Antara Hitam dan Putih


“Ayo kita main catur. Siapapun yang menang pada permainan kali ini boleh memeluk untuk mengenyahkan dingin yang menguar di sekeliling kita.” katamu.

Aku tersenyum kecil lalu mengambil papan catur yang terletak di sudut kamar. Mengatur bidak-bidaknya sedemikian rupa, lalu mulai menunggu pergerakanmu. Hening. Kubiarkan kamu bermain dalam pikiranmu untuk menimbang-nimbang langkah mana yang harus kau ambil.

Kamu menggerakkan jarimu pada sebuah bidak dan menempatkannya dua petak di depan posisinya semula. Permainan dimulai. Kamu tersenyum sekilas sebagai tanda selesai dan selanjutnya giliranku untuk main. Permainan catur ini telah kita mainkan berpuluh-puluh kali dalam seminggu ini, dan kamu masih belum bosan juga. Kadang penanda waktu menjadi terabaikan oleh permainan kita karena kita begitu larut dalam dunia kita sendiri.

Aku menggerakan sebuah bidak juga. Berharap itu bisa menghentikan pergerakanmu. “Gantian.” kataku

Kau tidak bersuara sambil mengerutkan kening. Berkonsentrasi karena langkah yang ku ambil mengejutkanmu. Ruang gerak bidak caturmu semakin sempit. Aku menggigit bibirku, menyipitkan mata, dan memandangi wajahmu yang diliputi cemas. Cantik sekali wajah sahabatku ini bila sedang berkonsentrasi.

Tiba-tiba secercah sinar muncul di kedua bola matamu yang bening. Kau mengangkat bidak catur yang berada di ujung paling kanan dengan mantap tanpa bersuara.

CTAK.

Kini permainan berbalik. Aku yang mati langkah. “Jalan.” katamu pelan-pelan dengan nada penuh kemenangan.

Aku mulai menggigiti kuku jariku. Aku sebal jika kamu mulai menguasai keadaan dan membuatku tidak berkutik. Aku menggeser posisi rajaku sehingga tersembunyi dari bidak caturmu. Berharap bisa memperpanjang nyawanya.

Aku kemudian berbisik pelan, “sudah.”

Kamu dengan percaya diri langsung mengarahkan bidakmu kembali mengincar pemimpin bidakku, “skak mat.” Katamu dengan senyum kemenangan terkembang.

Aku menatap nanar pada deretan bidak itu. Warna hitam dan putih papan catur mulai mengganggu konsentrasiku. Lagi-lagi kamu menang. Bermain catur harus pandai-pandai membuat mental lawan jatuh, harus pandai menggunakan kesempatan.

Tapi tidak apa-apa, selagi hukumannya tidak merugikanku, aku rela harus kalah terus menerus darimu. “Ayo tepati janjimu di awal permainan tadi.” kataku.

Kamu tertawa, lalu membuka tangan lebar-lebar. Astaga, aku selalu menyukai pelukanmu yang hangat, sehangat pelukan ibu, sehangat matahari pagi.

Aku membuang bidak-bidak catur yang masih berdiri tegak di papan lalu bergerak mendekatimu dengan senyum lebar.

Tiba-tiba gerakanku berhenti sebelum sempat menenggelamkan diri dalam pelukanmu. Rasanya kosong, dingin, sepi, dan getir. Hampa sekali. Bayanganmu tiba-tiba menghilang, padahal jelas-jelas kamu tadi berada dalam jarak pandangku. Aku mencarimu dengan panik, siapa tahu kamu bersembunyi dengan cepat dalam satu kedipan mata.

Secangkir teh yang tadi ku letakkan di sebelah papan caturpun sama sekali belum kamu sentuh. Airnya masih tetap penuh seperti saat aku menuangnya.

Aku berjalan cepat menuju ruangan lain di rumahku. Bergegas menghampiri ibuku.

“Apa ibu melihat temanku? Dia sudah pulang ya?” Kataku cepat-cepat dengan tidak sabar.

Ibuku menangis sambil merengkuh dan mengelus kepalaku. Membuatku semakin diliputi tanda tanya. Kenapa ibu menangis? Apa yang membuatnya sedih? Aku benar-benar tidak mengerti.

Satu lagi pertanyaan besar yang meminta untuk segera dijawab. Kemana sahabatku? Mengapa dia pergi secepat kilat, seperti angin yang berhembus lalu menghilang ke wilayah lain?

“Tampaknya Ibu harus memasukanmu ke ruang isolasi. Sudah sebulan ini kamu terus berbicara menghadap tembok dan memainkan bidak catur seorang diri.” Ujar Ibu di sela-sela tangisnya.

“Aku tidak mengerti dengan apa yang sedang ibu bicarakan. Ruang isolasi? Ada apa denganku? Setidaknya sahabatku itu nyata, dan aku ingin ia kembali sekarang.”

Ibu semakin memelukku dengan erat. “Sayang, “Tidak ada orang lain. Tidak ada siapapun. Kamu bermain dengan bayanganmu di tembok.”

Protected by Copyscape Web Copyright Protection

Kolaborasi bersama @punyatari untuk proyek #20HariNulisDuet

Advertisements

2 thoughts on “Antara Hitam dan Putih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s