[Book Review #1] Thirteen Reasons Why


Judul : Thirteen Reasons Why

Penulis : Jay Asher

Penerjemah : Mery Riansyah

Penyunting : Endah Sulwesi & Lulu Fitri Rahman

Korektor : Tisa Anggriani

Penerbit : M-Pop (Kelompok Penerbit Matahati)

Cetakan Pertama : Oktober 2011

Tebal buku : 287 halaman

ISBN : 602962557-8

Sinopsis :

Kau tak bisa menghentikan masa depan, tak bisa mundur ke masa lalu. Satu-satunya cara mengetahui rahasia adalah…

terus dengarkan kaset ini.

Clay Jensen kembali dari sekolah dan menemukan kotak misterius untuknya di teras rumah. Dalam kotak itu dia menemukan tiga belas kaset yang direkam Hannah Baker─teman sekelas sekaligus gadis yang ditaksirnya─yang bunuh diri dua minggu sebelumnya.

Hannah sudah meninggal. Rahasia gadis itu seharusnya terkubur bersama jasadnya. Namun, Hannah menjelaskan tiga belas alasannya memutuskan mengakhiri hidup. Clay salah satunya. Dengan mendengarkankaset itu, Clay akan tahu mengapa dirinya termasuk dalam tiga belas alasan itu.

Sepanjang malam, Clay mendengarkan kaset itu, Clay mengikuti petunjuk dari kaset Hannah menyusuri kota kecilnya… dan apa yang dia temukan mengubah hidupnya selamanya.

Penghargaan :

Best Books for Young Adults (YALSA)

New York Times Best Seller

Publisher Weekly Best Seller

Barnes & Noble – Top 10 Best for Teens

Review :

Pada saat pertama kali saya membaca sinopsis buku ini, saya langsung tertarik dengan ide orisinil penulisnya. Saya belum pernah membaca buku yang seperti ini sebelumnya, jadi kemudian saya membelinya.

Lalu saat mulai membaca, saya langsung dibuat sebal dengan tokoh utama wanita yang bernama Hannah. Dengan entengnya dia mengatakan bahwa rekaman itu dibuat sesaat sebelum dia akan bunuh diri. Bahkan sampai mengancam semua orang yang berada dalam daftar isi kasetnya adalah penyebab ia mengambil langkah tersebut.

Lalu, pada saat rekaman tersebut diputar. Disebutlah beberapa orang yang ia kenal di sekolahnya dalam daftar 13-nya Hannah itu. Clay yang menaruh perhatian pada Hannah dibuat was-was dan bingung. Sampai bertanya-tanya kesalahan apa yang telah ia perbuat pada Hannah. Karena dari awal rekaman Clay mendengarkan semua perlakuan buruk yang dilakukan orang lain padanya.

Tetapi setelah terus membaca bukunya, saya bisa merasakan naik turunnya perasaan sakit, pahit, dan getirnya Hannah yang disampaikan baik oleh penulis.  Emosi Clay juga tergambar dengan sama baiknya.

Dan setelah membaca buku ini sampai akhir, saya berpendapat bahwa buku ini bagus dan layak untuk dibaca bahkan dikoleksi. Terutama oleh para remaja karena banyak pesan moral yang terdapat didalamnya. Salah satunya adalah mengenai interaksi antara sesama teman. Disaat kita sedih, terluka, bahkan depresi, selalu ada seseorang yang mau menjadi pendengar kita. Tetapi Hannah tidak mengambil keputusan itu 😦

Lalu dengan jalan bunuh diri. Menurut saya itu adalah keputusan yang salah. Yang tidak layak untuk menjadi akhir dari sebuah masalah. Mati itu takdir, tapi salah satu alasannya bukan karena bunuh diri.

Hasil :

Recommended (4 bintang dari 5)

Protected by Copyscape Plagiarism Detection

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s