juara pertama.

Pergi menuju tempat cahaya bersinar terang,
Dan meraih tangan itu dengan kuat,
Tempat itu, waktu itu, semuanya begitu mirip,
Aku dapat mengubah hidupku,
Namun aku tak dapat mengungkapkan segala isi hatiku padamu.

Lamat-lamat lagu Life dari YUI terdengar menyemangatiku. Itu adalah jalan menuju mimpiku. bagaimanapun aku tidak akan lari lagi sekarang, akan ku ambil kesempatan ini. Walaupun mungkin ibu akan menentangnya. Yakinku dalam hati.

Setelah melalui semua hari-hari yang panjang,
Inilah diriku yang sekarang,
Semenjak segala sesuatu menjadi sulit, begitulah mengapa aku tetap hidup.

Matahari di pagi ini terasa sangat menyilaukan. Kemilau cahayanya seolah-olah menerangi jalan mimpi yang kini terbentang luas dan menjadi nyata. Hidupku, akan dimulai lagi sejak saat ini.

 Protected by Copyscape Original Content Check

Kutipan lirik lagu diatas diambil dari lagu YUI yang berjudul Life.

Cerita pendek diatas dibuat untuk proyek #YUI17Melodies

Advertisements

8 thoughts on “#1 Seberkas Cahaya Impian

  1. kak tamm.. itu kayak nya ada sedikit kesalahan dalam terjemahan..
    bukan “Aku tidak dapat mengubah hidupku” tapi “Aku dapat mengubah hidupku”

    dalam lagu kan liriknya, I can change my life~ hehe :3

    btw,, ceritanya bagus :3

  2. Pingback: [Tema 1] Seberkas Cahaya Impian | #YUI17Melodies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s