Bebas


(Tammy Rahmasari)

“Aku membebaskanmu.” Ucap lelaki itu.

“Aku membebaskanmu untuk mencintai aku. Bukan yang lain. Tapi kau tidak melakukannya.” Ulangnya.

Perempuan itu menangis dalam diam. Tahu jika ia bersuara sedikit saja, lelaki itu akan marah. Tangan kirinya yang bebas mencengkram pada kaki meja, sementara yang lainnya terbelenggu pada sebuah borgol. Kulitnya kini sudah mengalami iritasi, ruam kemerahan terlihat pada lengan kirinya yang langsung bersentuhan dengan borgol itu. Ia sudah tidak tahu lagi tentang waktu. Bisa seminggu atau lebih ia disekap dalam ruangan tertutup itu. Tanpa jendela dan tanpa cahaya.

Sesekali ia dibutakan oleh cahaya saat lelaki itu memasuki ruangan ini dengan membawa lilin. Ia menjadi terbiasa dengan kegelapan. Kegelapan yang membutakan matanya tetapi mempertajam indera pendengarannya.

Lelaki itu melangkah. Jika diperkirakan, jarak ia dan lelaki itu hanya sekitar empat langkah lagi. Perempuan itu mengkeret tubuhnya. Melepaskan pegangan pada kaki meja itu dan merapat pada dinding. Ia tahu tidak ada gunanya lagi ia berteriak. Bangunan itu terlalu sepi. Ia tidak bisa menangkap suara apapun di luar sana. Kemungkinan ia berada jauh dari pusat keramaian ia sadari setelah tiga atau empat hari disekap.

Pertolongan yang ia dambakan pun menjadi semakin mustahil. Ia tidak tahu harus meminta tolong pada siapa. Hanya berharap Tuhan mendengarkan setiap doanya. Berharap keluarga terdekatnya menyadari ia menghilang, lalu melaporkan pada polisi mengenai kehilangannya.

Lelaki itu kembali menyeret sebuah benda yang terbuat dari logam pada saat ia melangkah. Benda itu sepertinya berat, pikir perempuan itu. Ia membayangkan lelaki itu membawa linggis, kampak, atau pedang membuatnya bergidik.

Mudah-mudahan pikiranku salah.

“Apa yang kau pikirkan?” Tanyanya.

“Kau.” Jawab perempuan itu singkat.

“Bagus. Lalu apa yang kau inginkan?”

“Hanya kau.” Perempuan itu kembali berkata.

Ia tahu, jika saja ia menjawab hal yang lain. Ia akan disiksa. Jawaban itu ia temukan setelah empat kali ia menjawab pertanyaannya dengan salah. Punggungnya dicambuk berkali-kali setiap kali ia membuka mulut jika menginginkan kebebasannya. Tapi kali ini lelaki itu membawa sesuatu yang lain, bukan cambuk.

Ia merasakan angin dingin menyapu leher lalu kemudian seluruh tubuhnya. Padahal sama sekali tidak ada celah dalam ruangan itu untuk membiarkan angin masuk.

Cahaya lilin memperlihatkan setengah dari wajahnya. Lelaki itu tersenyum padanya. Sayang sekali lilin itu tidak menerangi benda yang dibawanya. Pada benda yang daritadi membuatnya ketakutan.

Lelaki itu kembali melangkah menjauhi cahaya. Mempererat jarak dengan dirinya. Ia menangkap wajah perempuan itu dengan salah satu tangannya. Ia memalingkan wajah. Lelaki itu melepas wajahnya, lalu memasukkan tangannya pada saku celananya.

Tiba-tiba ia merasakan sesuatu menyentuh kulitnya, bagai tersengat lebah. Perempuan itu lalu menyadari, lelaki itu telah menginjeksinya dengan suatu cairan. Entah apa itu.

Dalam waktu yang tidak lama ia merasakan tubuhnya mati rasa. Ia jatuh terjerembab pada lantai yang dingin tidak jauh dari lelaki itu berdiri.

Tubuhnya diangkat pada sebuah meja kemudian dibaringkan terlentang. Lelaki itu bergerak kembali. Ia mengambil benda yang terbuat dari logam itu. Sebuah kampak! Perempuan itu berteriak dalam diam.

Jantungnya berdegup kencang saat ia tahu bahwa dalam beberapa saat kemudian lelaki itu akan membunuhnya.

Tuhan… Tuhan tolonglah aku.

Perempuan itu mulai menangis dalam kebisuan. Tubuhnya tidak bisa bergerak dan mulutnya tidak dapat bersuara. Tetapi, air matanya terus mengalir deras.

“Kau takut?” Tanya lelaki itu.

Perempuan itu tidak menjawab.

“Aku akan membebaskanmu untuk yang kedua kalinya. Kali ini aku akan tenang. Kau tidak akan mencintai orang lain lagi selain aku.”

Mungkin ucapannya benar. Aku akan terbebas.

Lelaki itu kembali tersenyum. Senyum dingin yang menusuk setiap tulang dalam tubuhnya. Senyum terakhir yang ia dapatkan di dunia sebelum lelaki itu merenggut cahaya miliknya.

***

Protected by Copyscape Duplicate Content Protection Tool

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s