Pieces of You


(Tammy Rahmasari)

Aidan duduk termangu menatap layar monitornya. Laporan forensik yang harus diserahkannya besok, kemungkinan tidak dapat ia selesaikan hari ini. Jam dinding menunjukkan pukul dua lewat empatpuluh menit, hanya tinggal beberapa jam lagi sampai matahari terbit.

Aidan mengacak-acak rambutnya sebagai tanda frustasi. Kata-kata yang sejak tadi berputar-putar dibenaknya tidak dapat ia rangkai menjadi sebuah kalimat. Angin bersemilir lembut dari sela daun pintu dan jendela, membuatnya kian mengantuk. Ia merebahkan tubuhnya pada sofa. Mengeliat nikmat dengan desahan seksi. Lalu kemudian menepuk kedua pipinya dengan tangannya agar tidak jatuh tertidur.

Ia termenung mengenai isi laporannya. Menyatukan setiap detail bukti, jejak, dan informasi dari tempat kejadian perkara. Namun pikirannya terganggu oleh frekuensi lain. Pemancar otaknya menangkap bayangan yang lain. Nina.

Senyumnya yang khas, pembawaannya yang tenang, tawanya yang renyah, tubuhnya yang hangat…

Aidan menggelengkan kepalanya, berusaha mengenyahkan Nina dari dalam pikirannya. Tapi tidak bisa. Ia terus menyelam ke dasar hatinya, mengumpulkan kepingan rasa tentang Nina hingga akhirnya ia merasakan hal itu kembali. Hatinya sakit karena merindunya.

Semua itu berawal dari ia tergoda akan kehadiran sosok wanita lain. Nina terlalu sempurna dimatanya, ia kadang perlu ketidaksempurnaannya agar saling melengkapi. Karena lelaki kadang-kadang perlu menjadi superior, di depan wanita yang ingin ia lindungi.

Ia terus mencoba untuk tidak memperlihatkan sisi lemahnya jika sedang berhadapan dengan Nina. Dan sepertinya hal itu tidak berhasil. Ia selalu mendapati dirinya tanpa perisai dan tanpa pertahanan. Tapi Nina bak putri es, selalu memasang topeng dingin pada wajahnya. Padahal jika saja ia melunak, Nina akan mendapati Aidan bertekuk lutut di depannya.

Rindu. Apakah itu rindu?
Bersemayam dalam hati dan mengganggu kalbu.
Menghantui jiwa juga membekukan raga.
Tapi, jika kupikir lagi…
Rindu itu cinta. Dan rindu itu kamu.

Aidan menutup laptopnya kemudian beranjak menuju tempat tidurnya.

Malam ini bukanlah malam yang tepat untuk bekerja. Ucapnya dalam hati.

Ia lalu menarik selimut. Jika beruntung ia akan bermimpi tentang Nina.

***

Protected by Copyscape Web Plagiarism Checker

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s