Komitmen


Masih terngiang di dalam kepalaku kejadian sore hari kemarin. Aku dikejutkan oleh kedua orang tuaku dengan berita tentang pertunanganku. Pada saat itu aku baru saja tiba dari aktivitas pekerjaanku sehari-hari. Masih ku ingat bagaimana suasana kala itu. Angin kencang berhembus saat langit sedang menangis. Ditambah dengan raungan petir memecah keramaian ibu kota. Kedua raut wajah orang tuaku begitu serius saat akan menyampaikan berita itu.

Aku duduk memandang layar ponselku terpaku, terkadang aku dengar angin berbisik di telingaku dan perlahan membelai lembut kulitku.

“Apakah aku ini terlihat seperti perjaka tua sampai-sampai orang tuaku menjodohkanku? Aku bukan seutuhnya pria lajang!” aku menggerutu. Perlahan kubuka gallery ponselku, hanya untuk sekedar memandang foto seseorang yang mungkin akan terluka mendengar kabar ini.

Pada foto itu, kami saling memasang wajah dengan saling tersenyum bahagia. Salah satu tangannya merangkul tubuhku dengan mesra. Tanpa sadar aku ikut tersenyum hanya dengan melihat foto tersebut.

Ku cari nomor kontaknya, dan kutuliskan sebaris pesan pendek. “Hari ini bisa ketemu?”

Tak lama kemudian pesan itu terkirim padanya. Aku kembali menghela nafas, memikirkan tentang hal yang membuatku kesal itu.

“Tentu saja! Setiap waktu kamu bisa menemuiku, sayang.” jantungku mulai berdebar. Yang terlintas di benakku hanyalah bagaimana sikapnya mendengar berita ini nanti. Apakah dia akan merelakanku menikah dengan wanita pilihan orang tuaku? Entahlah.

Sedikit bernostalgia aku membaca pesan singkatnya yang sudah lama tersimpan di ponselku. Seketika dilema menjelma bak kerak yang tak lepas dari tuannya, aku gusar membaca pesannya dulu, tentang sebuah komitmen yang aku dan dia telah bangun selama ini.

Sebuah komitmen yang kemungkinan besar akan ditentang oleh keluargaku dan keluarganya. Aku kembali mengirimkan pesan balasan padanya, “Sebentar lagi aku akan sampai di rumahmu.”

Aku langsung menyambar sebuah jaket dan langsung pergi menuju mobilku. Di ruang tamu aku sempat berpapasan dengan ayahku yang sedang membaca sebuah koran dengan tekun. Ia sama sekali tidak melihat ke arahku, apalagi menanyakan kemana aku akan pergi.

Baguslah. Lebih baik ia tidak tahu. Pikirku dalam hati.

Langit senja kini mulai mengabu sebelum nanti akan hitam sepenuhnya menjadi malam. Aku mulai memasuki mobilku yang ku parkir di depan rumah. Persendian hati mengilu ketika terlantun lagu dari tape mobilku membawaku ke dalam kenangan saat membangun komitmen bersamanya dulu.

Love, come, light up the shadows. Let the beauty of you enter in.

Terlantun lembut suara Sarah McLachlan dengan lagu Love Come. Hatiku meringis nyaris menangis, terngiang namanya dalam lagu itu. Aku terlalu mencintainya, tapi orang tuaku tak pernah tahu akan hal itu.

Tanpa pikir panjang aku melaju mobilku, menuju tempat dimana dia menungguku. Aku tahu bagaimana sakitnya menunggu, maka dari itu aku tak pernah ingin membuatnya terlalu lama menunggu. Beruntung jalanan yang ku lewati menuju rumahnya lengang dan lancar. Sehingga tidak perlu waktu yang lama bagiku untuk sampai di rumahnya.

Aku keluar dari mobil dengan cepat. Tanpa mengetuk terlebih dahulu, aku langsung memasuki rumahnya dengan berbekal sebuah kunci yang ia berikan padaku. Ia ternyata menyadari kedatanganku. Ia langsung berdiri dari duduknya saat aku menghampirinya. Senyumnya sumringah, tangannya terlentang lebar meminta tubuhku untuk mengisinya. Ku sambut tawaran itu, aku memeluknya dengan sangat erat.

Tidak terhitung waktu yang ku lalui tanpa bisa bertemu dengannya dikarenakan oleh banyaknya pekerjaanku. Rasa rindu itu menyeruak hadir di udara ketika aku merengkuh tubuhnya.

“Kangen.” Rintihnya. Tak sungkan aku mencumbunya, membelai penuh kasih setiap jengkal dari tubuhnya.

“Kenapa, sayang? Ada hal penting yang ingin kamu sampaikan?” Lanjutnya dengan nada suara yang memanja. Pertanyaannya kembali membuatku gusar, udara berubah menyesakkan. Aku melepas pelukanku di tubuhnya, dan menghentikan sejenak cumbuanku yang membuatnya bertanya-tanya.

“Apa yang harus aku katakan?!” teriakku dalam hati. Mataku memandangnya, matanya merayu memandangku. Tapi tak bergairah aku kala itu, beban berat bergelayut di hatiku.

Aku menarik tangannya bersamaku. Ku pandu dia menuju sebuah sofa panjang di dekat jendela rumahnya. Ia menyadari keanehanku, tapi belum mengatakan sepatah kata apapun. Aku menyiapkan diri dengan menarik nafas panjang.

“Aku dijodohkan dengan wanita pilihan kedua orang tuaku.” Kataku akhirnya.

Ia diam membisu, seperti sedang mencerna dan mengulang setiap katanya dalam hati.

Aku menjadi khawatir karena ia terus diam dan mematung. “Kamu kenapa? Kok diam terus?” Tanyaku padanya.

Akhirnya ia bergerak, lalu menundukkan kepala dan berpaling ke arah lain tidak mau saling bertatapan denganku. “Aku sudah tahu akan seperti ini jadinya.” Jawabnya dingin.

“Honey, kamu rela? Bukankah ini untuk kebaikan kita berdua juga? Komitmen kita untuk selalu setia apa mungkin mendapatkan restu dari orang tuamu atau orang tuaku?” Ucapku di balik punggungnya. Lalu perlahan kupeluk tubuhnya dari arah belakang.

“Kebaikan kita?! Komitmen kita? Semuanya omong kosong!!” Seperti dirasuki setan dia begitu kesal. Aku membiarkannya pergi saat itu, kupikir dia ke toilet, tapi ternyata tidak! Dia kembali dengan membawa pisau di genggamannya. Mulutnya merancau memakiku! Aku hanya diam dan berusaha memberikan ketenangan untuknya.

“Honey, letakkan pisau itu. Mari kita bicara saja disini.” Bujukku.

Tapi ia tidak terbujuk. Ia malah semakin liar dengan mengacung-acungkan ujung pisau yang tajam itu ke arahku. Aku melangkah mundur dan bersandar pada sudut dinding, tidak bisa kemana-mana lagi.

“Janjimu kita akan selalu bersama. Janjimu kita akan menghabiskan waktu berdua sampai akhir hayat menjemput. Tapi apa sekarang?” Teriaknya.

Dengan refleks aku mengangkat kedua tanganku sebagai perisai sambil mencari sebuah cara untuk menjauhkan benda tajam itu di luar jangkauannya.

“Tunggu dulu. Aku juga belum setuju dengan perjodohan itu, malah aku berniat membatalkannya.” Ucapku tenang dengan penuh bujukkan.

Air mata mulai turun membasahi pipinya. Ia berkali-kali menggelengkan kepala. Aku tidak mengerti dengan perilakunya. Ia seperti sedang berdialog dengan dirinya sendiri.

Tiba-tiba gelengan itu terhenti. Ia menatap tajam ke arahku sambil tersenyum sekilas. Wajahnya berubah menjadi seseorang yang tidak aku kenal selama ini. Kilatan pisau itu seketika membutakanku saat cahaya lampu neon memantulkannya ke arah mataku.

Sedetik kemudian ia telah berada di depan tubuhku dengan rapat dan dengan pisau menancap pada ulu hati. Rasa sakit itu belum datang saat itu. Baru pada saat ia mencabut pisaunya dan membiarkanku tergeletak dengan tidak berdaya di lantai, rasa sakit itu menyerang.

“Kenapa kau berbuat begini?” Tanyaku sambil menyentuh luka itu.

Ia membalas dengan tatapan tajam, “aku tidak rela jika kamu sampai harus menikah dengan wanita itu.”

“Tapi tidak begini. Sudah aku bilang aku akan membatalkannya.”

“Aku akan menyusulmu.” Ia memotong ucapanku.

“Aku pun tidak bisa hidup di dunia ini jika tanpa dirimu.” Lanjutnya kemudian.

Jangan. Tolong jangan lakukan hal bodoh. Teriakku dalam hati.

Ia mengacungkan pisau dan menggenggamnya dengan erat oleh kedua belah tangan. Wajahnya kembali melembut dan tersenyum dengan pancaran cinta kepadaku. Lalu kejadian selanjutnya adalah saat dimana ia mulai menusukkan pisau tersebut dengan sekuat tenaga pada tubuhnya.

Kaus putih yang tadi dikenakannya kini memerah oleh darah. Ia kemudian mencabut kembali pisau itu dan meraihku. Pada akhirnya memang aku sadar selama ini aku menjalani hubungan yang salah. Aku lelaki, dan diapun begitu. Aku terjelembab dan terjebak dalam kubangan cinta yang salah.

“Sayang, aku ingin jadi wanitamu di kehidupan kedua kita setelah ini.” ucapnya, ucap lekaki itu, kekasihku, pelan dalam rasa sakitnya.

“Dan… aku tetap ingin jadi lelakimu di kehidupan kedua kita setelah ini, karena aku terlalu mencintaimu.” ucapku, lelakinya, kekasihnya, pelan dalam rasa sakit lalu perlahan mati dalam keadaan konyol.

Protected by Copyscape Unique Content Checker

Kolaborasi bersama @misterkur untuk proyek #20HariNulisDuet

Advertisements

2 thoughts on “Komitmen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s