Lost and Found


Ingatan terakhirku sebelum jatuh terjerembab mencium tanah adalah sepasang sayap. Samar-samar aku melihat benda hitam itu melayang di atas kepalaku, menghalau teriknya sinar matahari. Dan kini sepuluh hari di tempat penampungan, aku masih belum tahu mengenai asal usulku, terlebih lagi namaku. Tapi mereka memanggilku Will, nama yang umum dan mudah dipanggil. Karena memang aku sendiri tidak bisa mengingat namaku sendiri.

Aku juga tidak ingat bagaimana bisa aku bisa berada di tempat ini. Sebuah penampungan anak yatim piatu yang kumuh dan tidak terurus. Dana pemerintah daerah setempat sepertinya tidak tersalurkan dengan benar. Tapi apa peduliku. Masalahku sudah cukup rumit dengan amnesia ini. Dari informasi teman sekamarku, aku bahkan tidak perlu diperiksa oleh dokter saat mereka tahu aku sudah siuman. Mereka kira siuman adalah tanda membaik dan tidak merasa perlu memanggil dokter yang biayanya mahal untuk memeriksakan amnesiaku. Mereka pikir itu adalah salah satu bentuk pertahanan diriku mengenai asal usulku.

Aku melihat Mia mendekati tempat berteduhku saat ini. sebuah pohon oak yang besar dan rindang menaungi tubuh lelahku setelah melakukan semua aktivitas yang diperintahkan oleh pengelola tempat penampungan. Sudah sejak pertama kali aku disini, ia mendekatiku tanpa bicara apapun. Satu kata yang terucap dari bibirnya adalah saat aku tanya tentang namanya. Ia dengan setia menemaniku di sisi pohon lainnya yang berlawanan arah denganku. Keheningan memisahkan kami. Satu-satu suara yang ada adalah saat angin membelai lembut dedaunan di atas kami.

Lalu tiba-tiba tangannya meraih pergelanganku. Dengan was-was ia menyerahkan sebuah pendulum berwarna putih dengan ukiran perak disekeliling kristal dan rantainya. Mia lalu kembali ke tempat bersandarnya semula.

Kupegang erat pendulum itu. Kristal yang tadinya dingin, kini menghangat dalam genggamanku. Lalu seketika kristal tersebut membiaskan warna-warni pelangi saat terkena cahaya.

“Cepat sembunyikan sebelum ada yang melihat.” Ucap Mia singkat.

Dengan cepat kusembunyikan pendulum itu pada saku celanaku. Tidak mempertanyakan mengapa Mia memerintahkan hal itu padaku. Disini semua barang yang kira-kira berharga –milik siapapun itu– akan berakhir menjadi barang rampasan dan ditukar dengan uang atau bahan makanan. Beginilah kehidupan dalam tempat penampungan yang serba kekurangan. Semua orang harus bekerja terlebih dahulu seharian untuk mendapatkan jatah makanannya.

“Apa ini milikku?” Tanyaku pada Mia.

Sebuah jawaban singkat keluar dari mulutnya, “Ya.”

“Bagaimana bisa ada padamu?”

“Maafkan aku. Aku mengambilnya pada saat menemukanmu pingsan di parit dekat pintu masuk sepuluh hari yang lalu. Tapi pada saat akan menjualnya, aku tidak bisa.” Mia mendesah lega.

Lalu kembali melanjutkan, “Benda itu tampaknya sangat berharga untukmu. Kau menggenggamnya dengan kuat, padahal waktu itu kau dalam keadaan pingsan. Perlu tenaga besar untuk merampasnya darimu.”

Aku terdiam sambil mencerna semua perkataan Mia. Siapa sangka diamnya Mia beberapa hari ini ternyata disebabkan karena rasa bersalahnya padaku.

Matahari sudah mulai tenggelam, semburat jingga senja kini tergantikan dengan lukisan malam berlatarkan warna abu-abu kehitaman. Lampu-lampu mulai dinyalakan di semua penjuru. Terdengar riuh para penghuni penampungan menyambut waktu makan malam. Semua peluh seharian penuh bekerja rasanya tergantikan hanya dengan sepiring makan malam. Aku tersenyum miris dengan hal itu. Masa laluku bahkan bisa lebih buruk dari saat ini, pikirnya.

Mia bergegas masuk ke dalam bangunan utama. Tidak lama kemudian, aku pun mengikutinya. Pada saat menuju bangunan tersebut, aku merasakan punggungku terbakar. Aku terjatuh dengan peluh bercucuran di sekujur tubuhku. Kurasakan pendulum dalam saku celanaku juga ikut memanas. Apa yang terjadi, teriakku dalam hati.

Aku berbalik arah menjauhi bangunan utama dan berlari menuju pohon oak itu lagi. Sekilas aku melihat Mia pun mengikutiku berlari.

“Ada apa?” Tanya Mia dengan nada khawatir sambil terus memegang tanganku.

Dengan susah payah aku menjawab, “Punggung…ku. Rasanya seperti terbakar.”

Lalu tiba-tiba kurasakan panas pada punggungku terus merayap ke seluruh tubuhku dengan cepatnya. Tanpa sadar aku berteriak dengan lantang sambil terus bertumpu pada pohon oak itu. Mia merenggut kaus yang kukenakan, membukanya untuk melihat apa yang terjadi.

“Will!” Seru Mia. “Kita harus bergegas ke dokter. Luka bakar pada punggungmu tampaknya parah sekali.”

“Ti.. dak,” Kataku dengan susah payah, “aku cukup beristirahat disini saja sebentar. Mungkin nanti akan membaik.”

Tapi itu tidak terjadi. Rasanya jadi semakin sakit. Daging pada punggungku seperti akan terkoyak dan tulang-tulangnya seperti akan menyembul keluar. Dengan tidak sadar aku menggenggam tangan Mia untuk sekedar menahan diriku agar tidak berteriak. Pada akhirnya aku menyerah. Rasa sakit ini tidak tertahankan.

Aku melepas genggaman tangan Mia dan berbaring tengkurap di tanah. Menunggu takdir kembali membawa hidupku. Saat setengah tidak sadar aku mendengar Mia menangis sambil terus memegang tanganku. Dan sesekali ia memanggil namaku.

Pendulum di tanganku terus memanas, lalu kemudian ia berputar-putar dalam genggamanku. Tiba-tiba seperti adegan sebuah film, semua kenangan kembali satu per satu dalam kilasan-kilasan tanpa henti.

Ku rasakan tubuhku ringan. Dan saat ku buka kedua mataku, aku sudah berada di ketinggian. Dan Mia sedang menatapku dengan mata terbelalak lebar.

Aku ingat sekarang. Aku adalah Rafael, seorang malaikat terbuang yang akan menerima hukumannya sesaat sebelum sekelompok iblis menyergap dan menyerang aku dan kedua malaikat penjagaku. Aku terjatuh ke bumi hingga menyebabkan aku kehilangan sayapku. Semua diatur seperti itu, pada saat seorang malaikat menyentuh dunia fana tanpa tugas, sayapnya akan menghilang. Lalu ingatanku akan menghilang jika aku kehilangan pendulum identitasku atau jika benda itu direnggut oleh seorang manusia. Pendulum itu akan menyerap semua ingatanku agar identitas langit tidak bocor saat benda tersebut terpisah denganku. Dan semua ingatan akan kembali begitu pendulum tersebut kembali padaku, begitu pula dengan sayapku.

Hitam. Sepekat malam. Itulah warna sayapku kini. Warna putihnya akan memudar lalu kemudian menghitam seketika setelah dinyatakan sebagai malaikat terbuang.

Aku perlahan-lahan terbang perlahan menyentuh bumi. Mendekati Mia yang masih terheran-heran dengan transformasiku. Sudah saatnya aku kembali ke langit dan menjalani hukumanku.

“Terima kasih, Mia. Untuk segalanya.” Ucapku sambil tersenyum dan terbang menjauh.

“Tunggu! Jangan pergi dulu.” Mia memohon.

Aku menghentikan tubuhku, tapi tetap mengambang di udara.

“Apakah kau seorang malaikat? Mengapa sayapmu hitam?” Tanyanya.

“Jangan bertanya lebih jauh dan jangan terlibat. Mereka bisa saja menghapus ingatanmu. Lupakanlah aku dan kejadian ini, maka kau akan baik-baik saja” Jawabku.

“Kalau begitu… Bisakah aku tahu namamu? Hanya namamu.” Bisiknya lemah.

“Akupun tidak boleh melakukan itu.”

“Lalu bisakah aku bertemu denganmu kembali?” Tanyanya lagi.

“Mungkin. Jika takdir mempertemukan kita kembali. Selamat tinggal, Mia.” Salam terakhirku sebelum aku menjauh.

***

Mia tidak mengerti dengan kejadian yang baru saja ia alami. Atau siapakah Will itu. Berpuluh-puluh pertanyaan terlintas di benak Mia. Namun tidak satupun yang bisa ia jawab.

Ia menyerah. Ia kembali melangkah menuju bangunan utama sebelum seseorang akan menyadari ia menghilang.

Pada saat ia baru saja beberapa langkah menuju bangunan itu. Angin berhembus lembut menerpa wajahnya. Dalam hembusannya terbisik sebuah kata.

Rafael.

Satu kata yang tidak akan pernah ia lupakan.

***

Protected by Copyscape Duplicate Content Checker

Sumber gambar : http://www.satincrystals.com

Advertisements

4 thoughts on “Lost and Found

  1. Udah saya bilang kan… -_-
    gaya bahasanya itu loh. Jauuhhhhhhhhh bgt dri punya saya. 😥
    Tapi yasuddlahh..
    Mia patah hati?
    Pengennya ada part 2. Rafael dihukum jadi manusia. Hohoho
    tunggu punya sayaaaaa.

  2. Pingback: Kembali « heartbeat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s