[5] “Jadi Milikku, Mau?”


Fadly melirik jam tangannya. Sudah setengah jam berlalu sejak ia pertama kali menjejakkan kaki di coffee shop ini. Kopi hitamnya pun kini sudah mendingin, kepulan asapnya telah hilang menguap menyatu dengan udara. Ia mengetukan jari telunjuknya dengan cepat pada meja kayu dihadapannya. Di luar memang hujan turun dengan derasnya. Mungkin ia terjebak macet gara-gara hujan ini, pikir Fadly.

Pada saat ia akan memesan kembali secangkir kopi, bel yang terletak pada pintu coffee shop itu berdenting. Menandakan ada seseorang yang memasuki bangunan tersebut. Tampak dari kejauhan sesosok wanita bergaun biru sedang melayangkan pandangan mencari seseorang yang dikenalnya. Ia kemudian melambai dengan penuh semangat saat sosok yang dicarinya tertangkap oleh matanya. Aku balas melambai dan tersenyum. Ia lalu berlari kecil menghampiri tempatku duduk.

“Maaf kak, tadi agak macet.” Ucapnya.

“Iya, gak apa-apa, Len. Kakak aja baru sampai.” Kataku berbohong.

“Ada apa, kak? Tumben ngajak aku kesini. Biasanya langsung main ke rumah.”

“Mulai dari mana ya… susah juga bilangnya.” Aku Fadly kaku.

“Ada apa sih, kak? Ngomong aja sama Lena.” Tegas Lena sambil tersenyum.

Aku mengangkat cangkir kopiku. Menghirupnya sejenak kemudian menyesapnya perlahan. Rasa kopi itu tidak lagi kuperhatikan, pikiranku tertuju pada hal lain yang harus aku katakan pada Lena saat ini.

“Len..” Fadly berhenti berbicara lagi.

“Apa, kaaakakku sayang?” Ujar Lena sambil bercanda.

“Kita sudahi saja ya hubungan bohongan kita.” Kata Fadly dengan mantap.

Senyum Lena memudar. Ia kini terdiam dengan ekspresi hampir seperti tidak bernyawa. Aku menyesal telah mengatakannya. Tapi kalimat itu tidak bisa kutarik kembali, aku sudah memantapkan hati untuk memilih Dilla. Seseorang yang bahkan belum tentu bisa kumiliki.

“Kenapa tiba-tiba begini. Kan perjanjiannya sampai aku pindah ke tempat mama.” Ucap Lena dengan setengah berbisik.

“Aku sepertinya telah jatuh cinta pada seseorang.” Balasku dengan berbisik pula.

“Siapa dia?” Tanya Lena singkat.

“Dilla, tetangga sekaligus temanmu.”

Lena menghembuskan nafas panjang lalu berkata, “sudah aku duga. Aku melihat caramu memandangnya saat kalian bertemu di depan rumahku kemarin lusa.”

“Tapi kenapa harus Dilla, kak! Pilih aku. Jadi milikku saja… mau kan?” Lanjut Lena dengan penuh emosi.

“Maafkan kakak, Lena. Kakak ga bisa bohong soal perasaan kakak.”

Kami lalu terdiam lama. Lena seolah-olah akan berbicara sesuatu, tapi kemudian diurungkan kembali. Dan aku… terdiam meratapi kebodohanku. Seharusnya sejak awal saja kutolak permintaan Lena untuk menjadi pacar bohongan.

Hujan semakin deras. Menghilangkan suara diam kami. Mempertebal jarak antara aku dan dirinya. Ah sudahlah… aku melakukan hal yang benar kali ini.

 

Bogor, 16 Januari 2012
Fadly dan Dilla
Halaman 4

Protected by Copyscape Web Plagiarism Detection

Sumber gambar : http://www.fromustwoyou.com/2011/01/coffee-art.html

Advertisements

5 thoughts on “[5] “Jadi Milikku, Mau?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s