Ruh


Cahaya itu terlihat di langit. Semakin lama semakin dekat mendekati bumi. Aku yang sedang termenung menatap langit malam yang kelam tiba-tiba terhenyak. Suasana di sekitarku gelap, tapi dengan mendekatnya cahaya itu tiba-tiba langit berubah menjadi terang benderang.

Dalam sepersekian detik yang pendek itu, langit malam yang tadinya gelap gulita kini menjadi terang. Cahayanya begitu terang hingga membuat kedua mataku sakit.

Tiba-tiba sesosok wanita melayang rendah tak jauh dari hadapanku. Wajahnya memancarkan cahaya, kulitnya putih seperti pualam, dan tubuhnya tampak elok dalam balutan sebuah gaun putih. Ia tidak tersenyum dan juga tidak hendak berbicara padaku, yang dilakukannya hanya memandangiku. Menelitiku lekat-lekat. Dengan masih diliputi keterkejutan, aku memberanikan diri untuk bertanya.

“Apa yang sedang kau lakukan disini? Mengapa langit menjadi begitu terang seperti sekarang?”

Wanita itu tak membalas tanyaku. Aku pun juga tak kuasa bertanya lagi. Perlahan, kutinggalkan beranda rumahku, aku tak ingin melewati malam ini dengan keterkejutan yang aneh seperti sekarang. Aku harus menghindari semua ini sesegera mungkin.

Aku berbalik memunggunginya, kemudian berlari menjauh. Tapi ternyata ia tidak membiarkanku pergi begitu saja, ia menarik tanganku kemudian membawaku terbang di udara. Ia membuka mulutnya, lalu terdengar serentetan kata mengalun seperti sebuah lagu.

“Kamu bisa melihatku?” Tanyanya.

Aku terbuai dengan suaranya. Sungguh. Suaranya begitu indah. Jika saat ini aku bermimpi, maka aku tidak keberatan terus berada disini dan tidak terbangun.

“Ya, aku bisa melihatmu. Dan sungguh aku terkejut dengan kehadiranmu.”

“Tak usah sedikit pun kamu terkejut dengan kehadiranku. Karena, kedatanganku sekarang juga sudah menjadi garis dariNya. Aku, kini, menjemputmu. Mengajakmu kembali kepadanya.”

Kamu malaikat kematianku?” Tanyaku lagi. Kali ini dengan suara yang pecah menahan air mata yang akan keluar.

“Tapi aku masih ingin hidup. Mimpi-mimpiku. Keluargaku. Aku belum bisa kehilangan semua itu.”

“Tidak inginkah kamu segera menemuiNya?”

Lidahku terasa kaku. Bibirku kelu. “Aku mau.”

“Lalu?”

“Tapi, tidak sekarang. Setahun lagi,” pintaku.

Ia menggeleng. Raut wajahnya yang cantik berubah menjadi dingin dan kejam.

“Begitulah semua manusia, selalu tamak. Tidak bersyukur dengan waktu yang telah diberikan.” Ucapnya kasar.

“Jika kukabulkan permintaanmu itu. Maka saat aku menjemputmu kemudian, kamu akan meminta lebih. Tidak ada habisnya.”

“Ku mohon.” Rengekku.

Aku mulai menangis, meronta-ronta. Tapi ia tidak mempedulikan.

Ia menarikku dari tempatku berpijak. Melayang bersama cahaya.

Sedetik kemudian semuanya terasa berbeda. Aku tak lagi tahu dimana aku berada. Semuanya terasa terang. Kuedarkan mataku menyapu semua yang ada di depanku. “Apakah ini yang mereka katakan dengan surga?”

Rasanya begitu ringan. Badanku seperti kehilangan beratnya. Kulihat seluruh badanku. Semua bekas luka yang kupunya tak lagi nampak. Aku merasa begitu segar.

Ingatan terakhirku yang meminta waktu lebih kini terasa jauh. Aku tidak lagi memikirkannya. Kemudian perlahan-lahan, ingatanku tentang dunia mulai memudar.

Protected by Copyscape Online Plagiarism Scanner

Tulisan Kolaborasi : Tammy Rahmasari dan Teguh Puja

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s