Messages


(Tammy Rahmasari)

Satu pesan dilayar ponselnya…

Sayang, aku kangen. Hari ini ketemuan dimana? XOXO Angel.

Seketika Nina merasakan jantungnya tertusuk pisau tak kasat mata. Pesan singkat itu mempengaruhinya lagi. Beberapa hari dalam seminggu ini, dia menemukan pesan dari wanita bernama Angel di ponsel kekasihnya, Aidan.

Setiap kali ia membacanya, rasa cinta yang dimilikinya terus meluntur seperti sebuah baju usang, yang warnanya akan terus pudar seiring dengan bertambahnya waktu. Nina membeku diam duduk pada sebuah sofa di apartemennya, memandang potret Aidan dan dirinya pada saat tahun pertama di akademi kepolisian.

Aidan bagaikan lubang hitam. Semenjak pertama kali berjumpa dengannya, Nina terus tersedot arusnya. Tidak dapat lepas. Semakin Nina menjauh, maka semakin kuat arus Aidan menggapainya. Jadi ia merelakan saja dirinya terus dibawa arus, menikmati setiap prosesnya. Tapi kini, sudah saatnya ia keluar dari harapan tak berujung ini.

“Aidan.” Nina angkat bicara.

“Hmm…” Aidan hanya melirik singkat pada Nina, lalu meneruskan kembali membaca koran.

“Kita putus saja.” Kata Nina dengan nada santai dan sambil terus menyeruput kopinya. Energi yang dibutuhkannya tiap hari sejak ia bertekad untuk bergabung dengan divisi kriminal dan investigasi.

Aidan menutup dan melipat koran yang dibacanya. Lalu kemudian memasang ekspresi serius pada wajahnya.

“Alasan?” Tanyanya.

“Satu kata. Angel.”

Nina menatap lekat-lekat mata Aidan. Tidak ada rasa bersalah atau sedikit penyesalan didalamnya. Hanya dua bola mata hitamnya yang seperti biasa selalu menghanyutkan Nina setiap kali menatapnya.

“Aku tidak mau, Nina. Habis perkara, kasus ditutup.”

“Baiklah jika itu jawabanmu. Aku saja yang pergi meninggalkanmu, terserah bagaimana kau mengartikan sikapku.” Balas Nina sambil beranjak pergi keluar dari apartemennya.

Pada saat ia akan meraih kenop pintu, Aidan menarik tangan Nina. Memeluk tubuh Nina sebentar, lalu kemudian menghempaskannya ke tembok sambil mengunci pergelangan tangan Nina agar tidak bisa melarikan diri.

“Lepaskan aku, Aidan.” Teriak Nina.

“Tidak akan.” Balas Aidan sambil menggelengkan kepalanya.

“Lepaskan. Dan sebaiknya aku tidak melihatmu di apartemenku saat aku kembali kesini.” Lanjut Nina, lalu melepaskan diri dari cengkraman Aidan.

God dammit! She’s nothing! But, you are something, babe. I don’t want to lose you. Ever.” Tegas Aidan.

Tapi, Nina tidak berbalik. Ia terus berjalan meninggalkan Aidan dan hatinya untuk pergi. Pada saat Nina pulang kembali ke apartemen malam harinya pun, ia sudah tidak menemukan lagi barang-barang Aidan dimanapun. Harga dirinya terlalu tinggi untuk dipertaruhkan bahkan hanya untuk sebuah kebohongan semata.

Just gonna stand there and watch me burn
Well that’s alright because I like the way it hurts
Just gonna stand there and hear me cry
Well that’s alright because I love the way you lie
I love the way you lie

Sejak saat itu mungkin ia tidak bisa menemukan seseorang kembali, tapi suatu saat seseorang itu pasti ada dan menghangatkan kembali tubuhnya dengan cinta.

Dan saat ini, lima tahun kemudian. Aidan berdiri tepat dihadapannya, tanpa rasa bersalah terus menjalani hubungan sebagai teman dan rekan kerja. Ia kini seorang forensik dan Nina Aparel menjadi detektif kriminal. Lubang hitam itu terus menarik apa saja didekatnya untuk mendekat. Hukum alam…

***

Protected by Copyscape Web Plagiarism Checker

Lirik : Love the Way You Lie by Eminem feat. Rihanna

Advertisements

6 thoughts on “Messages

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s