Beku


(Tammy Rahmasari)

Aku tidak ingin melepasmu pergi.

Tapi, jika di dekatku kamu tidak bisa bahagia.

Dengan rela, aku akan membiarkanmu pergi.

Semoga berbahagia dengan hidup barumu.

Lola menuliskan sebait kalimat tersebut pada selembar kertas usang, bekas bon belanja di sebuah mini market. Dengan tergesa-gesa ia menyelipkan kertas tersebut pada celah daun pintu apartemen itu.

Ia sengaja tidak menuliskan namanya. Toh penerimanya pun akan tahu itu dari dirinya. Ia lalu bergegas meninggalkan bangunan itu dan meninggalkan kepingan hatinya, lalu masuk dalam kehangatan mobilnya. Di luar suhu udaranya sangat dingin. Musim dingin di Rotterdam kali ini beda dengan biasanya. Ia menstater mobilnya beberapa kali, tapi mobilnya tidak sejalan dengannya. Padahal ia ingin cepat pergi sebelum pemilik apartemen itu kembali.

Jared…

Lola kemudian menggelengkan kepalanya. Menepis pikiran tentang pemilik nama tersebut. Tak terasa, butir-butir halus air mata menuruni pipinya. Ia lalu dengan cepat menghapusnya kembali dengan sarung tangan yang masih ia kenakan. Ia tidak boleh mengingat-ingat lagi mulai saat ini. Lagipula, tiket pesawat telah tersimpan dengan aman di dalam tasnya. Penerbangannya tinggal sejam lagi. Ia hanya perlu menyerahkan mobil rental ini, lalu menaiki bus untuk kemudian pergi ke bandara.

Tiketnya kali ini hanya searah. Ia tidak berencana untuk kembali lagi, ia akan pulang ke kampung halamannya. Ia merelakan menunda impiannya untuk bisa jauh dari orang tersebut. Mudah-mudahan keputusanku kali ini tepat, ujarnya dalam hati.

Ia mendengar nada dering penanda panggilan masuk pada telepon selularnya. Lagu milik mereka, lagu penanda disaat rindu menghadang. Wish you were here dari Avril Lavigne.

Air matanya kembali menggenang. Ia ingin sekali mengangkat telepon itu dan mengatakan supaya pemilik suara di seberang sana bisa datang dan menjemputnya. Tetapi, hati kecilnya berkata lain. Ia ingin bebas sekaligus membebaskannya. Dia yang memiliki dua cinta di dalam hatinya. Dia yang tidak bisa memilih. Dia yang tidak bisa meninggalkan seseorang yang lain untuk bersama dengannya. Maka tibalah Lola di persimpangan jalan ini. Antara harus tetap bersamanya atau melepasnya pergi.

Ia memilih pergi. Merelakan dia bisa mendapatkan kebahagiaan dengan tambatan hatinya yang lain.

Ia tahu, lelaki itu sepertinya telah membaca pesannya. Makanya dari tadi telepon selularnya terus-terusan berdering menyanyikan lagu yang sama. Tapi, ia telah mengeraskan hati. Tidak akan melunak kembali.

Ia membuka jendela di sampingnya. Merasakan angin yang membekukan menerpa wajahnya. Dengan perlahan ia tersenyum, lalu berkata.

β€œAfscheid, liefde1.”

______________________________

1Selamat tinggal, cinta

***

Sumber gambar :Β www.galeria-surreal.com (pelukis : Tania)

Protected by Copyscape Duplicate Content Protection Tool

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s