[Shadow] Prolog


(Tammy Rahmasari)

 

Happy birthday to you…

Happy birthday to you…

Happy birthday dear Anna…

Happy birthday to you…

“Selamat ulang tahun, sayang.” Ucap kedua orangtuanya beriringan.

Gadis kecil itu dulu adalah Anna. Tersenyum lebar saat kedua orang tuanya merayakan ulang tahunnya yang ke tujuh. Seharian ini, mamanya terus menyembunyikan perayaan kecil ini, sementara papanya bekerja. Ia dibuat sibuk oleh Sasha, teman sepermainannya sekaligus sepupu jauhnya. Ia berlarian di hutan, mengejar ikan-ikan di sungai, memanjat pohon jeruk tetangganya dan kemudian mencuri buahnya hingga mereka berdua terlalu capai untuk berlari pulang hingga akhirnya tertidur di padang rumput dekat rumahnya, menyerap cahaya matahari sore yang menyinari tubuhnya.

Kedua orang tuanya memeluk ia erat, mendaratkan ciuman hangat pada keningnya. Ia merasa sangat bahagia. Itu semua terlihat dari raut wajahnya. Tidak ada kepura-puraan, hanya kepolosan seorang anak kecil yang selalu bersemangat apabila ulang tahunnya tiba. Papa menyembunyikan sesuatu di punggungnya. Dari tadi ia tahu itu adalah hadiah untuknya, ia semakin tersenyum dengan lebar saat papanya memberikan sebuah liontin kecil berwarna biru padanya. Liontin itu berbentuk kupu-kupu.

“Terima kasih, Papa.”

“Iya, sayang.” Balas papanya. “Berjanjilah kamu akan terus menjaganya dan tidak akan menghilangkannya.” Lanjutnya.

“Aku janji.” Jawab Anna sambil terus memandang liontinnya.

“Nah… ayo sekarang kita makan kuenya.” Seru mamanya.

Anna bertepuk tangan dengan semangat. Respon atas persetujuannya disusul dengan tawa kedua orang tuanya.

Canda tawa terdengar dari rumah seorang targetnya. Telah lama ia mengikuti orang tersebut selama seminggu ini. Dan juga, sepertinya orang tersebut telah mencium keberadaannya sehingga ia tidak bisa menunda lagi pekerjaannya.

Ia menarik kerah baju seseorang disebelahnya dengan cepat, “Benar ini tempatnya?” Katanya pada salah seorang informan yang sama sekali tidak ia percayai.

“I… Iya.” Katanya setengah berjinjit. Orang itu kalah tinggi dengannya jika dibandingkan secara fisik.

“Kumohon, lepaskan aku. Aku sudah memberi tahu apa yang ingin kau ketahui, bahkan aku membawamu langsung kemari.” Ucap orang itu sambil bergetar.

Ia memperkuat cengkeraman pada leher lelaki tua itu dengan memakai kedua tangannya.

“Jika kau buka mulut tentang ini. Kau tahu bahwa aku akan mencarimu dan mengambil nyawamu yang tidak berarti itu.” Ancamnya.

Lelaki itu mengangguk dengan susah payah tanda setuju.

“Lupakan tentang hari ini. Juga tentang aku.”

“Iya, tuan. Jadi, sekarang mohon lepaskan aku.”

Ia langsung melempar lelaki tua itu ke atas genangan lumpur.

“Enyah kau.”

Insting lelaki tua itu sudah benar. Ia langsung lari tunggang langgang begitu ia membebaskannya.

Larilah. Selamatkan nyawamu atau aku akan berubah pikiran dan mengambilnya.

Ia berjalan mendekati rumah tersebut. Beruntung rumah itu jauh dari jalan raya, sehingga perlu waktu bagi orang lain untuk menyadari apa yang terjadi nantinya.

Anna mencuci tangannya pada air mengalir dengan sabun. Ia memainkan sabun yang terdapat pada telapak tangannya dengan perasaan gembira.

Aku akan memperlihatkan liontinku pada Sasha besok di sekolah.

Setelah selesai, ia menutup keran lalu mengeringkan tangannya pada lap yang menggantung di sebelah kirinya.

Pada saat ia akan bergabung kembali dengan kedua orang tuanya, penerangan dalam rumahnya tiba-tiba padam, lalu ia mendengar bunyi hantaman keras. Bang.

Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi. Naluri anak-anaknya membawanya untuk bersembunyi. Dengan cepat ia langsung bersembunyi di bawah meja makan sambil terus mendengarkan apa yang sedang terjadi. Ternyata itu suara keras pada pintu rumahnya.

Ada seseorang yang mendobrak masuk.

Ia mendengar papanya berbicara.

“Siapa kau?”

Siapapun orang itu, tidak menjawab pertanyaan papanya sambil terus melangkah. Lantai kayu rumahnya berdecit saat orang tersebut melangkah. Ia mendengar papa dan mamanya berjalan mundur mendekati dirinya berada.

Ia ingin sekali melompat dan berlari ke dalam pelukan kedua orang tuanya. Tapi ia terlalu takut untuk keluar dari tempat persembunyiannya sehingga badannya terus mengkeret menjauh dan mendekati tembok dingin dapurnya.

Ia mendengar bunyi tebasan yang lalu disusul dengan jeritan.

Papa! Jeritnya dalam hati.

Kemudian ia mendengar mamanya bebicara dalam tangisnya. “Apa yang telah kami lakukan. Mengapa kau menyakiti kami!”

Kata-kata mama jauh dari sebuah kalimat pertanyaan, malah itu merupakan sebuah peryataan. Ia terus menangis sambil terus memohon-mohon agar orang tersebut pergi. Tetapi, ia kemudian mendengar jeritan mamanya saat tebasan kedua mengenai tubuhnya.

Ia roboh. Tubuhnya menghadapku. Lalu kedua matanya kemudian menangkap sosokku.

Aku menangis dalam diam. Tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Apa yang harus aku lakukan. Aku sangat ingin menolong mama. Tapi entah mengapa tubuhku beku. Terlalu takut untuk mendekat.

Cahaya bulan menembus kaca dan menerangi tubuh lemah mama. Ia sepertinya berhati-hati supaya orang tersebut tidak melihatku. Bibirnya terus berkomat-kamit. Tapi aku tidak mengerti apa yang sedang ia katakan. Tapi setelah beberapa saat aku mengulangi gerak bibirnya pada diriku sendiri, aku menyadarinya. Ia menuruhku untuk lari.

Mama tiba-tiba berhenti bergerak ketika lelaki itu berdiri dihadapannya. Ia berdiri membelakangiku sekarang. Punggung lelaki itu terang sekali, sangat terang dan menyilaukan.

Seperti api.

Ia menghujamkan belati pada tubuh mama. Aku mendengar suara terkesiapnya saat terakhir kali. Entah darimana aku mendapatkan kembali tenagaku. Aku berlari membuka pintu belakang kemudian menutupnya dengan keras. Kusadari dengan pasti lelaki itu pasti mengetahui pelarianku.

Tanpa mempedulikan apa yang terjadi dibelakangku, aku berlari menuju hutan. Disana aku lebih aman daripada aku harus berlari di jalan raya. Aku terus berlari menembus hutan, berusaha melihat pada kegelapan malam dan menyusuri jalan yang telah kukenali.

Aku mendengar lelaki itu berteriak marah. Aku tidak berhenti, terus berlari dan berlari. Menjauhi tempat itu, menjauhi kebahagiannku.

Maafkan aku mama. Maafkan aku papa yang tidak bisa menolong kalian. Jerit hatinya.

***

(to be continued)

Protected by Copyscape Web Plagiarism Checker

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s