Soto Koya


Hujan. Itu yang terjadi setiap hari selama sebulan ini. Sedangkan aku, daripada harus berat membawa payung. Aku lebih suka bermain dengan hujan.

Hari ini aku pun tertahan oleh hujan. Berada satu ruangan dengannya pada ruangan yang hanya berukuran tiga kali empat meter ini terasa sesak. Jika saja bukan karena dalih tugas kelompok yang harus kami selesaikan, aku tidak akan bisa berkonsentrasi saat berdekatan dengannya. Kami satu universitas, satu jurusan, dan juga berada pada kelas yang sama. Kebetulan tugas kali ini mendesakku untuk bekerja sama dengannya.

“Hujan, Rie. Laper ga?” Tanyanya menembus melodi hujan yang kini mengalun indah menjadi suara latar kami.

Aku mengangguk kuat, “Iya. Banget malah.” Kataku setuju.

“Aku bikinkan mie instan ya? Mau kan?” Tanyanya lagi.

“Kalo ga ngerepotin. Boleh deh, Fels.”

Ia segera menuju dapur, mengeluarkan peralatan masaknya dan mulai memasak. Aku dibuat terheran-heran oleh sikapnya. Baru kali ini ada lelaki yang memasak makanan untukku. Perasaan heran itu berubah menjadi haru. Getaran aneh mulai menjalari seluruh tubuhku. Hal yang selalu aku rasakan saat bersama dengan Feliks.

Tidak lama kemudian semangkuk mie tersedia di hadapan. Menyamarkan bau tanah yang terkena hujan. Aromanya memenuhi ruangan itu. Kami makan dengan lahapnya.

Kami lalu berbincang-bincang dengan asyiknya. Getaran dalam hatiku semakin kuat padanya. Ia pun ternyata sangat lucu. Melemparkan cerita-cerita yang mengudang tawa dengan lancarnya.

Tidak tahu apa awal mulanya. Tiba-tiba wajahmu kini berada di depan wajahku. Hanya terpisah jarak sekitar duapuluh senti.

“Rie…” Katanya memanggilku.

Aku memaksakan seulas senyum dibibirku. Padahal hatiku ketar-ketir dan berdetak kencang. Dan mungkin wajahkupun kini bersemu merah.

“Aku suka kamu.” Lanjutnya kemudian.

Aku menelan ludah. Tidak tahu harus bicara apa. Dan pada saat aku akan menjawab, wajahmu kini terus mendekat. Mempersempit jarak. Dan akupun lupa harus mengatakan apa saat kamu mengecupku tiba-tiba.

Kamu kemudian sadar dengan apa yang telah kamu lakukan. Cepat-cepat kamu menarik wajahmu. Tapi terlambat. Ciuman itu tertinggal di bibirku. Aku dan kamu saling memalingkan muka. Menyembunyikan malu yang terpampang jelas di wajah kami.

Aku merasakan ciuman pertamaku dengan rasa soto koya.

Protected by Copyscape Duplicate Content Penalty Protection

Flash fiction ini ditulis berdasarkan request dari mbak Wangi 😀

Sumber Gambar : dari Flickr-nya JenniPenni via Pinterest.com

Advertisements

3 thoughts on “Soto Koya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s