Tersesat


Aku kembali menyusuri jalanan sepi itu. Tidak tahu berada di daerah mana dan telah berapa hari aku berada disini. Jalan tersebut terletak pada sebuah hutan. Sepi dan hanya beberapa mobil saja yang melintasi daerah tersebut. Aku tidak tahu asal mulanya bisa berada disini. Tiba-tiba aku terbangun di salah satu sisi jalan dan merasakan hawa dingin yang menusuk tulang. Hanya dengan berbekal satu stel celana jeans dan kaos tipis aku berusaha menghalau udara dingin.

Aku memaksakan diriku untuk berjalan selangkah demi selangkah keluar dari hutan tersebut. Namun entah mengapa, aku tidak bisa keluar dari hutan tersebut. Aku selalu kembali pada titik awalku pergi.

Kali ini aku berniat untuk menghentikan mobil yang melintas. Aku berjalan dengan lunglai menyusuri jalan. Suasana malam itu gelap dan mencekam, hanya disinari oleh cahaya bulan sabit. Sesekali lolongan binatang terdengar dari kejauhan. Jika itu terjadi, aku hanya bisa merapat di pohon terdekat dan berusaha tidak menimbulkan bunyi apapun yang menarik perhatian mereka.

Dari jauh terdengar mesin sebuah mobil melewati jalan tidak mulus dan berbatu-batu. Aku berhenti dan dengan tidak sabar berdiri pada sisi jalan itu. Menunggu mobil itu mendekat.

Lalu tiba-tiba lampu mobil itu terlihat. Mobil itu berjalan perlahan-lahan, siapapun pengendaranya memang harus berhati-hati mengemudikan mobilnya pada jalan yang seperti ini. Apalagi kondisi tersebut diperparah dengan banyaknya genangan air akibat hujan beberapa saat yang lalu. Jalanan jadi licin, salah-salah mobil itu bisa terperosok kubangan dan tidak bisa melanjutkan perjalanan.

Mobil itu kian mendekat. Lampu jauhnya terasa menyorot mataku. Aku melompat ke tengah jalan dan melambai. Tapi tampaknya mobil itu tidak berniat menghentikan mobilnya dan tetap mempertahankan kecepatannya.

Ada apa ini?

Tolong berhentilah.

Aku terus melambai kuat-kuat, berharap ia melihat dan menghentikan mobilnya. Air mataku mengalir deras. Dalam hati aku berdoa supaya mobil itu berhenti.

Satu meter

Aku berteriak sangat keras memintanya berhenti.

Setengah meter

Aku refleks menutup mataku dengan kedua tangan. Menantikan tubuhku terpental karena benturan. Tapi entah mengapa aku tetap berpijak pada tanah tempatku berdiri.

Ku buka mataku perlahan-lahan. Tubuhku baik-baik saja. Padahal mobil itu telah menembus tubuhku. Aku menangis kembali.

Tenyata itu sebabnya mengapa dia tidak melihatku. Sepertinya aku sudah mati.

Ingatan tentang detail kematianku tiba-tiba menyeruak dalam otakku. Bagaimana aku diculik, dibunuh, dan dibuang di hutan ini. Kenyataan itu menyesakkan dadaku. Tapi entah mengapa, sesaat kemudian aku menerima segalanya. Aku sudah tidak bisa kembali lagi. Jika saja aku sempat bilang pada Reno bahwa aku sayang padanya. Aku kembali menangis. Terisak-isak sendirian. Menunggu seseorang untuk menemukanku.

Protected by Copyscape Unique Content Check

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s