Teman Masa Kecil


“Neng, jangan naik-naik pohon mulu. Nanti jatuh loh.” Suara mang Dadang nyaring terdengar dari bawah pohon. Aku yang selalu tidak bisa diam ini, mulai memanjat pohon sejak aku kecil. Mama dan papa selalu dibuat khawatir dengan kelakuanku ini. Ini dikarenakan di halaman rumahku ada pohon mangga besar yang selalu berbuah di sepanjang tahun, sedangkan mang Dadang  -tukang kebun langganan keluargaku- sudah terlalu tua untuk memanjat. Jadi daripada mangga harumanis yang enak itu mubazir, aku selalu memanjat dan menikmati memetik buahnya.

“Sebentar lagi ya, ini belum semua diambil mangganya.” Teriakku dari atas pohon.

“Aduh… nengggg. Turun aja, ga usah diambil semua. Nanti ibu tahu eneng naik lagi, mamang yang dimarahin.”

Sejak aku kuliah dua tahun yang lalu, mama selalu melarangku naik pohon ini lagi. Sampai-sampai katanya akan menebang pohon ini. Soalnya kata mama, anak perempuan itu harus anggun ga boleh jingkrak-jingkrak ga mau diam seperti anak monyet. Masa anaknya disamain sama anak monyet. Huh, dasar mama…

“Iya deh, mang. Dinda turun deh sekarang.” Balasku sambil merenggut sebal.

Aku turun perlahan-lahan dari pohon mangga itu. Setelah memijak tanah dengan mantap, aku langsung memberikan hasil panenku hari ini kepada mang Dadang. “Nih, mang. Buat bi Asih dan anak-anak di rumah. Lumayan, buat camilan.”

“Eh eneng, jangan. Kan eneng yang ngambil, masa dikasih ke mamang. Buat neng Dinda aja sama ibu di rumah.”

“Ga usah. Di rumah udah banyak buah. Buat mamang aja.” Desakku.

Dengan senyum terkembang mang Dadang membalas, “ya udah. Makasih banyak ya neng.”

Aku balas tersenyum sambil berjalan masuk ke dalam rumah. Aku merapikan bajuku, celana pendekku ku tepuk-tepuk ringan untuk menghilangkan debu dan kotoran yang menempel. Pada saat itu, aku menangkap sosok seorang lelaki yang sedang memperhatikanku dari teras belakang rumahku. Aku tidak kenal dengannya, dan rasanya baru pertama kali aku bertemu.

Aku tersenyum malu-malu sambil terus berjalan, tapi ia menghentikanku dengan sapaannya. “Masih suka manjat pohon ya sekarang.” Ucapnya sambil tertawa kecil.

Mataku menyipit padanya. Kok dia tahu ya aku suka manjat pohon…

“Kalau tante Nessa tau, pasti marah lagi.”

Ups… orang ini apa sih maunya. Kok main ngadu-ngadu sama mama. Pikirku sebal.

“Situ siapa ya? Ga kenal, maen ngadu-ngadu aja.” Balasku sambil terus masuk ke dalam rumah. Tapi usahanya tidak sampai disitu. Ia mengikutiku masuk ke dalam rumah.

“Eh main masuk aja. Siapa sih, kok gak sopan banget.” Kataku ketus.

Ia malah tertawa terpingkal-pingkal mendengar ucapanku. Sehingga membuatku semakin sebal saja.

“Ini aku, Rasya. Masa ga kenal sih.”

Ingatanku melayang pada masa kecilku. Kira-kira waktu aku berumur lima tahun. Di sebelah rumahku ada seorang anak lelaki yang cengeng dan penakut. Padahal usianya terpaut tiga tahun jauh diatasku. Tapi ternyata ia tidak bisa lama tinggal disana, ayahnya Rasya dimutasi ke luar pulau Jawa. Sehingga mereka sekeluarga harus pindah. Pertemananku dan Rasya hanya berlangsung selama sekitar dua tahun.

“Rasya… yang cengeng itu kan…” ucapanku menggantung di udara, julukan cengeng itu rasanya tidak pantas lagi disandangnya. Ia sekarang tinggi, dengan cukup otot mengisi kaus putihnya sehingga aura laki-lakinya begitu jelas terlihat.

“Sekarang udah ga cengeng lagi dong, Din.”

“Oh iya ya.” Aku mengiyakan dengan salah tingkah.

Dari belakang mama menepuk punggungku dengan lembut. “Udah ketemu Rasya ternyata. Mereka pindah lagi loh ke Bogor. Om Rio sekarang pindah tugas lagi.” Kata mama tiba-tiba lalu berlalu pergi lagi saat papa memanggilnya.

Sesaat sebelum Rasya berjalan dan bergabung dengan mama, papa, om Rio, dan tante Ningsih di ruang tamu, ia berbisik pelan di telingaku, “aku datang kembali kesini karena mau menagih janji sama kamu loh.”

Ia berlalu pergi dan membiarkanku tertegun beberapa saat. Janji?

***

Enam bulan berlalu sejak kedatangan Rasya dan keluarganya ke rumah. Sejak saat itu, kami secara berkala sering saling berkunjung. Kadang-kadang juga aku dan Rasya sering main berdua. Hari ini kami –aku dan Rasya tentunya– berwisata outbound di wilayah Puncak. Sudah lama ia ingin mengajakku kesini, sejak pohon mangga di belakang rumahku menjadi tempat yang terlarang ku naiki sejak tiga bulan yang lalu aku jatuh dari pohon mangga. Beruntung aku tidak apa-apa, hanya beberapa lecet saja yang ku dapatkan.

“Tuh sana manjat-manjat. Kan udah ga boleh lagi manjat pohon mangga di rumah.” Ujar Rasya sambil cekikikan geli dan membuatku merengut.

Aku menapakkan kaki kuat-kuat saat berjalan karena sebal padanya, “iya… mau manjat tinggi-tinggi nih sekarang.”

“Tapi, Din. Hati-hati ya, soalnya aku ga mau lihat orang yang aku sayang terluka lagi.”

Langkahku langsung terhenti saat Rasya mengucapkan kalimat itu. Mencerna setiap katanya. Lalu aku berbalik menghadapnya dan meminta penjelasan lebih.

“Maksud kamu?”

“Aku sayang kamu, Dinda. Sekarang, kemarin, enam bulan yang lalu, dan bahkan lima belas tahun yang lalu. Makanya aku mau menagih janji kamu, yang katanya mau menikah denganku saat sudah dewasa.”

Kepalaku langsung pening. Bukan karena ucapan Rasya saat ini, tapi karena janji itu. Janji yang sudah aku lupakan sejak aku menginjak dewasa. Karena ku pikir Rasya pun tidak akan ingat mengenai janji itu. Ku biarkan aku patah hati, berhenti mendambanya, dan mencoba melupakannya. Lalu kemudian, ternyata ia datang kembali kesini. Kegelisahanku selama ini ternyata adalah karena keberadaannya. Kerinduan hatiku pada sosoknya.

“Jadi bagaimana?” Tanyanya kemudian.

“Bagaimana gimana?” Jawabku sambil menunduk dan menyembunyikan muka maluku.

“Jadi temanku ya?”

Hatiku mencelos. Untuk apa ia bilang sayang padaku, tapi ternyata kita akhirnya hanya sebagai teman saja.

“Sekarang juga kan teman.” Bisikku.

Ia tertawa samar. “maksudku, jadi temanku seumur hidup ya. Tentu saja, untuk permulaan kita harus menikah dulu.” Godanya.

Ia benar-benar membuat lidahku kelu. Tak bisa berkata-kata. Aku terus terdiam di tempat ku berdiri sampai ia menghampiri dan merangkulku.

“Makanya cepet lulus. Aku udah gatel nih pengen beli cincin.” Ucapnya.

Aku yang dulu selalu menggodanya, kini dibuat tak berkutik di bawah kekuasaannya. Ternyata patah hati itu adalah waktu yang tertunda. Kini hatiku entah mengapa menjadi ringan dan nyaman oleh kehadirannya. Cinta itu ternyata terbangun kembali sejak enam bulan yang lalu dari tidur panjangnya. Terkecup oleh sang pangeran berkaus putih.

Protected by Copyscape Original Content Checker

Advertisements

One thought on “Teman Masa Kecil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s