[11] Tentangmu yang Selalu Manis


Kuhirup lamat-lamat udara dalam coffee shop itu. Di udara bau biji kopi yang baru saja digiling dan wangi roti yang baru saja keluar dari oven meliputi ruangan yang berukuran delapan kali enam meter itu. Agak terlalu kecil memang untuk ukuran coffee shop. Tapi karena letak bangunannya yang agak menjorok jauh dari jalan raya, pengunjung yang datang pun tidak terlalu banyak. Hanya beberapa dan kebanyakan adalah pelanggan tetap.

Aku berada pada kursi favoritku saat ini. Begitu juga dengan hari-hari sebelumnya. Di salah satu sudut ruangan, dekat dengan bakery display. Titel pelanggan tetap kini menempel dengan nyaman padaku. Kadang aku pun bertegur sapa dan berbincang-bincang dengan pelanggan yang lain.

Pada coffee shop yang berukuran mini itu hanya memiliki satu orang barista, satu orang baker, dan dua orang pramusaji. Kami pun bahkan saling bersenda gurau dengan akrab.

Lamunanku terpecah saat sesosok peri mungil muncul di hadapanku. Namanya Aleyna. Kutaksir tingginya hanya seratus limapuluh centimeter. Wajahnya bulat kecil dengan sepasang bola mata yang cemerlang. Rambutnya berwarna hitam dikuncir dengan rapi. Pembawaannya kikuk. Apalagi jika ia berhadapan dengan lelaki. Tanpa sadar aku tersenyum saat mengingat hal itu. Kamu yang tidak bisa membaca pikiranku hanya mematung dengan rona pipi kemerahan sambil terus memaku lantai karena sadar dengan senyuman yang kutujukan padamu. Manisnya…

“Hmm… ini roti cokelatnya.” Katamu setengah berbisik.

“Duduklah dan temani aku berbincang sebentar. Toh hari ini pelanggan tidak banyak.” Ucap sambil mempersilakan dia duduk.

“Ng… tapi…”

Aku berdiri dari dudukku. Lalu menarik kasar kursi diseberangku dan membimbing tubuhnya untuk duduk disitu.

“Nah begitu. Sekarang kan kita bisa saling mengenal lebih jauh.”

Kamu mengangkat wajahmu pelan-pelan. Memaksakan tersenyum dengan pipi yang merah padam. Aku memberanikan diri bertanya hal tentangmu. Awalnya kamu hanya mengangguk dan menggeleng saja. Tapi lama kelamaan, setelah rasa kikukmu mencair. Kamu mulai bisa berbicara dengan terbuka. Bahkan menceritakan tentang masa kecilmu, mimpi-mimpimu, serta kenakalan apa saja yang pernah kau buat. Dan lucunya, aku yang tertutup pun kini dibuat seperti buku yang terbuka lebar saat berhadapan denganmu.

***

Aku kembali mengunjungi coffee shop tersebut dua tahun kemudian. Sekedar bernostalgia. Kini suasananya telah berubah. Interiornya lebih modern, pelanggannya pun tidak lagi ku kenal. Pegawai disana pun kini telah berganti, satu-satunya yang masih kukenal hanyalah barista sekaligus pemilik coffee shop itu yang melambai padaku.

Kamu sudah tidak ada. Tidak berada lagi pada ruang kerjamu. Kenangan tentangmu memang selalu manis. Semanis roti cokelat saat aku menerawang menembus waktu mengingat detil-detil tentangmu.

Sebuah tangan kecil menyentuh punggung tanganku dengan lembut. Pada jari manisnya terdapat sebuah cincin, berpasangan dengan milikku, “Sayang, kamu mau pesan apa?” Tanyanya.

“Seperti biasa.” Jawabku singkat.

“Roti cokelat ya?” Ucapnya sambil terkikik.

“Iya, Aleyna-ku sayang.” Balasku sambil tersenyum memuja saat melihat wajah cantiknya.

Protected by Copyscape Duplicate Content Checker

Advertisements

9 thoughts on “[11] Tentangmu yang Selalu Manis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s