Mysterious Fireman


Shadow : [Random Scene]

(Tammy Rahmasari)

 

 

In brightest day, in blackest night.

No evil shall escape my sight.

Let those who worship evil’s might.

Beware my power.

 

Shadow melompati parit dihadapannya, kemudian berlari mendekati sebuah gubuk. Gubuk yang terbengkalai dan ditinggal oleh pemilik sebelumnya, siapapun itu.

“Sebuah tempat persembunyian yang sempurna”, bisik Fog padanya.

Shadow berlari tanpa suara menjauhi Fog, mendekati gubuk tersebut. Mengintip kedalamnya, lalu memastikan benda itu aman untuk ditempati. Ia lalu memberi tanda pada Fog untuk berjalan dan mendekat.

Sebelum memasukin gubuk itu, ia berbisik pada Fog. “Buatlah hujan.”

Kemudian seketika turunlah hujan

Ternyata gubuk itu tidak terlihat seperti yang ia duga. Didalamnya bahkan lebih buruk dari penampilan luarnya.

“Aku tidak mau! Tempat ini jelek sekali.” Fog mengeluarkan sumpah serapahnya.

“Diamlah, Fog. Kita harus mengobati lukamu terlebih dahulu.” Balas Shadow tenang, lalu ia melanjutkan perkataannya, “sini… kulihat seberapa parah lukamu.”

“Lumayan sepertinya. Dan aku merasakan lukanya membesar saat kita melompati parit tadi.”

“Buka kausmu.” Kata Shadow sambil meraih ujung kaus Fog.

“Hei… pelan-pelan. Lagipula aku satu-satunya laki-laki disini. Seharusnya aku yang membuka kausmu, bukan kamu yang melakukannya padaku. Hahaha… “ Canda Fog.

“Tutup mulutmu, F. Lain waktu aku akan menertawakan semua lelucon yang keluar dari mulutmu itu. Janji. Tapi, kali ini aku hanya ingin kau diam, dan berlaku baik lah.”

“Kau tahu kan seberapa buruknya aku.”

“Shh…”

“Baiklah, aku diam. Kaulah pemimpinnya.” Kata Fog sambil setengah bercanda.

Shadow membantu Fog membuka kausnya. Mengecek setiap incinya, melihat lukanya kemudian mendesah pelan.

“Ini buruk, F. Bagaimana kau bisa bercanda, padahal kau sedang terluka.”

“Aku tidak ingin membuatmu khawatir, Shady.”

“Karena aku sudah tahu akan seperti ini jadinya. Tadi aku memintamu menurunkan hujan untuk menghapus jejak kita dan sedikit DNA-mu yang berceceran.”

“Iya, aku sudah menduga. Tapi kau tahu, aku masih Novice. Sama sepertimu. Kekuatanku tidak sekuat apa yang kau bayangkan.”

“Tidak apa. Setelah aku menutup lukamu, kita akan terus bergerak. Memberiku waktu sedikit agar tidak terlacak olehnya.” Kata Shadow sambil terus merawat luka Fog.

“Sekarang, buat lapisan tipis air di telapak tanganmu. Lalu tutuplah lukamu dengan itu.” Lanjutnya.

Fog menuruti setiap arahan Shadow. Ia berkonsentrasi pada telapak tangannya, lalu menvisualisasikan air di telapak tangannya. Hal itu cukup sulit baginya. Ia terluka, ia juga harus mengontrol hujan diluar sana. Dan sekarang ia harus menghambat infeksi pada lukanya.

“Kamu hebat, F. Aku akan membalutmu, kemudian memberikan waktu bagi kita untuk beristirahat sejenak sebelum kita pergi lagi.” Ucap Shadow.

Shadow memposisikan dirinya berlawanan sisi dengan Fog. mencoba menutup matanya walau sebentar. Tapi setiap kali ia menutup mata, ia selalu melihat mimpi buruknya. The Mysterious Fireman. Orang yang memiliki simbol api pada punggungnya yang telah menyebabkan kematian orang tuanya sepuluh tahun yang lalu.

Orang itu tiba-tiba datang pada malam hari saat perayaan ulang tahunnya yang ketujuh. Hari bahagianya sekaligus hari yang paling ia ingin lupakan. Ia bahkan sudah mulai bergerak maju untuk melanjutkan hidupnya yang telah berantakan itu. Tapi disaat yang sama, orang itu datang. Membawa kembali teror masa lalu.

“Dia siapa, Shady?” Fog memecah melodi hujan yang bergema di dalam gubuk itu.

“Aku tidak tahu.” Shadow menggeleng keras.

“Tapi, mengapa ia mengincarmu?”

“Ia terkait pada pembunuhan orang tuaku, F. Orang yang sama. Simbol yang sama.” Jawab Fog.

“Simbol apa? Aku tak melihat satupun kecuali mantel hitamnya.” Bantah Fog.

“Topi hitam, mantel hitam, celana hitam, bahkan sepatu hitam.” Lanjutnya.

Devil. He’s a devil with a fire symbol.” Ucap Shadow lirih.

“Jelaskan, Shady.” Desak Fog.

Shadow membiarkan penyataan Fog mengambang sebentar di udara. Kemudian mengambil nafas panjang, dan melanjutkan perkataannya.

“Aku tidak tahu, apakah penjelasan ini masuk akal bagimu. Tapi aku melihat simbol api pada bayangannya. Menyala terang, membakar mataku. Sama seperti sepuluh tahun lalu. Saat aku bersembunyi di bawah tempat tidur orang tuaku saat ia membunuh mereka.”

“Kau melihat simbol pada setiap orang?” Tanya Fog tanpa alasan.

“Kadang-kadang. Terutama pada seseorang yang telah menguasai elemen pada tingkat fully-fladged.”

“Apa kau melihat juga simbol itu padaku?”

“Tidak. Maaf.”

Fog tertawa panjang.

“Tentu saja. Aku masih hijau.” Dengus Fog.

Shadow berdiri dengan cepat. Dan kemudian membantu Fog juga untuk berdiri.

“Ayo, kita lanjutkan perjalanan.”

“Akan kemana kita, Shady?”

“Melakukan beberapa persiapan dan juga sedikit bantuan untuk membalaskan dendamku.” Cengir Shadow memperlihatkan deretan rapi giginya.

“K…au akan berhadapan dengannya? Dia bukanlah sebuah lelucon, Shady” Tanya Fog dengan terbata-bata.

“Aku harus. Untuk mereka.”

***

(to be continued)

Kutipan di awal paragraf diambil dari dialog dalam film Green Lantern yang disutradarai oleh Martin Campbell (2011).

Protected by Copyscape Web Plagiarism Checker

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s