Gadis Pemburu Pelangi


Titik-titik air terakhir yang jatuh menyentuh bumi kini telah merembes pada tanah dan meninggalkan jejak-jejak basah. Aku menantikan datangnya pelangi. Namun langit diam dan tetap memulaskan warna kelabu awan hujan. Lalu kamu malah termenung menatap langit tanpa menyuarakan seluruh pikiranmu.

Aku tidak keberatan dengan ritualmu itu. Saat kamu terus berdialog dengan dirimu sendiri dalam kepalamu tanpa mengajakku bergabung. Aku menyukai pemandangan yang ku lihat saat ini. Saat wajahmu berlatarkan senja dengan semburat jingganya yang memerangkapmu seperti dalam sebuah lukisan.

“Apa kamu tahu dongeng sedih tentang senja?” Tanyanya tiba-tiba.

Aku berhenti memandangmu lalu ku tengadahkan kepalaku menatap langit dari perbukitan di sore itu. “Aku tidak tahu, Cutis.”

Ia mengganti posisi duduknya. Badannya kini bersentuhan dengan tanah, terlentang menghadap langit.

“Dulu. Ada seorang gadis bernama Kali. Ia adalah seorang gadis yang bersemangat, baik, dan juga penyayang. Lalu tiba-tiba di desanya kedatangan seorang seorang saudara jauh tetangganya. Nama pemuda itu Porto, seorang pelukis. Ia diminta untuk memandu sang pemuda itu, menemaninya ke setiap sudut desa untuk melukis.”

“Pertemuan yang singkat itu memunculkan benih-benih cinta diantara keduanya. Kali yang belum pernah mengenal lelaki lain selain ayah dan kakak laki-lakinya dibuat kagum oleh sosok Porto. Hari berganti minggu dan minggu berganti bulan. Porto harus kembali ke kotanya, meninggalkan Kali.”

“Pertemuan terakhir mereka kala itu saat seperti sekarang ini. Senja yang sendu setelah hujan turun. Hanya saja saat itu nampak sapuan indah pelangi enam warna. Lelaki itu berjanji bahwa akan kembali padanya saat pelangi ketiga muncul di langit di hadapan gadis itu. Kali percaya dengan apa yang dikatakannya.”

Aku mendengarkan dengan serius ucapan Cutis.

“Dan apa kau tahu kejadian selanjutnya, Selena?” Tanyanya Cutis yang semakin menggugah keingintahuanku.

Aku menggeleng kuat-kuat. “Ayo, cepat ceritakan lagi.” Kataku.

“Gadis itu menunggu dan terus menunggu. Ia tersenyum saat pelangi pertama muncul, berpikir bahwa pertemuannya dengan Porto tidak terlalu lama lagi. Kemudian pelangi kedua muncul. Ia sangat senang, sampai satu hari penuh ia bernyanyi dengan gembira.”

“Hari yang ia nantikan tiba. Pelangi ketiga telah datang. Ia bersiap dengan pakaian cantiknya menantikan Porto datang menemuinya di bukit itu. Tapi apa kau tahu apa yang terjadi?”

Aku melakukannya lagi. Menggeleng kuat-kuat dan memaksa Cutis menyelesaikan dongengnya.

“Porto tidak pernah datang. Pelangi keempat, kelima, dan keenam sudah terlewat. Kali terus menunggu Porto di bukit itu sampai berbulan-bulan lamanya. Rindunya kian kuat, tapi yang dinantinya tak kunjung hadir. Lalu pada saat itu pelangi ketujuh datang. Garis-garis indah berwarna-warni muncul dari langit menyentuh bumi. Seperti sebuah jalan yang menghubungkan keduanya. Saat itu juga senja seperti ini.”

“Kali memohon pada Tuhan. Meminta pelangi membawa pergi dirinya, menuju tempat dimana Porto berada. Ia menangis, berteriak, dan terisak-isak. Kemudian Ia mengabulkan permintaannya. Ia membawa Kali pergi bersama pelangi.”

Aku begitu terpana dengan dongeng yang disampaikan oleh Cutis. Tidak terasa senja kini menghilang, matahari mulai tenggelam.

“Ia bertemu dengan Porto kan?” Tanyaku penasaran.

“Ia tidak bersamanya. Tapi yang kutahu saat pelangi kedelapan muncul, garisnya bertambah. Disana tampak ada warna baru melengkapi keenam warna pelangi. Warna pelangi ketujuh itu berwarna jingga, portokali1. Kali terus menunggu Porto untuk datang di setiap pelangi muncul. Bertahun-tahun lamanya. Jadi ingatlah dongeng ini saat pelangi muncul. Warna jingga pelangi itu adalah tentang kerinduan Kali terhadap Porto”

Aku menahan nafasku lalu menghembuskannya dengan keras. Kini tubuhku pun telah terlentang di samping Cutis.

“Sedih ya.” Ucapku pendek. Tidak tahu harus berkata apa setelah mendengar dongeng tersebut.

“Mengapa kamu menceritakan itu padaku? Apakah karena kamu juga akan pergi?” Aku langsung duduk di samping Cutis dan menarik-narik lengan kemeja kotak-kotaknya.

Ia diam sejenak. Matanya terus menatap langit. “Iya, besok aku pergi. Beasiswa itu adalah jalan menuju mimpiku.”

Hatiku mencelos saat mendengarnya. Untuk apa ia ceritakan dongeng ini? Apa agar ia mengharapkanku melupakannya dan tidak menunggunya? Berpuluh-puluh pertanyaan hinggap di kepalaku.

Ia bangun dari posisi tidurnya dan kemudian duduk berhadapan denganku.

“Untuk pertanyaan di setiap kepalamu itu akan aku jawab. Iya, aku akan pergi. Tapi aku menceritakan dongeng ini adalah agar kamu tidak terlalu bersedih dengan kepergianku.” Senyumnya kini terkembang di wajahnya dengan binar indah matamu yang membuatku terhanyut di dalamnya.

“Aku akan kembali. Itu janjiku. Aku tidak akan menjadi seperti Porto. Aku akan datang bersama pelangi” Lanjutnya.

__________

1Portokali adalah warna jingga dalam bahasa Yunani.

Protected by Copyscape Online Infringement Detector

Ditulis untuk #proyek27

Sumber gambar : kittykine.blogspot.com

Advertisements

2 thoughts on “Gadis Pemburu Pelangi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s