Aku, Kamu, dan Black Coffee


“Lama ya nunggu aku?” Tanyaku pada Nisti sambil mengecup pipinya sekilas.

“Engga juga. Aku juga baru datang.” Nisti membalas lalu menyeruput kopi pesanannya.

Aku langsung menyeret kursi dan duduk dihadapnnya. Hari ini Nisti tampak manis seperti biasanya. Ia mengenakan baju terusan katun berwarna biru tua dan bando warna putih sebagai pemanis. Dan seperti biasa, aku selalu tampak urakan jika harus dibandingkan dengannya.

Bekerja di perusahaan periklanan memang tidak mengharuskan diriku diikat oleh peraturan untuk memakai baju rapi. Dan seperti yang pernah Nisti katakan padanya, “kamu itu seperti black coffee kesukaanmu itu. Pahit dan tidak manis.”

Tiba-tiba pandangan kami tertuju pada seseorang yang baru saja keluar dari toilet. Sosok itu mengenakan kebaya pengantin dengan riasan wajah yang sudah berantakan oleh air mata.

“Dia kenapa ya?” Tanya Nisti sambil meletakkan cangkir vanilla latte-nya.

“Gak tau. Ditinggal calon suaminya kali.” Kataku asal.

“Aku kesana dulu ya, Pram. Kasihan, mungkin butuh teman ngobrol.”

“Eh jangan. Udah disini aja. Gak usah ikut campur ah.” Ucapku sambil menarik tangannya dan menghentikan niatnya.

Seluruh pengunjung coffee shop itu memandang padanya. Sosoknya seolah penarik minat berpuluh-puluh pasang mata yang haus akan drama. Tak jauh dari mejaku, ada seorang wanita yang mengenakan rok kuning menghentikan sejenak kegiatan membacanya, terkesiap melihat pemandangan itu. Tak luput dari pandanganku juga, seorang backpacker yang tiba-tiba berhenti berbicara dengan kekasihnya.

“Kalau aku jadi dia. Mungkin tidak akan mendatangi tempat seramai ini.” Celoteh Nisti lagi.

Aku tersenyum hambar. “Memangnya siapa yang mau tinggalin kamu pas di hari pernikahan?”

Ia tampak berpikir sejenak, menelaah perkataanku lalu terus melayangkan pandangan pada jendela yang berlatarkan kota Yogyakarta disiram air hujan.

“Mama kamu gimana, Pram? Masih ga setuju juga dengan hubungan kita?” Tanya Nisti tiba-tiba.

Aku yang tidak siap ditanyakan pertanyaan seperti itu hanya menatap kosong pada cangkir black coffee-ku. Ia tetap saja ingat dengan seleraku dan memesannya tepat disaat aku datang.

“Pelan-pelan ya. Saat ini mungkin belum bisa, tapi lama kelamaan dia pasti suka sama kamu kok.”

“Iya.” Balasnya singkat sambil tersenyum getir.

Dengan sengaja aku menyenggol lututnya dengan lututku dari bawah meja. Ia kembali tersenyum. Setidaknya aku tidak kalah dengan lelaki bercambang itu yang diam-diam saling menautkan jari dengan kekasihnya.

“Kamu… ga akan tinggalin aku seperti calon suaminya wanita itu kan?”

Aku terkekeh pelan. Ternyata daritadi Nisti khawatir nasibnya bisa sama seperti wanita itu.

“Engga. Gak akan pernah.” Jawabku mantap. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu karena aku sayang kamu. Ya kamu. Vanilla latte-ku.

Advertisements

2 thoughts on “Aku, Kamu, dan Black Coffee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s