[7] Sepucuk Surat (bukan) Dariku


Hari ini aku berdiri bersama dengan teman-teman satu kelasku untuk membuka kapsul waktu yang telah kami kubur bersama-sama lima tahun yang lalu. Kami menguburnya pada saat pengumuman kelulusan kami di SMA.

Dengan antusias kami membuka kapsul tersebut. Semua saling berebutan mencari amplop milik kami masing-masing. Suasananya penuh gelak tawa dan haru. Ada yang semangat mengiyakan pada saat ia membaca apa yang dulu ditulisnya percis sama dengan apa yang dialaminya saat ini. ada juga yang menggeleng-geleng sedih tapi tetap tersenyum saat rencana yang telah dituliskannya meleset.

Aku mendapatkan amplop milikku sendiri. Aku mengenalinya hanya dengan sekali pandang. Amplop yang paling tidak rapi, penuh dengan guratan sketsa asal dan tulisan cakar ayamku.

Kubuka amplop itu, kutarik kertas didalamnya. Tapi aneh, entah mengapa suratnya bertambah satu. Aku melupakan surat milikku sendiri dan membuka surat yang satunya.

18 Januari 2007

 Teruntuk pemilik hati ini…

Sebelumnya aku ingin meminta maaf padamu, karena tanpa izinmu membuka suratmu yang kita kubur bersama-sama hari ini. Aku hanya menyisipkan perasaanku bersama dengan harapan-harapanmu kelak saat dewasa nanti di dalam amplop kenangan ini.

Aku tidak tahu akan seperti apa kita nanti. Tapi aku hanya berharap bahwa suatu hari kau akan mengetahui bahwa sedari dulu kau adalah pemilik hati ini. Selalu…

 -D-

Aku tersenyum simpul saat membacanya. Walau berulang-ulang kubaca kembali, aku tetap tidak bisa menghilangkan semburat merah jambu dari kedua pipiku.

Seseorang yang berdiri disebelahku ikut tertawa tertahan. Tidak perlu bertanya-tanya lagi siapa pengirim surat yang saat ini sedang aku baca. Ia adalah seseorang yang saat ini berada bersamaku. Seseorang yang aku genggam erat tangannya. Dan selama aku masih diberi kesempatan, tidak akan pernah aku lepaskan genggaman tangan itu.

Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software

Advertisements

5 thoughts on “[7] Sepucuk Surat (bukan) Dariku

  1. “. Seseorang yang aku genggam erat tangannya. Dan selama aku masih diberi kesempatan, tidak akan pernah aku lepaskan genggaman tangan itu.”

    love the words 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s