[2] Dag Dig Dug


Dilla bergelung pada karpet di ruang tamu rumahnya. Sambil sesekali memindahkan channel pada televisi dengan bosan. Di luar terdengar bunyi berisik suara hujan yang bersentuhan dengan bumi. Ia menarik selimutnya sampai rapat, untuk menghilangkan dingin.

Pikirannya melayang pada kenangan di hari kemarin. Saat ia bertemu dengan Fadly. Baru pertama kali ia bisa berbicara dengan nyaman pada seseorang yang baru dikenalnya. Bahkan sampai tertawa lepas. Eh… tapi tunggu dulu, pikir Dilla. Aku lupa menanyakan nomor hp-nya.

Aku terlarut dalam obrolan kami kemarin, sehingga lupa untuk menanyakan nomor hp-nya. Harus Dilla akui, ia tertarik pada Fadly. Pembawaannya yang dewasa dan humoris cocok dengannya yang kekanakan dan pemalu. Obrolan yang singkat itu membekas di hati Dilla. Namanya terukir manis mengisi relung hatinya.

“Dilla, tolong ibu. Belikan dulu garam di warung.”

“Iya, bu.”

Dilla langsung mengenyahkan pikiran tentang Fadly, lalu bangkit berdiri.

Ia meraih sweater lusuhnya yang ia letakkan pada lengan kursi ruang tamunya, lalu mengenakannya dengan cepat. Ia lalu mengambil uang dari dompet ibunya yang tergeletak bebas di salah satu meja. Lalu melenggang keluar dari rumah menuju salah satu warung yang berada tidak jauh dari rumahnya. Dilla mencengkram ujung payung yang kini melindunginya dari guyuran hujan.

Ia melewati rumah Lena saat menuju warung tersebut. Lena adalah teman masa kecilnya. Ia dan Lena dekat hanya sampai sekolah menengah. Setelah itu hubungan mereka memudar seiiring waktu.

Tiba-tiba ia menangkap sosok yang ia kenal keluar dari pintu rumah Lena. Laki-laki itu tampak akrab sekali dengan Lena. Ia berdiri dekat sekali dengannya, sambil sesekali mengusap puncak kepala Lena. Tubuhku membeku saat ia berjalan keluar menembus hujan menuju pagar. Laki-laki itu adalah Fadly. Hati Dilla langsung berlonjak tidak karuan karena bertemu lagi dengannya.

Setelah ia mencapai pagar, meraih pintunya, membuka, dan menutupnya kembali. Fadly tersadar bahwa ada Dilla sedang berdiri dihadapannya.

“Eh, halo.” Ucap Fadly salah tingkah.

“Halo juga.” Balas Dilla singkat sambil tersenyum malu.

“Kita koq bisa ya bertemu disini?”

“Rumahku di sebelah sana,” aku mengangkat tanganku sambil menunjukkan arah rumahku.

“Kenal dong dengan Lena?” Tanyanya.

“Iya, Lena temanku. Kami bahkan dulu satu kelas sampai sekolah menengah.”

Bibirnya membentuk huruf o dengan jelas, tapi tanpa mengucapkannya. Lalu kembali menggaruk-garuk kepalanya.

“Lalu, Lena itu temanmu juga?”

“Eh… dia…”

“Kenapa?”

“Dia… pacarku.” Jawab Fadly dengan terbata-bata.

Dilla mematung di tempatnya berdiri. Suara hujan yang deras seolah tersamarkan dengan dua kata terakhir yang baru saja diucapkan oleh Fadly.

“Hmm… sudah ya.” Ujar Fadly sambil berlari meninggalkan Dilla sendiri.

Dengan berat Dilla kembali berjalan pulang. Ia lupa dengan apa yang harus ia lakukan sebelumnya. Angin itu datang secepat perginya. Tanpa ia duga-duga. Ia hanya tinggal menunggu, mungkin angin yang lain akan datang menghampirinya.

Bogor, 13 Januari 2012
Fadly dan Dilla
Halaman 2

Protected by Copyscape Web Plagiarism Check

Sumber gambar : http://cerpenik.blogspot.com/2011/03/perjodohan-tara.html

Advertisements

4 thoughts on “[2] Dag Dig Dug

  1. Pingback: [3] “Kamu Manis,” Kataku « Heartbeat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s