Kopi Tubruk


Satu pesan muncul di layar ponselku.

Di, pak Nirwan minta direvisi proposalnya. Katanya kurang greget. Gue masih ngerjain proposal laen nih. Bantuin gue ya. Pleaseee… Niko.

Ku tutup kembali pintu pagar rumahku. Ku hembuskan nafas pasrah. Niko memang selalu begitu, memanfaatkan kebaikannya. Tapi bodohnya dia, ia menerimanya saja tanpa banyak bicara.

Aku kembali memasuki rumah, langsung menuju kamarku. Ku nyalakan kembali laptopku, alih-alih menjeput Riri untuk mengajaknya makan malam bersama. Padahal kemarin-kemarin aku sampai rela lembur tiap hari untuk membereskan pekerjaannya yang menumpuk agar bisa keluar malam ini dengan Riri.

Tapi nasibnya berkata lain. Ia sedang sial. dan sial itu bernama Niko.

Kolom chat-nya berbunyi. Riri mengirimkan pesan.

“Kamu kok online lagi, Di? Katanya mau langsung berangkat tadi?”

Aku mengetik dengan malas.

“Biasa. Niko. Minta aku ngerjain revisi yang diminta pak Nirwan 😦 “

Riri tidak langsung membalas. Adi tahu, ia pasti kesal karena rencana mereka berdua batal lagi gara-gara pekerjaannya.

“Ya udah, gpp kok 🙂 “

“Maaf ya. Jadinya batal lagi gara-gara aku.”

“Iya gpp kok. Udah sana kerjain dulu 😀 “

Aku menutup kolom chat itu. Membuka perambah internetku dan mengetikkan sebaris kalimat akun emailku. Sambil menunggu proses pengunduhan selesai, aku tergerak untuk membuat kopi tubruk favoritku, kental dan tanpa gula. Segera setelah selesai mengunduh, aku langsung mengerjakan proposal itu.

Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul duabelas lewat lima menit. Dengan cepat aku mengambil ponselku dan menghubungi Riri.

“Adi… udah beres proposalnya?”

Aku tersenyum. Ia ternyata lebih peduli dengan urusanku daripada dirinya sendiri.

“Sudah. Hmm… selamat ulang tahun ya, sayang. Maaf rencana kita hari ini berantakan.” Kataku.

“Iya. Makasih ya. Sampai langsung telepon begini. Udah ah tidur sana, istirahat.”

Suara di ujung sana tertawa ringan. Seolah-olah tidak peduli dengan hari istimewanya dan malah lebih mempedulikanku. Kamu selalu  begitu. Selalu mengalah demi aku, selalu memberikanku semangat saat ku terpuruk, dan selalu membuat hatiku tergetar dengan segala perhatianmu. Aku. Selalu dibuat jatuh cinta berkali-kali olehmu.

Kamu itu seperti kopi tubruk favoritku. Selalu membuatku kecanduan.

Advertisements

4 thoughts on “Kopi Tubruk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s