[3] “Kamu Manis,” Kataku


Fadly membolak-balik halaman majalah otomotif yang berada di pangkuannya. Tapi hanya raganya saja yang berada disana. Pikirannya melayang-layang jauh dan terpaku pada peristiwa kemarin sore. Saat ia tidak sengaja bertemu dengan Dilla di depan rumah Lena, pacarnya. Koreksi. Pacar sementara.

Ia menghembuskan nafas pasrah kemudian menutup majalah di tangannya dan memasukkannya kembali pada ranselnya. Suasana di taman itu sepi. Hanya beberapa gelintir orang saja yang berada di sana. Maklum saja, baru saja beberapa saat yang lalu hujan mengguyur dan meninggalkan jejak-jejak basah di tanah.

Fadly kembali melamun. Ingat saat Lena memintanya menjadi pacarnya hanya untuk beberapa bulan sampai ia pindah menyusul mamanya. Ia ingat sekali dengan ucapan Lena saat itu.

“Kakak, jadi pacarku ya. Buat aku bahagia hanya untuk beberapa bulan ini.”

Aku pikir ia bercanda saat berbicara seperti itu. Lena hanya tertunduk lesu sementara aku menertawakan permintaannya. Fakta yang baru keketahui beberapa hari berikutnya adalah ternyata orangtunya baru saja bercerai. Lena bersedih karena ternyata kedua orang yang disayangi malah bermusuhan dan saling menjadi asing.

Lalu dengan bodohnya, aku menyetujui permintaan Lena saat ia menanyakan untuk yang kedua kalinya kepadaku. Lena sudah kuanggap adikku sendiri sehingga tidak sulit bagi kami untuk menghabiskan waktu bersama dan berbagi cerita. Tetapi yang sebenarnya, aku hanya menyayangi Lena sebagai adikku.

Maafkan untuk semua keegoisanku karena memanfaatkan kak Fadly yang baik.” Ucap Lena saat aku mengiyakan permintaannya.

Tapi tanpa disengaja, takdir mempertemukan aku dengan Dilla. Makhluk manis itu menyita perhatianku walau hanya sekejap saja pertemuan kami.

“Kamu manis.”

Jika saja aku bisa mengucapkan sebaris kalimat itu padanya. Kenyataannya, kami hanya saling menatap dalam diam. Wajahnya kusut saat aku meninggalkannya kemarin, padahal ia tampak manis walau hanya mengenakan sebuah sweater lusuh. Karena tidak tahu apa yang harus aku katakan padanya pada saat itu, aku berlari meninggalkannya tanpa penjelasan. Dan sekarang aku menyesal telah melakukan hal itu.

Samar-samar mp3 player-nya memutar sebuah lagu yang mengantarkannya kembali pada lamunannya.

You’re beautiful, it’s true.
I saw your face in a crowded place,
And I don’t know what to do,
‘Cause I’ll never be with you.

Bogor, 14 Januari 2012
Fadly dan Dilla
Halaman 3

Protected by Copyscape Web Plagiarism Detector

Kutipan lirik diatas berasal dari lagu You’re Beautiful yang dinyanyikan oleh James Blunt. 

Advertisements

6 thoughts on “[3] “Kamu Manis,” Kataku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s