[13] Kalau Odol Lagi Jatuh Cinta


Kriiiingggggggggggggg

Alarm jam berbunyi nyaring pada pagi itu. Dari dalam selimut tebal tampak seseorang bergerak-gerak dengan gelisah. Lalu tiba-tiba tangannya keluar meraba-raba dan mencari sumber bunyi tersebut sementara telinganya mendengar setengah awas dari dalam selimut. Ia berhasil meraih jam itu, mematikan bunyinya lalu meneruskan kembali tidurnya.

Kriiiingggggggggggggg

Jam alarm tersebut kembali berbunyi. Akhirnya seseorang dalam selimut tersebut menyibak selimutnya sampai jatuh menyentuh lantai.

“Ya ampun! Udah jam segini!” Serunya sambil berlari menuju kamar mandi.

Hanya lima menit yang ia butuhkan untuk mengawali rutinitas paginya. Sebelum ia berlari kembali keluar dari rumah untuk mengejar bus kota menuju kampusnya.

***

“La… Lala.” Bisik Denina.

“Shhh,” balas Lala. “Jangan keras-keras. Nanti bu Gita denger.”

“Lo gue telponin sampe beratus-ratus kali pagi ini. Tapi ga dijawab sama sekali. Gimana tugas kita? Sentuhan terakhirnya berhasil kan?” Cerocos Denina.

“Shhh… iya udah. Gue mau duduk nih, capek jongkok disini.”

“Lagian lo malah telat masuk kelas. Bentar deh, klo dia lagi meleng gue kasih kode supaya lo bisa duduk.”

Lala berjongkok dengan tidak sabar. Kakinya kram menahan berat tubuhnya sendiri terlalu lama.

“La, duduk! Kesempatan nih.” Seru Denina.

Dengan cepat Lala berdiri. Tapi ia melupakan buku-bukunya yang ia taruh di pangkuan sebelumnya. Suara gedebuk nyaring terdengar di kelas itu, mengundang semua mata untuk melirik ke sumber suara. Termasuk bu Gita, dosen mata kuliah Kalkulusnya.

“Lala! Kamu sedang apa?” Teriak bu Gita.

Ibu Gita memang terkenal killer diantara dosen lainnya. Ini adalah kali kedua ia mengambil mata kuliah Kalkulus setelah Lala diberikan nilai F di transkrip nilainya.

“Buku saya jatuh, bu. Maaf.” Ucap Lala sambil tersenyum dan menggaruk-garuk kepalanya.

“Ya ampun. Kamu ngapain bawa-bawa odol ke kelas saya. Disini bukan warung.” Lanjut bu Gita kemudian.

Ehhhhhhh?

Lala melirik pada tangan kanannya. Disana tergenggam dengan erat sebuah pasta gigi yang tadi pagi jelas-jelas ia yakin berada di kamar mandinya. Lala tidak tahu bagaimana pasta gigi itu berakhir dalam genggamannya sekarang.

“Hahaha… miss odol.” Celetuk salah satu temannya yang kemudian disambut dengan derai tawa seluruh teman-temannya di kelas.

Dari saat itulah Lala mendapat julukannya sampai kini. Miss odol. Ga ada manis-manisnya sama sekali kan?

***

Lala menunggu Denina di aula kampusnya. Di tangannya telah tersedia es krim cone pesanan Denina. Tapi ternyata Denina agak terlambat, es krim itu mulai meleleh di tangannya. Lala mengeluarkan ponsel miliknya, memencet nomor telepon Denina.

“Nina, masih lama ga?” Tanya Lala setelah nada sambung teralihkan menjadi suara Denina.

“Bentar, jeng. Lagi di tempat parkir nih. Pesenan es krim gue ada kan?”

“Iya iya, cepetan kesini.”

“Gak lo tuker sama odol kan?” Goda Denina.

“Basi ah. Cepet kesini.”

Odol lagi odol lagi, keluh Lala. Semua orang kini memanggilnya dengan julukan itu.

Saat ia sedang merajuk, datanglah sesosok lelaki di hadapannya. Lelaki yang menyebabkan lidahnya menjadi kelu saat berbincang dengannya.

“Halo Lala.” Sapa Reno.

“Eh.. halo juga, Re.” Ucap Lala malu-malu.

“Lagi ngapain disini? Kok sendirian?” Tanyanya.

Lala mengelap lelehan es krim dengan tisu pada tangannya. “Lagi nunggu Denina, Re.”

“Ohhhh.” Lanjut Reno lalu mereka berdua terdiam.

“La, lo ada waktu ga sabtu ini?” Reno memecah keheningan itu.

“Ada sih. Kenapa gitu?”

“Gue mau ajak lo ke festival band. Sekalian gue manggung juga.” Jelas Reno.

Lala terdiam sejenak. Ia memang menyukai Reno, tapi tidak berharap ia membalas perasaannya. Tapi tiba-tiba ia mendapatkan harapan seperti sekarang ini, tidak boleh dilewatkan sama sekali.

“Iya deh. Siapa aja yang ikut.” Selidik Lala.

“Eh… Cuma kita kok, La.” Reno salah tingkah.

“Cieee… odolnya udah ketemu sama sikat gigi nih sekarang.” Canda Denina secara tiba-tiba sambil menyambar es krim miliknya dan mengganggu obrolan Lala dengan Reno. Pernyataan itu semakin membuat Lala dan Reno salah tingkah.

“Hmm… udah ya, La. Nanti gue telepon.” Kata Reno, lalu ia berlalu dengan cepat.

Denina mencubit gemas Lala, “Asik. Cerita si odol bisa best seller nih kalo gue bikin novel.”

“Ah udah dong. Malu nih gue.”

“Laporannya ya pas sabtu. Harus lengkap!”

Mereka berdua tertawa kemudian. Siapa sangka julukan aneh itu justru membawa keberuntungan.

Advertisements

4 thoughts on “[13] Kalau Odol Lagi Jatuh Cinta

  1. yang ini ide ceritanya bagus…
    suasana kuliah memang selalu mengasyikkan…

    *gak sadar udah baca ff granny begitu banyak pagi ini… mengacuhkan redaksi pagi*
    *nyeruput kopi…*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s