[1] “Halo, Siapa Namamu?”


Diantara rinai hujan yang berjatuhan, aku berlari-lari kecil sambil membawa ransel super beratku menuju sebuah halte bus. Di halte itu, biasanya aku menunggu kendaraan antar jemput yang selalu siap mengantarkan dan membawaku pulang. Pada saat sekarang ini, cuaca di kota Bogor tidak bisa diprediksi. Kadang cerah, tapi kadang juga bisa tiba-tiba hujan seperti saat sekarang ini.

Aku membuka ranselku. Di dalamnya tersusun rapi textbook dan buku cacatan kuliahku hari ini, ditambah dengan sebuah majalah dan kotak bekal makan siang yang kini isinya telah berganti tempat dan mengisi ruang dalam perutku yang tadi kosong. Pada saat aku sibuk mencari, datanglah sesosok lelaki dan tiba-tiba duduk di sebelahku pada halte itu. Aku tidak sempat memperhatikannya. Pikiranku teralihkan dengan hal lain saat itu.

Ternyata novel yang aku cari-cari sepertinya tertinggal di rumah pada hari ini. Padahal hanya tinggal beberapa bab lagi buku itu habis ku baca. Aku mendesah pasrah dan menghembuskan nafas panjang. Kulayangkan pandangan pada jalan yang kini hampir kosong, hanya beberapa saja yang melintasi jalan tersebut. Padahal biasanya volume kendaraan yang lalu lalang bisa mencapai limapuluh kendaraan per menit. Memang jalan ini bukanlah jalan utama, jadi tidak terlalu banyak kendaraan yang setiap hari melintas.

Waktu menunjukkan pukul empat sore, tapi bus yang kutunggu belum datang juga. Padahal bajuku sudah hampir basah semua terkena air hujan. Tanpa maksud apapun, aku menoleh ke samping. Pandanganku tertumbuk pada seorang lelaki yang sepertinya aku kenal. Matanya bertemu dengan mataku. Lalu kami berdua tersipu malu. Entah oleh sebab apa.

Kami saling mencuri pandang dan berinteraksi dalam diam. Sosoknya mengingatkan aku pada seseorang, tapi aku lupa siapa. Sesekali ia menggaruk sisi keningnya, padahal sepertinya tidak gatal sama sekali. Respon yang berlebihan pikirku. Tapi akupun dibuat jadi salah tingkah juga olehnya. Ranselku yang setengah terbuka itu tiba-tiba meluncur dengan bunyi gedebuk yang nyaring. Aku langsung berjongkok untuk memunguti buku-bukuku yang jatuh berserakan. Aku melihat senyumannya sekilas, kemudian ia bergabung denganku berjongkok di lantai halte bus yang kotor untuk mengumpulkan semua buku. Ia menyerahkan bagiannya untuk disatukan dengan bagianku. Lalu aku memasukkannya kembali dalam ransel.

“Terima kasih.” Ucapku kemudian.

Ia membalas hanya dengan menganggukan kepalanya.

Kami duduk kembali dengan posisi kaku. Aku terus bergerak dalam posisi diamku, tidak tahu harus memulai pembicaraan seperti apa. Dan tampaknya ia pun sama denganku.

Tiba-tiba ia berdiri di hadapanku. Tersenyum manis dan menawarkan tangannya untuk bersalaman.

“Halo, siapa namamu?” Tanyanya.

Aku mengulurkan tangan padanya sambil menjawab pertanyaannya, “Dilla.”

“Fadly.” Balasnya singkat.

Sambil menanti bus yang tidak kunjung datang, perkenalan yang tidak disangka-sangka itu terus berlanjut. Dalam melodi hujan kami bertukar cerita. Mengumpulkan kepingan hati yang berceceran untuk saling mengisi satu sama lain.

Bogor, 12 Januari 2012
Fadly dan Dilla
Halaman 1

Protected by Copyscape Website Copyright Protection

Sumber gambar : http://catandrain.blogspot.com/2011/02/titik-hujan.html

Advertisements

20 thoughts on “[1] “Halo, Siapa Namamu?”

  1. Nice story ^^
    Suka dengan kata-kata terakhirnya : Dalam melodi hujan kami bertukar cerita. Mengumpulkan kepingan hati yang berceceran untuk saling mengisi satu sama lain.

    *Salam kenal 🙂
    Jika luang, bisa mampir blogku juga 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s