[6] Ada Dia Di Matamu


Hari ini adalah tepat setahun setelah kematian Nissa, anak semata wayangku. Ia mengalami kecelakaan motor yang menyebabkan kepalanya terbentur keras lalu koma selama satu minggu. Kupanjatkan doa berulang-ulang dan mengharap kesembuhan anakku. Tapi takdir berkata lain. Tuhan lebih menyayanginya dan mempercepat waktu Nissa untuk bertemu dengan-Nya. Lalu dalam waktu yang singkat Nissa meninggal pada usia tujuh belas tahun.

***

Dua tahun kemudian

Aku berada di sebuah restoran keluarga siang ini. menunggu seseorang yang telah lama dan susah payah kucari. Dan setelah memberanikan diri untuk menghubunginya, ia mengabulkan permintaanku. Untuk bertemu dengannya.

Aku sama sekali tidak mengenalnya. Namanya pun kudapatkan dengan susah payah dari rumah sakit tempat anakku dirawat dulu. Lalu dengan bantuan perawat yang kukenal, aku bisa mendapatkan alamat dan nomor telepon rumahnya.

Aku pun tidak tahu wajahnya kini. Dua tahun bisa saja kan merubah wajah seseorang?

Berbekal foto kusam berukuran empat kali enam yang kudapat dari suster Lina, aku menghapalkan wajahnya. Lalu tiba-tiba ada seseorang yang menghampiriku.

“Ibu Sekar?” Tanyanya sopan.

“Iya. Nak Bagas ya?” Tanyaku balik.

“Iya. Bu.” Lalu ia menarik kursi dan duduk di hadapanku.

“Maaf ya bu, baru bisa bertemu sekarang. Saya sibuk dengan tugas-tugas kuliah.” Jelasnya.

“Tidak apa-apa.”

Lalu pandanganku teralihkan. Awalnya aku hanya melihat wajahmu secara keseluruhan, tapi sekarang aku terfokus pada kedua bola matamu.

Aku melihat ada dia dimatamu!

Binar itu. Tak akan bisa kulupakan sampai kapanpun. Sinar mata yang sama dengan Nissa.

Tak kuasa aku membendung lagi air mata yang sedari tadi ingin tertumpah. Dari kedua kelopak mataku mengalir deras butiran-butiran kenanganku tentang Nissa. Ia tampak khawatir saat melihatku menangis. Mencari-cari sesuatu untuk menyeka air mataku. Namun aku langsung menghapusnya dengan tanganku dan langsung menatapnya lagi.

Hati ini merindu. Walau wujud yang saat ini kulihat berbeda, tapi sedikit jiwa Nissa tertingga disana.

Bagas menggenggam tanganku lalu berkata, “Terima kasih banyak ya bu. Sudah mengikhlaskan mata putri ibu untuk saya. Apa jadinya jika waktu itu saya tidak dioperasi. Mungkin keadaan tidak seperti sekarang ini.”

Aku hanya tersenyum sambil mempererat remasan tanganku di tangannya.

Protected by Copyscape Plagiarism Detector

Sumber gambar : http://ymp25.wordpress.com/

Advertisements

6 thoughts on “[6] Ada Dia Di Matamu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s