You Are The One


(Tammy Rahmasari)

Untuk ketiga kalinya dalam hari ini Ivan membaca undangan beasiswa pascasarjana yang ia terima dengan perasaan hampa. Padahal ia telah berusaha keras agar diterima. Semua gara-gara Lala, gadis bermata indah itu.

Sejak pertama kali bertemu dengan Lala, dirinya hanyut dalam kedalaman matanya sehingga objek lain selain Lala tidak masuk dalam jarak pandang matanya.

Lala…

Menyebut namanya sekali dalam hati dapat membuatnya tersenyum, dan jika ia menyebutkannya dengan bantuan pita suaranya keras, hatinya dapat bersenandung gembira. 

Melayang-layang kita trus melayang meski langit tanpa bintang,
Mendayu-dayu suara daun yang berjatuhan bermesraan,
Denganmu mengisi lamunan, denganmu ooh…

Terdengar alunan manis lagu Menari dari Maliq & D’Essensials menambah gundah hati Ivan. Di satu sisi ia ingin menggapai cita-cita yang dari dulu diimpikannya, dan di lain sisi ia ingin mengenal Lala lebih jauh, ingin mendengat tawa riang Lala di telinganya, ingin mencium wangi tubuh Lala di hidungnya, ingin meraba halus rambutnya, dan ingin mengecap manis bibir itu.

Seluruh malamnya sejak bertemu dengan Lala berubah 180 derajat. Ia dapat merasakan terang disetiap malamnya, dan pada saat dunia benderang ia dapat merasakan gelap jika tidak menemukannya. Oh… Lala… Senandung nada manis bagi jiwaku.

Ivan mengemas barang-barangnya, lalu kemudian langsung berangkat menuju kampus. Biasanya pada waktu sekarang ini pujaan hatinya sedang duduk dan menyantap lezat buku-buku tebal yang biasanya tergeletak tak terjamah di perpustakaan.

Setibanya di kampus, ia mendapati Lala akan meninggalkan perpustakaan dengan tergesa-gesa. Ia terdiam sejenak dan menduga-duga akan kemana Lala pergi. Dan betul saja, ia mengarah ke studio lukisnya.

Ivan tersenyum cerah, lalu mengikuti langkah kaki Lala dibelakangnya tanpa suara.

Pintu studio lukis itu untung memiliki kaca tembus pandang. Sehingga ia dapat dengan santai mengawasi Lala. Ia selalu menyukai lukisan abstrak Lala. Ketidakberaturan dalam lukisannya membuatnya makin tertarik akan isi pikiran Lala.

Dari dalam studio Ivan mendengar suatu alunan lagu yang dikenalnya. Tapi ia tidak begitu memperhatikan.

“Masuklah kau yang disana.”

Alunan lembut suara Lala membuyarkan lamunannya. Ia tertangkap basah kali ini.

“Iya, kamu yang disana. Kemarilah.” Ucap Lala sekali lagi. Kali ini ia berbalik dan memandang lurus mata Ivan.

Ivan mematung dengan jantung mencelos. Tak sadar dengan apa yang ia lakukan, kakinya melangkah memasuki studio itu.

“Siapa namamu?” Tanya Lala sopan.

“Ivan.” Jawab Ivan tegas.

“Baiklah Ivan. Sudah sekitar dua minggu ini aku memperhatikan kamu selalu berada dalam radarku. Mengikuti kemanapun aku pergi.”

Ivan mematung dalam posisi berdirinya. Seakan-akan jika ia menghembuskan nafas, suaranya akan terdengar jelas oleh Lala.

“Kau menyukaiku?” Lanjut Lala tanpa basa-basi.

Glek.

Ivan menelan ludah yang sedari tadi terus berada dalam rongga mulutnya.

“Jawablah. Aku tidak akan marah atau menggigitmu.” Canda Lala sambil tertawa ringan.

“Iya, Lala. Aku menyukaimu.” Ivan membalas senyuman itu.

Oh… lihat kita bertaburan bunga-bunga,
Kupu-kupu saling menyapa mengejar cinta,
Terbang bersama ke sana, menari-nari asmara…

Dengan percaya diri Ivan melangkahkan kakinya mendekati Lala. Ketakutan dan keraguannya tiba-tiba menguap saat Lala mengucapkan kalimat terakhir tadi.

May I?” Pinta Ivan sambil menyerahkan tangan kanannya pada Lala.

Lala membiarkan tangan Ivan mengambang beberapa saat sebelum menyambutnya.

Ivan menarik lembut tubuh Lala dan kemudian merengkuhnya dalam pelukan. Momen yang tidak akan pernah ia lupakan. Akhirnya semua inderanya merasakan Lala.

Berjalan-jalan memecah genangan jejak air rintik hujan,
Bergandeng tangan berdua nyanyikan lagu cinta nostalgia,
Denganmu menggapai khayalan, denganmu ooh…

“Tunggulah aku, Lala.” Tawar Ivan.

“Kau akan kemana?” Tanya Lala masih dalam pelukan Ivan.

“Aku akan pergi untuk menggapai cita-citaku. Tapi kelak aku akan kembali, untukmu.”

“Mengapa kau yakin aku akan menunggumu?”

“Aku tahu dan aku yakin. Karena saat tadi kau menunjukkan senyummu untuk pertama kalinya kepadaku, kaulah takdirku. And the angels said so…”

***

Terinspirasi dari Lagu Maliq & D’Essensials – Menari, untuk proyek nulisbuku.com #11projects11days hari ke-5

Protected by Copyscape Web Plagiarism Checker

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s