Changing Hearts


Aku berjalan menyusuri sebuah jalan setapak. Jalan itu menghubungkan lingkungan rumahku dengan sebuah taman di kotaku. Suasana pagi ini cerah berawan, sambil sesekali terdengar kicauan burung sebagai melodi penghantar semangat menjadi latar suara. Beberapa muda-mudi yang berada tak jauh dariku sedang asyik mengobrol dan diselingi dengan tawa riuh yang ikut menyemarakkan pagi ini.

“Mbak Lintang, mau kemana? Kok sendirian?” Tanya nenek penjual gorengan di sudut jalan.

Nenek itu sudah aku kenal sejak aku masih di bangku sekolah dasar. Jadi kira-kira, sudah sekitar sepuluh tahun kami saling mengenal.

“Mau ke taman, Nek. Cari angin.” Jawabku.

Nenek itu terkekeh, “Lah mbak, kok cari angin. Nanti masuk angin loh.”

Aku hanya tersenyum membalasnya dan kemudian melanjutkan langkahku. Aku berjalan sambil mengedarkan pandangan ke seluruh taman, mengamati sekitar. Mataku menangkap seseorang yang sedang ngobrol akrab dengan temannya. Cantik, bersih. Siapa gerangan yang sedang bersama Afif itu? Pandanganku hanya tertuju pada mereka.

Afif, laki-laki yang tiga bulan lalu menyatakan perasaanya padaku itu sedang bersama perempuan yang tak ku kenal. Apakah sekarang perasaannya sudah berubah?

Permintaanya untuk menjadi pacarku itu tak ku terima. Bukan karena dia tak tampan, atau tak menarik. Hanya saja, aku tak tertarik untuk menjalin hubungan seperti itu. Lebih baik berteman saja, kalau benar-benar serius ya langsung melamar.

Kata-kata itu terus terngiang-ngiang di telingaku sejak saat aku mengatakannya pada Afif. Dia hanya diam tanpa membalas satu katapun dariku sejak saat itu. Intensitas pesan yang sering dikirimkannya padaku pun, menurun drastis. Baru kali ini aku melihatnya kembali sejak saat itu.

Ku posisikan diriku berseberangan dengan mereka. Dari jarak ini, kemungkinan ia menyadari keberadaanku itu besar. Betul saja. Matanya langsung tertuju ke arahku. Aku tersenyum padanya, tetapi ia hanya diam tanpa membalas senyumanku. Aku berusaha bersikap normal, seperti tidak pernah terjadi apa-apa diantar kami. aku berjalan menghampiri, lalu kemudian menyapanya.

“Hai Fif, apa kabar?” Sapaku.
“Baik. Kamu?” tanyanya hambar.
“Yah, beginilah.” Sambil melempar senyum kepada perempuan di samping Afif yang sebelumnya tersenyum manis kepadaku.

Menyadari kami saling bertukar senyum, Afif memperkenalkan perempuan tersebut kepadaku. “Ini Laili, rekan kerjaku yang baru. Laili, ini Lintang. Teman waktu kecil dulu.”
Laili kemudian mengulurkan tangannya. Kami saling mengucapkan nama masing-masing.

Teman waktu kecil dulu katanya. Padahal tiga bulan lalu itu tidak terlalu lama. Kami juga akrab dan sering menghabiskan waktu bersama. Tapi, ternyata sekarang statusku telah berubah. Kenyataan itu menamparku dengan keras. Kekhawatiranku tentang perubahan hatinya kini menjadi nyata. Ia menjadi sebuah sosok asing yang tidak bisa ku kenali lagi.

“Ya sudah, kalian lanjut aja ngobrolnya.” Kataku kemudian.

Aku berjalan menjauhi mereka, kembali pada bangku tamanku. Tapi disana ternyata sudah ditempati oleh orang lain. Dengan terpaksa aku melangkah pergi meninggalkan taman itu. Meninggalkan kenangan tentang Afif jauh-jauh.

Protected by Copyscape Plagiarism Detection

Tulisan kolaborasi saya bersama @aiiyuum

Advertisements

3 thoughts on “Changing Hearts

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s