[10] Senyum Untukmu yang Lucu


Sejak dulu, duniaku hanya berputar mengelilingi dia sebagai pusat tata surya. Dia adalah bintang yang mengikat aku dan objek lainnya berada dalam gravitasinya. Cahayanya selalu menerangiku saat aku berada dititik tergelapku. Nama bintang itu adalah Kirana, matahariku.

***

Aku berdiri menghadap matahari. Memposisikan tubuhku agar terkena jangkauan cahayanya.

“Tunggu. Teruslah tersenyum seperti itu,” Arya mengangkat kamera polaroid miliknya. “Aku ingin menghentikan waktu dan merekam momen ini”. Lanjutnya. Lalu tak lama berselang terdengar bunyi klik pelan diikuti dengan suara dengungan foto keluar dari kamera tersebut.

“Wajahku?” Tanya Kirana.

“Bukan wajahmu secara keseluruhan. Tapi senyummu… senyummu yang lucu. Yang setiap kali membawaku ikut tersenyum saat kau memulas wajahmu dengan seringai indah itu.” Jawab Arya sambil membalas senyuman Kirana.

“Apa yang kaulakukan Arya? Selalu mengambil gambarku setiap saat.” Balas Kirana yang kini menghapus senyumnya menjadi rengutan.

“Aku tidak pernah bosan apabila itu tentangmu. Baik dulu maupun sekarang.”

Kirana memotong. “Tapi ya tidak usah setiap saat seperti ini. Lagipula setiap kali memotretku kenapa selalu memakai kamera polaroid? Kan mahal kalau harus mengambil gambar sebanyak itu.”

“Ah… akhirnya kamu bertanya juga.” Kataku sambil tertawa kecil.

Wajahmu semakin merengut saat aku menertawakanmu. Lalu dengan sengaja aku menggambil gambar lagi.

“Arya cukup.” Pasrah Kirana.

“Iya… iya. Cukup untuk hari ini.”

Arya menurunkan kameranya dan menggenggamnya disamping tubuhnya. Ia berjalan mendekati Kirana yang tengah duduk di taman itu, lalu ia memposisikan tubuhnya untuk duduk disampingnya.

“Kamu tahu tidak. Hidup kita ini hanya sekali. Terdapat kenangan bahagia, tidak menyenangkan, bahkan ada yang buruk. Tapi kita semua tidak bisa mengulang waktu yang telah kita lewati. Hanya sekali. Tuhan memberi kita kesempatan hanya sekali.” Jelas Arya.

“Itulah salah satu alasan mengapa aku menyukai kamera polaroid ini. Ia tidak memiliki negatif dan memerangkap momen kita hanya sekali, tanpa pengulangan. Aku juga ingin memiliki kenangan-kenangan itu bersamamu, Kirana.” Arya membiarkan kalimatnya menggantung tapi tak disadari oleh Kirana. Ia terdiam mencerna setiap kalimatku.

“Maksudmu?” Ia kembali angkat bicara.

“Maksudku… setelah lama kita mengenal dan bahkan saat ini menjadi dekat. Aku ingin mengikatmu dan terus menciptakan kenangan bersamamu. Will you marry me?” Tanya Arya ragu-ragu.

Ia sama sekali tidak merencanakan ini. Semua pernyataan itu ia ucapkan secara spontan saja. Tapi memang hatinya telah sejak lama -terlalu lama- tertambat pada Kirana, jadi rencana itu memang ada.

Kirana tiba-tiba bangkit dan berdiri dihadapanku. Matanya lurus menatap mataku.

“Jawabanku. Iya.” Ucapnya dengan senyuman secerah matahari.

Tanpa sadar akupun membalas senyuman itu.

Protected by Copyscape Online Infringement Detector

Sumber gambar : weheartit.com

Diwaktu yang sama dengan kejadian yang hampir mirip sama :

 wp.me/smR8C-rumah

Ide awal flash fiction ini ada karena kalimat terakhir dalam tulisan Adit diatas, dibaca juga ya ff-nya 😀

Advertisements

5 thoughts on “[10] Senyum Untukmu yang Lucu

  1. Pingback: Rumah « Hero of The Drama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s