[Lomba Fiksi Fantasi 2012] Pengatur Bayangan


(Keyword : pasar malam, gula-gula, cerpelai, rajah, dan salju)

Kilatan cahaya membutakan Anna, saat ia membuka matanya dengan cepat. Ia merasa asing dengan tempatnya saat ini. Ia seperti berada dalam sebuah penjara, lengkap dengan jeruji besi dan rantai yang membelenggu kedua tangan dan kakinya. Ia melayangkan pandangan dan menyapu setiap jengkal tempat itu. Ia benar-benar bingung mengapa ia bisa berakhir di tempat ini.

Ingatan terakhirnya adalah saat ia berada di pasar malam dengan temannya, Penne. Saat itu, ia dan Penne sedang bersenda gurau mengenai ujian pengelompokan kelas elemen yang dilakukan dua minggu yang lalu. Ia bahkan masih bisa mengecap rasa gula-gula dalam rongga mulutnya.

Di dalam selnya tidak ada benda apapun selain sebuah kursi yang ia tempati. Jendela pun hanya tergantung pada dinding di luar selnya dan disebelahnya bertengger dengan kokoh sebuah cerpelai yang diawetkan. Mata hitam cerpelai tersebut menusuk, menembus mataku seakan-akan sedang mencoba membaca pikiranku.

Tiba-tiba terdengar suara langkah berat seseorang menuruni tangga di ruang bawah tanah itu. Jantungku melonjak dengan cepat dan seluruh tubuhku meronta mencoba untuk membebaskan diri. Tapi belenggu itu begitu kuat menempel pada kulitku.

Ia tiba di depan selku. Wajahnya tidak bisa ku lihat dengan jelas karena ia membelakangi satu-satunya penerangan di ruangan itu.

“Apa kabar, Anna? Namaku Ignis.” Suaranya berat dan parau.

Aku diam tak bergerak. Hanya mematung di tempatku. Ia mengeluarkan sebuah kunci dari saku celananya. Diputarnya kunci itu pada lubang kunci pintu selku. Dan digesernya besi itu dengan suara berderit. Aku mengeryit mendengar suara tersebut, suara itu menambah sakit kepala yang kurasakan sejak tadi semakin parah.

Ia melangkah mendekatiku. Entah mengapa, tiba-tiba buku kudukku meremang. Ia terdiam sejauh satu meter di depanku. Mengamatiku dengan cermat. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, kulihat butiran salju pertama jatuh menyentuh tanah. Dari jendela tersebut berhembus hawa dingin yang membuatku semakin tidak nyaman. Lalu aku teringat tentang Penne.

“Dimana temanku? Apa dia selamat?” Tanyaku memaksa.

Ignis nampak tersenyum. Aku tidak terlalu jelas melihatnya. “Dia ada. Di suatu tempat di kastel ini.” Jawabnya enteng.

Pernyataan tentang keberadaan Penne membuat hatiku tenang. Setidaknya dia masih hidup.

“Apa maumu?”

Ia kini tertawa dengan keras. Suaranya menggema dan menggetarkan dinding selnya.

“Cukup mudah. Sebuah pernyataan bahwa kau akan bergabung dengan kami.” Ucapnya kemudian.

Mataku menyipit mendengarkan perkataannya. “Aku?”

“Aku ini tidak lulus di pengelompokan kelas elemen. Artinya tidak ada gunanya. Untuk apa kau ingin aku bergabung denganmu?” Lanjutku.

“Kau benar-benar belum sadar akan kemampuanmu ya?”

Aku terdiam mencerna setiap kata dari kalimat yang ia katakan.

“Mereka mengatakan aku ini novice tanpa elemen.” Kepalaku tertunduk lesu.

Pikiranku melayang pada hari dimana pengelompokan itu diadakan. Penne begitu bersemangat ketika ia ternyata termasuk kategori unsur air. Ia meloncat kegirangan saat cawan air untuk mengetes kekuatannya bergetar hebat di tangannya. Sedangkan aku… hanya memandang hampa keempat cawan itu.

Saat aku menyentuh keempat cawan yang diisi oleh keempat elemen –air, api, tanah, dan angin- semuanya diam tak bergeming. Para guru elemen pun terheran-heran padaku. Setidaknya setiap orang di dunia ini, mempunyai salah satu dasar elemen.

Ia tiba-tiba tertawa dengan kencang, “Novice tanpa elemen? Mereka bodoh atau berpura-pura.” Ucap Ignis sambil meneruskan tawanya.

Tunggu. Apa maksudnya?

“Mereka tahu mengenai kekuatanmu, Anna. Bahkan aku yakin, mereka pasti ketakutan setengah mati sekarang.”

“Apa… apa maksudmu?”

“Kekuatanmu itu bukanlah elemen. Tapi merupakan sesuatu yang dapat memerangkap elemen.” Jelasnya.

Aku semakin dibuat bingung dengan penjelasannya.

“Coba kau ingat kembali. Kejadian aneh selama hidupmu.”

Kenangan yang paling kuat adalah saat aku berumur tujuh tahun. Pada waktu itu aku berada pada sebuah taman di sore hari menjelang matahari tenggelam. Salah satu temanku yang tidak suka denganku, mengolok-olok dan melemparku dengan tanah. Pada saat itu aku sangat marah sekali. Aku hanya melotot padanya agar ia tidak mendekat dan terus berbuat jahat. Harapanku terkabul. Ia terus mematung di tempatnya berdiri, tangan dan kakinya kaku. Lalu pada saat wajahnya mulai membiru aku berlari meninggalkannya sendirian menuju rumah. Aku selalu  bertanya-tanya setelah kejadian itu, mengapa itu bisa terjadi. Keesokan harinya, ia seperti ketakutan saat berpapasan denganku dan langsung pergi menjauh.

Ia tersenyum sedingin es, “ada kan?”

Aku terus terdiam. Merasa pertanyaannya mengenaiku, ia kembali tertawa keras. Dari telapak tangannya tiba-tiba keluar api. Ia ternyata seorang pengatur elemen api. Api itu bersinar terang pada ruangan itu. Kini aku menyadari wajahnya. Aku mencoba mengingat-ingat wajah itu, tapi tetap saja aku tidak kenal.

Ia melepaskan api itu, perlahan-lahan bergerak mendekatiku. Aku panik, sedikitpun tidak mau terbakar hidup-hidup. Aku mengerahkan seluruh tenagaku untuk bebas dari kursi itu, tapi belenggu rantai besi itu terlalu keras. Aku harus menghalaunya dengan elemen. Tapi apa? Aku tidak memilikinya.

Tiba-tiba api itu hilang saat berada di depan mataku. Ia kembali tertawa. Tapi kali ini dengan bosan.

“Jika saja Helios melihatmu. Mungkin tindakannya benar dengan membuangmu.”

Nama itu. Helios. Ibu pernah sekali menyebutkannya beberapa minggu sebelum peristiwa pembunuhan yang menewaskan dia dan ayahku. Tapi aku lupa dengan apa yang ia katakan.

Ia berbalik dan kemudian berjalan memunggungiku. Dari punggungnya terlihat dengan jelas sebuah rajah naga api melingkar dari pinggul dan berakhir pada lehernya. Rajah itu bercahaya karena dipicu oleh elemen apinya.

Mataku membelalak lebar. Rajah naga api! Orang ini yang telah membunuh kedua orang tuanya dengan kejam. Memenggal mereka di depan matanya. Membuatnya terus merasakan mimpi buruk di setiap malam dalam tidurnya.

“Semua benda memiliki bayangan. Saat siang, cahaya adalah temanmu. Saat malam, kegelapan adalah seluruh duniamu. Kau adalah sebuah pengecualian dalam klasifikasi elemen. Bisa hitam, bisa juga putih. Tergantung kau mau memilih yang mana. Bantuan besar bagi temanmu, atau petaka jadi lawanmu. Karena seperti yang tadi telah aku katakan. Semua benda memiliki bayangan.” Ia terus berbicara.

Bayangan?!

“Dan saat keadaan seperti sekarang ini, dimana kekuatan cahaya menginginkan kematianmu dan kekuatan kegelapan menginginkan kekuatanmu. Sekarang…” Ia membiarkan pernyataannya menggantung.

“Aku tidak akan berbasa-basi lagi. Kau akan berjalan pada pihak yang mana? Karena kami senantiasa menerimamu dengan tangan terbuka.” Ucap Ignis membujuk.

“Aku sampai kapanpun tidak akan bergabung dengan kalian!” Kataku kasar, “Kau! Rajahmu! Kau adalah orang yang membunuh kedua orang tuaku.” Aku berteriak dengan kencang. Emosi itu bercampur dengan kesedihan.

Ia mendekatiku dan mencengkeram leherku kuat, “tidak mau katamu? Kita lihat saja dengan jawabanmu setelah aku membunuh temanmu.”

Ia bergegas keluar dari selku. Aku membeku di tempatku saat ini.

Oh tidak… Penne. Apa yang telah aku lakukan…

Tak lama setelah kepergiannya, aku mendengar Penne berteriak disusul dengan bunyi gedebuk nyaring. Ignis menyeret Penne sepanjang jalan menuju selnya. Aku benar-benar tidak tega melihatnya seperti sekarang ini. Matanya lebam, bibirnya membengkak, dan tubuhnya penuh dengan darah di sana sini.

Ignis menjentikkan jarinya, lalu kemudian diikuti dengan terlepasnya belengguku dengan tiba-tiba. Tanpa jeda aku langsung berlari menuju Penne.

“Aku tanya sekali lagi, Anna. Apa kau mau bergabung bersama kami? Dengan cara mudah atau sulit itu tergantung padamu.”

“Dan perlu kau ketahui. Ayah kandungmu adalah Helios. Ibumu dulu kabur dari tempat ini bersama dengan seorang pengatur elemen api juga.”

“Tidak. Ayahku bukan Helios!”

“Kau mau percaya atau tidak. Ayahmu memang Helios. Dia fully-fladged level lanjut, pengatur elemen api dan non-elemen bayangan.”

“Apa katamu? Non-elemen bayangan?”

“Iya. Itulah kekuatanmu Anna. Bayangan. Warisan terakhir Helios padamu.”

Tiba-tiba semuanya tampak masuk akal. Semua kejadian yang terjadi selama hidupku. Aku lah yang menyebabkan itu semua. Aku yang mengunci bayangan mereka.

Aku terlarut dalam duniaku sendiri, tanpa sadar Ignis telah mengincar Penne. Ia mengarahkan cambuk apinya pada tubuh Penne. Penne berteriak kesakitan. Aku beringsut pada dinding dan membawa serta Penne. Berusaha menghalau jeritan kesakitannya dan fokus pada untuk melawan Ignis. Hanya saja aku tidak percaya diri dengan kekuatanku. Bagaimana bayangan bisa mengalahkan api?

Ignis bersiap-siap melancarkan serangan kedua. Ia benar-benar serius dengan ucapannya untuk membunuh Penne. Aku tidak ingin bergabung dengan kegelapan. Tapi bagaimana dengan Penne. Aku tidak mau ia meninggal karena aku juga.

Penne berbisik padaku, “Anna, kunci bayangannya. Aku akan berusaha mengeluarkan airku untuk menghalaunya.”

“Aku tidak tahu caranya!” Balasku panik.

“Percayalah pada dirimu sendiri. Fokuskan kekuatanmu. Aku yakin kamu pasti bisa.”

Aku mengangguk dengan tidak yakin. Pada saat ignis akan melepaskan cambuk apinya yang kedua aku sengaja menutup mataku. Berkonsentrasi pada bayangannya. Aku kembali membuka kedua mataku. Api itu membentur dinding. Ia meleset.

“Apa yang kau lakukan!” Bentak Ignis.

“Bagus, Anna. Lakukan lagi.” Seru Penne dengan setengah kesakitan.

Ignis menggunakan lengannya yang bebas untuk membuat cambuk api ketiga. Kali ini api yang dihasilkan lebih besar dari sebelumnya. Dengan cepat Penne membungkus lengan Ignis dengan elemen airnya. Tapi cara itu tidak berhasil. Kekuatan Ignis lebih besar darinya, sehingga air tersebut langsung menguap begitu bersentuhan dengan elemen apinya.

Aku mencoba mengunci bayangannya kembali. Kali ini aku berhasil memerangkap kaki kanannya. Ignis diam tak bisa melangkah dari tempatnya berdiri. Ia menggeram marah. Mungkin berpikir bahwa keputusannya untuk membebaskanku tadi adalah sebuah kesalahan besar.

Ignis mencoba melawan kembali. Kini ia mengerahkan seluruh tenaganya untuk membuat bola api. Mula-mula bola itu berwarna merah, tapi kemudian berubah menjadi biru dengan cepat. Peluhnya jatuh menyentuh tanah. Ia menopang bola api biru itu dan bersiap-siap melepaskannya ke arah kami. Serangan panik melandaku kembali. Tapi wajah serius Penne membuatku harus terus fokus.

“Siap-siap, Anna. Kerahkan seluruh tenagamu untuk menguncinya.”

Aku mengatur nafasku. Aku membayangkan bahwa bayangannya berada dalam genggamanku kini. Ignis diam tidak bergerak. Matanya melotot dan bergerak-gerak dengan panik. Aku terus mencengkram bayangannya menggunakan seluruh pengaturanku. Api biru itu kemudian terus mengecil. Berubah warna kembali menjadi merah sebelum hilang.

Penne membungkus Ignis dengan air. Mula-mula air muncul dari kaki Ignis. Kemudian air itu naik secara perlahan-lahan ke seluruh tubuhnya. Ignis tersedak beberapa kali, saat air itu memasuki lubang mulut dan hidungnya. Lalu tiba-tiba pandangan matanya kosong saat ia terbungkus oleh air sepenuhnya. Penne melepaskan pengaturannya disusul dengan jatuhnya Ignis tanpa nyawa pada lantai ruang bawah tanah itu.

Kami diam selama beberapa saat sambil terus menahan nafas. Lalu Penne menarikku dengan kencang.

“Ayo cepat, kita pergi dari sini.” Ajak Penne memaksa.

Beruntung ternyata kastel itu adalah sebuah kastel pribadi. Kami terus berlari menembus hutan. Saat itu matahari mulai terbit, menghilangkan kegelapan dan membungkusku dengan cahaya untuk sesaat sebelum kegelapan menenggelamkanku kembali.

Protected by Copyscape Web Plagiarism Finder

Fiksi Fantasi 2012 :

http://9lightsproduction.multiply.com/journal/item/12/Lomba_Fiksi_Fantasi_2012

Advertisements

17 thoughts on “[Lomba Fiksi Fantasi 2012] Pengatur Bayangan

  1. saya belum baca. dan maaf, saya copy paste tulisannya. bukan untuk apa2, melainkan utk dibaca. koneksi internet saya luar biasa ngehe, jadi sy pengin baca untuk dihapus nanti kalo udah selese bacanya. janji, bukan untuk yg lain2. *sumpah pramuka*

    link-nya jg udh saya save, buat balik lg ke sini buat komen nantinya. *bow*

  2. Woow! Seru ceritanya.. 😀
    Tapi awalnya agak ngebingungin karena kamu pake sudut pandang ketiga di paragraf 1&2. Terus tiba-tiba berganti jadi sudut pandang pertama di kalimat terakhir paragraf ke 3.

    Apa emang sengaja begitu?? Hoho

  3. Pingback: [UPDATE PESERTA] Lomba Fiksi Fantasi 2012 « ninelights

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s