Pertukaran


Lelaki itu melanjutkan kembali menyamak tikar. Sesekali disela-sela kegiatannya terdengar suara batuk ibunya yang telah renta dari dalam bilik kamar tidurnya. Udara dingin memperburuk keadaannya. Ia mengecek kembali keadaan ibunya di bilik itu, memberikan makanan dan obat yang semakin lama semakin menipis.

Suara kokok ayam terdengar dari jauh bersahut-sahutan dengan suara batuk. Fajar telah menyingsing menggoreskan warna-warni indah pada langit. Lelaki itu kini akan memulai aktivitas paginya, mencari kayu bakar.

“Ibu, aku pergi dulu ya. Kalau mau minum air hangat, sudah aku sediakan dalam termos di nakas.” Katanya dengan penuh hormat pada ibunya.

“Iya, Rul. Hati-hati ya. Cepat pulang.” Balas ibunya sambil terus batuk.

Bergegaslah lelaki itu berangkat menuju hutan. Ia berjalan dengan langkah cepat melewati jalan setapak yang selalu ia lalui setiap hari. Suasana di dalam hutan masih gelap. Sinar matahari belum bisa menyentuh daerah tersebut.

Tiba-tiba ia mendengar langkah berat seekor beruang berjalan mendekatinya. Ia menghentikan langkahnya dengan tiba-tiba dan berlindung di balik sebatang pohon besar. Tetapi terlambat, beruang itu tahu akan keberadaannya. Langkah beruang itu semakin dekat padanya. Karena panik, ia langsung melesat lari tanpa arah sehingga ia tidak sadar telah memasuki daerah yang tidak dikenalnya. Jantungnya terpompa dengan sangat cepat, peluhnya bercucuran deras, dan pikirannya berlari-lari tidak menentu.

Ia salah melangkah. Alih-alih sebuah pijakan yang ia jejak, ternyata itu adalah sebuah lubang besar pada tanah. Ia jatuh dengan sangat keras. Kepalanya terbentur sebuah batu besar, kesadarannya menipis.

Pada saat setengah sadar, ia melihat cahaya perlahan-lahan turun dari langit. Tampak seorang wanita perlahan-lahan turun ke dalam lubang itu dan memandang iba padanya.

“Waktumu tidak banyak lagi, Ruli.” Ucapnya singkat.

Lelaki itu sama sekali tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh wanita itu. Ia hanya diam dan memandang kosong pada sosoknya.

“Aku akan memberikanmu sesuatu. Sebuah kesempatan kedua untuk hidupmu. Tapi semua itu tidak gratis.” Lanjutnya kemudian.

“Apa?” Tanya lelaki itu dengan suara parau.

Wanita itu menggenggam sesuatu di tangannya. Tampak seperti makanan, tapi ia belum pernah melihatnya. Ia pun bisa mencium harum wanginya.

“Aku akan memberikanmu ambrosia. Makanan kehidupan. Nyawamu akan diperpanjang setelah kau memakan ini, dan lukamu akan pulih seperti sedia kala sebelum kau terjatuh dalam lubang ini.”

“Tolong berikanlah.” Pinta lelaki itu mengiba.

“Tapi kau harus menyetujui persyaratannya.”

Lelaki itu tidak sabar, “apa? Ayo cepat berikan.”

“Aku akan mengambil nyawa manusia lain sebagai gantinya.”

Lelaki itu berpikir sejenak. Di dunia ini, kematian datang setiap harinya dan tidak bisa terelakkan. Seseorang bisa saja mati menggantikan dirinya. Itu bukan masalah besar baginya.

“Aku setuju. Cepat berikan.”

Wanita itu tersenyum lalu memberikan ambrosia itu kepada lelaki itu. Dengan sekali telan lelaki itu berhasil menghabiskannya. Ia lalu tertidur.

Tak lama berselang, lelaki itu terbangun dengan kaget. Menerka-nerka mimpi yang baru saja dialaminya. Matahari sudah mencapai puncaknya. Ia langsung bergegas pulang. Setibanya di rumah ia langsung menghampiri ibunya dan hendak menceritakan pengalamannya. Tetapi, betapa terkejutnya dia. Ternyata ibunya hanya diam dan telah tak bernyawa.

Ia lalu teringat kepada perkataan wanita tadi yang akan menukar pemberiannya dengan nyawa orang lain. Ia menyesali perbuatannya dan menangis di hadapan mayat ibunya. Tetapi, nasi sudah menjadi bubur. Penyesalannya tidak bisa membawa ibunya kembali hidup.

***

Aku memandang dua sosok manusia itu dengan perasaan sedikit iba. Yang satu adalah manusia yang lolos dari mautnya, sedangkan yang satu lagi adalah manusia yang telah ditukar nyawanya. Sungguh egois manusia itu, hanya mementingkan kepentingan dirinya semata. Aku memalingkan wajah dan akan pergi lagi ke tempat tugas keduaku hari ini. ku lirik buku catatan kematian yang ada pada tangan kananku, lalu tanpa memandang lagi pada kedua sosok manusia tersebut, aku terbang menjauh.

Protected by Copyscape Online Plagiarism Detection

Cerita di atas hanya sekedar fiksi belaka, ditulis dalam rangka meramaikan Kontes Flashfiction Ambrosia yang diselenggarakan Dunia Pagi dan Lulabi Penghitam Langit.

Advertisements

16 thoughts on “Pertukaran

  1. IMHO, hidup itu emang ironis.
    Walau si Pemuda gak menukar nyawanya pun, si Ibu cepat atau lambat pasti akan menyusul juga karena tidak ada yg mengurusinya.

    😀 tulisan yg bagus, Tam. Hohoho

  2. …..ini asdfghjkl kak (gatau mau manggil apa)
    benar-benar mendeskripsikan seberapa egoisnya manusia itu :”””(
    dan juga amanatnya yang implisit namun dalam. gregetin deh. ajarin dong nulis seperti ini.

    • asdfghjkl-nya itu apa artinya? :O

      hmm… susah juga klo disuruh ngajarin. saya gak jago 😄
      tapi sering-sering aja baca buku, dari situ kita bisa mengamati dan mempelajari cara menulis seseorang. nah setelah itu, sering-sering juga nulisnya 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s