The Hangman – Chapter 6


(Tammy Rahmasari)

Clay berjalan dengan lambat menuju tempatnya tinggal selama ini sejak ia kecil. Sebuah tas besar dijinjing di tangannya. Ia hanya berdiri jauh dari pintu masuknya, memandang bangunan megah itu dari kejauhan. Ia tidak berani kembali ke rumah itu. Satu-satunya rumah yang selama ini dihuni olehnya merupakan satu-satunya tempat terakhir yang ingin ia tuju. Telah seminggu sejak ia diusir dari tempat itu. Entah mengapa kakinya terus melangkah tanpa tujuan hingga berakhir di rumah itu.

Ia terpaksa mencuri kalung itu karena pada saat itu ia sangat memerlukan uang. Padahal ia hanya mengambil kalung bibinya yang paling kecil dan paling tidak berharga. Tetapi, nenek sihir itu dengan tajam mengetahui bahwa kalungnya telah raib dengan cepat. Tidak bertanya untuk apa ia melakukan hal itu, langsung mengusirnya tanpa belas kasihan setelah melaporkannya. Jika dilihat dari banyaknya harta yang dimiliki oleh bibinya, kalung itu tidak bernilai sama sekali.

Muak akan bibinya, ia berjalan menjauhi rumah itu. Ia mengambil jalan yang berlawanan dengan arah datangnya tadi. Mulanya Clay berjalan tanpa arah, tidak tahu akan pergi kemana. Semua teman yang pernah dimintai pertolongan olehnya, kini tidak dapat membantunya lagi. Ia lalu teringat, di dekat rumah itu tidak jauh terdapat sebuah bangunan tua yang tidak terawat lagi. Pada saat ia kecil, ia ingat bangunan itu digunakan sebagai gedung pertunjukkan. Sambil mempertahankan sisa harga dirinya, ia terus melangkahkan kakinya menuju lokasi bangunan tersebut daripada ia harus kembali ke dalam rumah itu. Masa depannya kelak akan ia pikirkan besok. Mulai saat ini ia akan mencoba untuk hidup mandiri karena sejak lama ia telah berada dalam pengaruh bibinya yang keras.

Clay berusaha menyingkirkan pikirannya yang mengganggu. Sudah cukup ia terus menekan hatinya bertahun-tahun. Walaupun ia tidak memiliki apapun, setidaknya hatinya lebih lega. Ia terus melangkah dalam jalan setapak menuju bangunan tersebut. Jalannya kini tertutup oleh alang-alang tinggi. Ia sebenarnya tahu, ia bisa berjalan pada sisi jalan raya menuju bangunan tersebut. Tetapi, jalannya terlalu memutar jauh. Lebih baik ia melewati jalan setapak itu. Lagipula ia tidak ingin kedatangannya dilihat oleh orang lain.

Clay lalu berdiri tidak jauh dari pintu masuk utama bangunan itu. Saat ia akan melangkah keluar dari alang-alang yang menutupi hampir seluruh badannya. Ia melihat sebuah mobil baru saja keluar dari lahan bangunan tersebut menuju jalan raya. Clay berhenti sejenak sebelum melanjutkan niatnya. Menimbang-nimbang apakah keputusannya memasuki area milik orang lain dapat dibenarkan. Mungkin saja orang dalam mobil itu adalah pemiliknya. Lalu bagaimana jika ternyata orang tersebut masih di dalam?. Ia terus berpikir apa jalan terbaik yang dapat ia ambil.

Aku lebih baik tertangkap karena masuk tanpa izin disini, daripada harus kembali ke dalam rumah itu. Jerit hatinya.
Ia melihat pintu masuknya di kunci dan di rantai dengan kuat. Ia lalu memutari bangunan terebut mencari celah untuk ia masuk ke dalamnya. Ia kemudian menemukan salah satu jendela pada bangunan tersebut yang celahnya tidak tertutup rapat. Sedikit demi sedikit ia membukanya. Setelah kakinya menapak pertama kalinya di dalam bangunan tersebut, ia terus berjalan mengendap-endap di balik benda yang dapat melindungi tubuhnya.

Clay berusaha menyesuaikan matanya dengan lingkungan sekitarnya yang gelap. Gedung pertunjukkan itu ternyata lebih tidak terawat dari yang ia pikirkan. Lantai kayunya sudah banyak yang berlubang. Ia sampai harus meredam jatuhnya agar tidak terdengar oleh seseorang yang berada dalam bangunan tersebut atau mungkin sebenarnya hanya ia saja yang ada dalam bangunan tersebut.

Ia berhenti pada sisi kanan panggung. Clay berusaha menajamkan indera pendengarannya sekali lagi. Tapi satu-satunya suara yang dapat ia dengar adalah suara angin yang lolos dari salah satu celah dalam bangunan tersebut. Maka ia pun lega. Dengan santai ia melemparkan tasnya pada lantai kayu yang penuh dengan debu.

Clay mengeluarkan pematik yang ia miliki dan menyalakannya. Ia berandai-andai tentang ukuran bangunan itu. Dari luar memang tidak tampak besar. Tetapi saat berada di dalamnya, ruangan tersebut terasa luas dan lapang. Sayang sekali bangunan itu tidak digunakan kembali. Ia mengarahkan pematiknya kearah lantai agar ia leluasa untuk berjalan. Clay merasakan konduksi panas di ujung jempolnya yang disebabkan oleh nyala api yang menjalar pada pematiknya.

Mula-mula Clay berjalan mulai dari tempatnya berdiri menyusuri dinding bangunan tersebut. Ia tidak berani menyalakan lampu—jika memang ada—karena ia takut akan memancing seseorang sadar ada yang memasuki bangunan ini tanpa izin dan melaporkannya pada pihak berwenang. Jika itu terjadi, ia tetap harus berurusan dengan bibinya, karena hanya ialah satu-satunya orang yang dapat menjaminnya.

Ia terus berjalan sambil menghindari lantai bangunan tersebut yang kayunya sudah berlubang-lubang. Sesekali ia menemukan bangkai binatang dimana-mana, lalu juga ia melihat jejak seseorang yang pernah menyalakan api pada salah satu drum. Beruntung—ia bukan satu-satunya orang yang pernah kemari. Pada saat ia menemukan tangga yang menghubungkannya dengan podium, ia mematikan pematiknya. Ia mengibaskan jempolnya ke udara. Panas dari pematik tersebut tenyata tidak dapat ia tahan. Kemudian Clay terpaksa melanjutkan kegiatannya dalam gelap.

Clay mencari sesuatu yang dapat dipakainya untuk alasnya tidur. Pada saat ia meninggalkan rumah itu, ia hanya membawa beberapa potong pakaian, uang tabungannya, serta foto kedua orangtuanya. Ia harus bertahan melewati malam ini, agar ia dapat memulai hidup baru dengan caranya sendiri.

Sadar ia tidak dapat melihat dalam kegelapan, ia lalu menyalakan kembali pematik gasnya. Ia kini berdiri di tengah-tengah podium dan mengarah ke barisan kursi penonton yang kini sama sekali tidak ada satupun yang tersisa, hanya timbunan kardus, beberapa drum, dan rak-rak kosong. Clay tiba-tiba menghentikan langkahnya ketika ia terpeleset jatuh dan mencium lantai kayu bangunan itu yang kotor. Pematik gas yang tadi ia pegang kini menghilang entah kemana. Dengan panik ia berusahamencari kembali pematiknya.
“Huh… dimana pematik sialan itu!” Marahnya.
Clay terus meraba lantai untuk mencari pematik apinya, lalu kemudian ia berhenti karena menyentuh cairan yang menggendangi podium itu. Ia menyentuh cairan tersebut dengan ujung jarinya dan kemudian menciumnya.

Hanya air. Pikir Clay.
Ia kemudian meneruskan pencariannya. Tetapi pada saat akhirnya ia menemukan pematiknya ia merasakan adanya air yang menetes-netes pada puncak kepalanya. Dengan cepat ia menyalakan pematiknya kembali dan menengadahkan kepalanya ke arah langit-langit. Pada saat pertama ia tidak benar-benar menyadari apa yang tergantung di atas kepalanya. Tetapi, setelah memindah-mindahkan letak pematiknya ia menyadari bahwa ternyata itu adalah seorang wanita yang tergantung.

Clay terjatuh dengan keras pada lantai, ia tidak mempedulikan tubuhnya nyeri karena langsung membentur lantai. Ia masih menatap kosong pada mayat yang tergantung tersebut saat air yang keluar dari tubuhnya terus menetes padanya dan mengalir pada tubuhnya. Perlu waktu beberapa saat bagi Clay untuk sadar dan kemudian berlari menuju pintu.

***

Lutz dan Eric berjalan menyusuri lorong di lantai dua markas kepolisian. Ia beruntung Eric dapat dibujuk untuk bekerja sama dengannya saat ini. Eric adalah seorang seniman jalanan yang kadang-kadang membantu kepolisian untuk menggambar sketsa wajah seeorang. Lutz langsung menelepon Eric Sanchez setelah mendapat kabar mengenai tuna wisma yang ditemukan oleh Nina. Pada saat itu Eric akan melakukan perjalanannya ke luar negeri dan berhasil dibujuk oleh Lutz agar jadwal penerbangannya diundur dengan syarat semua biaya akan ditanggung oleh pihak kepolisian karena keterlambatannya.

Lutz berjalan mendahului Eric sambil mengelus pelipisnya. Ia mempertaruhkan diri saat ia memilih Eric untuk datang dan memberitahu Mirrh setelahnya. Benar saja, Mirrh yang kala itu sedang dalam kondisi tidak ramah langsung meneriaki Lutz karena anggaran Dewan kota untuk kasus ini mulai terkuras habis. Beruntung Lutz telah lama bekerja dibawah pimpinan Mirrh, sehingga walaupun ia diteriaki sampai kepalanya hampir pecah, ia bisa mendapatkan izin untuk mendatangkan Eric yang biaya bantuannya hampir setinggi langit.

Lutz mempersilakan Eric untuk memasuki ruangan tempat Nina dan tuna wisma itu berada. Eric melihat sekilas ke dalam ruangan tersebut, lalu kemudian mundur kembali sambil menarik bahu Lutz.
“Sudah kubilang, jangan di ruangan interogasi. Aku meminta ruangan biasa, jika perlu pakai ruanganmu” Kata Eric sambil cemberut.

Setelah menghela nafas Lutz menjawab, “Maaf, tapi tinggal ruangan ini yang tersisa. Sedangkan jika berada di ruanganku, aku tidak bisa menjamin kerahasiaannya karena banyak orang yang keluar masuk di ruangan itu. Jadi pilihannya hanya disini atau tidak sama sekali.”
“Kau mengancamku setelah memaksaku kemari?” Balas Eric dengan nada mengejek.
“Bekerja samalah, Eric. Hanya kali ini saja, biasanya aku selalu mengakomodasi semua keinginanmu.”
Lutz tidak tahu cara memohon. Ini adalah kemampuan terbaiknya saat ini. Jadi pada saat ia melihat wajah Eric melunak, ia tahu bahwa caranya telah berhasil. Ia kemudian mempersilakan Eric kembali untuk masuk yang kemudian disusul olehnya. Ia memberikan Nina sebuah anggukan singkat saat memasuki ruangan itu. Ruangan yang pengap itu langsung terkontaminasi oleh bau tidak enak yang keluar dari tuna wisma tersebut. Nina yang tengah duduk disampingnya langsung berdiri dan berjalan kearah Lutz dan Eric. Ia menjabat tangan Eric singkat lalu kemudian memperkenalkan tuna wisma itu sebagai Rob.

Tidak sulit bagi Eric untuk menggambar sketsa wajah orang yang dideskripsikan oleh Rob karena kemampuannya yang hebat, oleh sebab itulah Lutz langsung memilih Eric di urutan pertama. Dengan sedikit menghapus, mengarsir, dan menambahkan detail-detail tertentu Eric telah berhasil menggambar sesosok wajah seorang pria asing yang telah ditangkap oleh Rob sosoknya pada malam Sarah Adams diculik dan menghilang. Walaupun Rob sepertinya kurang berusaha keras untuk mendeskripsikan wajah pelaku. Tetapi, Lutz mengerti pada saat itu keadaan sekeliling pastilah gelap dan tempat yang ditunjukkan oleh Rob seingatnya kurang sekali pencahayaannya. Dan walau bagaimanapun, ini adalah kemajuan yang berarti bagi kasus ini.

Ia melihat sketsa final yang diperlihatkan Eric padanya dan Nina. Lutz tampak tidak mengenali wajah yang tergambar pada selembar kertas itu. Ia menangkap matanya yang dalam, gelap, dan dingin. Rahangnya keras mempertegas wajahnya yang dingin. Jika saja ia bisa mengingat seseorang yang memiliki wajah seperti itu. Tetapi, ia sama sekali tidak ingat. Berpuluh-puluh orang yang telah ia temui yang terlibat dalam kasus ini, tapi tidak seorangpun yang hinggap dalam kepalanya. Ia terus menerus menatap kosong pada kertas itu sebelum dikejutkan oleh ketukan pada pintu di ruangan itu.
***

Nina memandang kertas sketsa wajah itu sambil terus berpikir. Ia merasa pernah melihat seseorang yang memiliki wajah seperti itu entah dimana. Pikirannya terus melayang mulai dari pertama kali ia mendapatkan kasus ini, orang-orang yang pernah di temuinya, seseorang yang pernah berbicara dengannya, foto-foto yang pernah dilihatnya dalam arsip tahanan kepolisian, dan setiap orang yang dijumpainya akhir-akhir ini. Semua wajah terus meluncur deras dikepalanya, andai saja ia dapat mengingat siapa pemilik wajah itu.

Ia mendengar seseorang mengetuk ruangan interogasi itu, tapi Nina terus memusatkan perhatiannya pada sketsa wajah itu. Ia tergerak melihat kearah pintu ketika ia mendengar Melanie berbicara pada Lutz. Nina kemudian menyimpulkan ada sesuatu yang terjadi ketika ia melihat wajah Lutz berubah menjadi keras dan tidak terbaca. Nina mulai mengerti keadaan itu, saat Lutz menatap padanya dengan mata cokelatnya yang semakin menggelap.

Lutz menghampiri Rob, menyalaminya dan mengucapkan terima kasih. Lalu, ia menghadap Eric dan memerintahkan untuk menemui seseorang yang katanya dapat mengganti semua biaya keterlambatan Eric. Lutz juga memanggil salah seorang petugas untuk menemani tamu-tamunya. Setelah keluar dari ruangan itu dan memastikan tidak ada seorangpun yang mendengarnya, ia berdiri disebelah Nina dan berhadap-hadapan dengan Melanie.

“Ulangi semua yang tadi kau katakan padaku.” Ucap Lutz singkat.
“Tadi aku mendapatkan laporan dari petugas patroli bahwa telah ditemukan sesosok mayat tergantung di sebuah bangunan tua di bagian Selatan. Baik ponselmu dan ponsel Nina tidak dapat dihubungi, jadi telepon itu langsung dialihkan padaku.” Jelas Melanie.
Kemudian menambahkan, “menurut petugas yang sedang tidak sengaja melintas daerah tersebut, ia sampai harus menenangkan pemuda yang menemukan mayat itu. Aku tidak tahu, apakah ini terkait atau tidak dengan kasus Hangman…”
“Lebih baik kita cepat menuju tempat itu. Lebih cepat, lebih baik” Potong Nina dan sebuah anggukan singkat tanda setuju ditunjukkan oleh Lutz.

Nina dan Lutz berjalan di pelataran parkir menuju mobil Lutz. Ternyata hari ini harus ia jalani lagi tanpa istirahat. Ia melihat Melanie pada mobil lain bersama stafnya. Lutz memasuki mobilnya dengan cepat dan tidak sabar dengan cara berjalan Nina, padahal ia telah berusaha mengimbangi satu langkah Lutz dengan dua langkahnya.

Sesaat setelah Nina duduk dalam mobil Lutz dan memasang sabuk pengaman, Lutz langsung menginjak pedal gas mobilnya sampai dasar dan menyebabkan ban mobilnya berdecit pilu memecah keheningan malam. Dari kaca spion, Nina melihat mobil yang dibawa Melanie mengikutinya rapat di belakang. Selama perjalanan itu, Lutz berteriak, menyumpah, dan memaki semua mobil yang menghalanginya.

Akhirnya, setelah perjalanan panjang itu mereka mengarah pada bangunan tua yang tampak tidak terurus yang kini menjadi sorotan semua cahaya yang dihasilkan dari mobil-mobil yang parkir disana. Entah bagaimana media bisa dengan cepat mencium peristiwa ini sebelum polisi datang. Dengan adanya media massa ditempat tersebut, mau tidak mau masyarakat yang penasaran pun datang berkerumun di tempat itu.

Nina dan Lutz kemudian keluar dari mobil itu menerobos kerumunan langsung menuju bangunan itu yang sekelilingnya telah diberikan garis pembatas oleh salah satu petugas. Mereka langsung menuju petugas yang pertama kali tiba di tempat untuk menggali keterangan lebih jauh. Sedangkan Melanie diikuti oleh Ken dan Lisa, langsung menuju tempat mayat tersebut berada.

Nina diarahkan oleh salah seorang petugas polisi yang berada ditempat itu menuju salah satu mobil patroli yang didalamnya terdapat seorang pemuda sedang bersandar pada jok kursi belakang dengan kedua matanya tertutup.
“Saat kami datang kemari, ia sangat histeris karena telah melihat mayat itu sehingga kami perlu waktu lama untuk menenangkannya.”
Nina berjalan menuju pintu mobil itu tanpa diikuti oleh petugas tadi. Ia membuka daun pintunya perlahan agar tidak mengejutkan pemuda itu. Tetapi, ternyata pemuda itu masih terjaga dan langsung membuka mata seketika saat pintu terbuka dengan berderit.
“Halo, aku Detektif Nina Aparel.” Nina mengulurkan tangan kanan padanya, “dan kau?”
“Clay. Clay Ashville.” Jawabnya sambil menyambut tangan Nina dengan tangannya yang tadi tersembunyi dibalik saku jaket yang ia pakai.
“Bagaimana keadaanmu?” Lanjut Nina.
“Baik. Aku tidak bisa lebih baik lagi dari ini.”
“Aku mengerti, Clay. Baiklah, aku ingin kau menceritakan detail bagaimana bisa berada di tempat ini sampai kau menemukan mayat itu?” Tanya Nina.
“Aku… Aku sedang berjalan-jalan disekitar sini sebelumnya. Aku biasa berjalan-jalan di daerah ini. Lalu, aku memutuskan untuk melihat ke dalam bangunan ini. Lalu tanpa sengaja melihat… itu menggantung. Dan perlu waktu bagiku untuk menyadari bahwa aku telah menemukan mayat.” Jelasnya sambil memalingkan mukanya saat ia menutup kalimat terakhirnya.

Nina menyadari ada sesuatu yang tidak Clay jelaskan dengan benar. Penjelasan singkatnya seakan-akan menyembunyikan sesuatu hal yang tidak boleh diketahui orang lain.
“Dimana rumahmu?” Tanya Nina kembali.
“A…ku tinggal di dekat sini.”
“Siapa nama orangtua-mu?

Clay mendonggakan kepalanya dan manatap lurus kearah mata Nina, lalu kemudian menjawab, “Annie dan Mark Ashville.”
“Bisakah kau beritahu berapa nomor telepon rumahmu atau ponsel orangtua-mu agar kami dapat menghubunginya?”
“Me…mereka tidak sedang berada di rumah saat ini.” Clay menunduk kembali.
Nina mengernyit curiga pada anak itu. “Clay—kau sedang tidak berbohong padaku kan?”
Belum sempat Clay menjawab pertanyaan Nina, Lutz datang menghampirinya dan mengajaknya menjauhi tempat itu untuk sebentar saja berbicara dengannya.

“Ini memang pekerjaannya.” Ucap Lutz. “Melanie sedang melakukan tugasnya untuk mengetahui apakah mayat itu memang Sarah Adams atau bukan. Tetapi, dari caranya memperlakukan korbannya, tanpa petunjuk lebih pun aku tahu ia yang melakukannya. Mayat itu tergantung pada seutas kawat baja ditengah-tengah panggung, dimutilasi, semua darah telah dikeluarkan dari tubuhnya, dan hal sama lainnya yang telah ia lakukan pada korban sebelumnya.”
“Apa kali ini yang diambilnya?” Tanya Nina tajam.
“Batang tubuhnya.”

Nina terdiam beberapa saat untuk mencerna semua perkataan Lutz. Hangman ternyata memang mengacak-acak urutan pengambilan bagian tubuh itu. Nina berpikir apakah urutan tersebut mengandung makna tersembunyi baginya. Atau ia hanya memutuskan saat itu juga bagian tubuh mana yang akan ia gunakan. Dimulai dari korban pertama yang lengan kiri atasnya hilang, lalu korban kedua yang lengan kiri bawahnya hilang, korban ketiga yang paha kirinya hilang, korban keempat yang paha kanannya hilang, dan sekarang korban kelima yang batang tubuh atau torsonya hilang.
“Bagaimana dengan petunjuk?”
“TKP sungguh berantakan. Anak itu —sambil mengarahkan dagunya kearah Clay—bergerak kesana-kemari pada lantai kayu tempat itu sehingga menghapus jejak dan menyapu bersih semua air yang menetes dari mayat itu.”
“Air?”

“Ya… kali ini kita mendapatkan korban yang masih belum lama terbunuh. Seandainya saja kita mendapatkannya dalam keadaan hidup.” Respon Lutz.
“Aku akan langsung ke dalam jika telah selesai dengan anak itu. Ia berbohong Lutz. Entah mengapa aku tahu hal itu, tapi ia sedang menyembunyikan sesuatu disini.” Nina langsung memotong kalimat Lutz.

“Ia mungkin kabur dari rumah? Tas besarnya ada di dalam, tidak jauh dari tempat di temukannya Jane Doe kita yang baru.”
Nina menggeleng perlahan. “Tidak. Kupikir ia memang tinggal di daerah sekitar sini. Ia mengetahui tentang bangunan ini. Bagi orang yang asing akan tempat ini, mereka tidak akan menemukan tempat ini dengan mudah, apalagi dengan tidak adanya lampu jalan atau cahaya apapun. Mereka pasti akan langsung meninggalkan tempat ini. Atau mungkin juga sama sekali tidak menyadari tempat ini ada.”

“Kau benar. Baiklah, aku akan bergabung dengan Melanie kembali. Dan kau…” tunjuk Lutz. “cepat masuk setelah selesai dengan bocah Pinokio itu.”
Nina tertawa sambil berlalu, “jika saja hidungnya dapat memanjang, aku akan tahu jika ia berbohong.”

***

Sebelum Nina kembali menghampiri Clay, ia mendekati petugas yang tadi membawanya pada Clay.
“Tolong periksa latar belakang anak itu. Namanya Clay Ashville. Panggil aku jika telah selesai.” Singkat Nina.
Nina berjalan sambil terus mengamati Clay Ashville. Mata liar Clay terus-menerus menghindari kejaran mata Nina. Dugaan Nina memang kuat, pemuda itu memang sedang menyembunyikan sesuatu. Nina memasuki mobil patroli itu dari arah berlawanan dengan dengan duduknya Clay. Ia langsung memposisikan dirinya di sebelah Clay. Ia tidak berbicara apapun. Hanya menatap Clay, mencoba terus mengejar arah matanya.

“Apa yang kau mau dariku?” Akhirnya Clay bicara.
“Yang sejujurnya.” Balas Nina.
“Seperti yang telah kuberitahu padamu sebelumnya. Hanya itu yang aku ketahui. Aku baru pertama kali kembali ke tempat ini setelah enam tahun. Aku juga baru pertama kali melihat wanita itu, walau sebenarnya aku tidak terlalu jelas melihat wajahnya.”

“Aku tidak menyangsikan kesaksianmu mengenai hal itu, Clay. Hanya saja ada kepingan puzzle yang harus kau isi dalam ceritamu, dan aku ingin mencari kepingan itu.”
Clay bergerak tidak nyaman di sebelah Nina. Kali ini arah pandangannya seakan-akan menembus lantai mobil itu.
“A−ku melihat seseorang meninggalkan lahan ini sesaat setelah aku tiba disini.”
Walau sedetik, Nina merasakan degup jantungnya terlonjak sesaat.

“Seperti apa orang itu?”
“Aku tidak menangkap sosoknya dengan jelas dibalik topinya. Ia mengenakan pakaian hitam atau gelap. Ia mengendarai sebuah sedan atau wagon. Entahlah, tidak jelas.”
“Perkiraan waktu dari saat ia pergi sampai kau memanggil polisi berapa lama?”
“Sepertinya sekitar satu atau lebih setengah jam. Perlu waktu bagiku untuk masuk ke dalam gedung itu dan aku membutuhkan waktu yang lebih banyak untuk menyadari apa yang terjadi.” Katanya.

Dari sudut matanya, Nina melihat petugas yang tadi diberinya perintah untuk mengecek data pribadi Clay menghampiri mobil itu. Setelah mengucapkan sedikit kata-kata pada Clay untuk terus berada disana dan ia masih memerlukan keterangan darinya, Nina keluar dari mobil itu. Ia sengaja memposisikan dirinya jauh dari jangkauan pendengaran Clay.
“Apa yang kau dapat?” Tanya Nina.

Petugas tersebut membuka buku catatan dan kemudian membacanya, “namanya Claude Ashville. Nama kedua orangtuanya adalah Annelle dan Mark Ashville. Kedua orangtuanya telah meninggal dalam kecelakaan mobil delapan tahun yang lalu. Hak asuhnya kini diserahkan pada adik ibunya yang bernama Janelle Hall. Ia tercatat sebagai siswa sebuah sekolah swasta terkenal yang memiliki reputasi paling baik di daerah ini.”
“Jadi benar ia berbohong.” Singkat Nina.
“Namanya juga pernah tercatat dalam data kepolisian atas tuduhan pencurian sekitar seminggu yang lalu. Ironisnya laporan tersebut terdaftar atas nama Janelle Hall. Lalu kemudian, duabelas jam kemudian laporan itu dicabut kembali oleh bibinya. Perlu kutambahkan, Janelle Hall adalah anggota Dewan Kota terpandang dan merupakan donatur tetap pada beberapa yayasan sosial.”

Nina mengernyit mendengar pernyataan petugas itu. “Apa tepatnya yang ia curi? Dan bagaimana kau bisa mendapatkan informasi detail seperti itu?”
Petugas itu tersipu malu sebelum ia kembali berbicara, “untuk keterangan biodatanya, aku mengakses catatan kepolisian dengan akses terbatasku. Lalu detail selanjutnya, tidak dapat kusangkal lagi karena merupakan pembicaraan yang berkembang dari mulut ke mulut di daerah ini. Tetapi, aku tidak tahu benda apa yang telah ia curi.”
“Terima kasih, opsir…. “
“Gareth”.
“Terima kasih, Gareth. Atas informasinya. Kembalilah pada tempatmu berjaga dan tolong hubungi bibinya.”

Setelah mengucapkan salam perpisahan pada petugas tadi, Nina kembali menghampiri Clay dan duduk disebelahnya.
“Aku sudah memerintahkan salah seorang petugas untuk memanggil bibimu.” Kata Nina pada Clay yang kemudian di responnya dengan memalingkan wajahnya kembali menghindari arah tatapan Nina.
Clay mendengus dan berkata sinis, “Terima kasih, Detektif.”
“Maafkan aku, tapi ia masih memegang hak asuhmu terlepas dari semua masalahmu dengannya. Nah… sekarang ceritakan lagi padaku mengenai orang itu.”

Walau Clay hanya memandang Nina sekilas, tapi Nina dapat menangkap sorot matanya yang pedih. Ia menghembuskan nafas dengan berat sebelum akhirnya bekerjasama kembali dengan Nina.
“Tingginya hampir sama dengan Detektif yang tadi berbicara denganmu. Ia membawa tas hitam besar yang mirip dengan tas olahraga. Tangannya seperti terbungkus dengan sarung tangan karet yang pernah kupakai di kelas biologi. Aku sangka ia pemilik tempat ini, pembawaannya begitu tenang sehingga aku merasa perlu bersembunyi pada semak-semak −sambil mengarahkan tangannya pada semak-semak yang ia maksud−di sekitar sana. Sepanjang aku hidup di daerah ini, aku belum pernah melihatnya.”
“Dimana kiranya posisi mobilnya terparkir?” Tanya Nina.

Clay menunjuk tempat tersebut yang kemudian diikuti oleh mata Nina.
“Hanya itu yang bisa ku katakan padamu.” Lanjut Clay.
“Tidak apa-apa. Jika ada sesuatu hal yang dapat kau ingat, hubungi aku.” Balas Nina terakhir kali sambil menyerahkan kartu namanya pada Clay.
Sebelum Nina memasuki bangunan tersebut dan bergabung dengan Lutz, terlebih dahulu ia meminta salah seorang petugas untuk memasang pita kuning pada tempat tersembunyi di sebelah bangunan itu yang tadi ditunjukkan oleh Clay.

***

Ia memasuki ruang pribadi dalam apartemennya. Tempat ini merupakan salah satu tempatnya bernaung selama ini dengan menggunakan identitas palsunya. Nama yang tertera pada kontrak sewanya adalah seseorang yang secara kebetulan bertemu dengannya. Ia menggunakan identitas barunya setelah membunuh orang tersebut dan membuang mayatnya dalam hutan yang paling dalam sehingga mustahil bagi orang lain untuk menemukannya.

Ia merebahkan tubuhnya pada sebuah kursi malas yang sudah tidak nyaman lagi. Ia berusaha menyesuaikan standar hidupnya yang sekarang dengan lingkungan tempat tinggalnya. Sejak ia bebas dari cengkeraman ayahnya, ia sudah mulai belajar sedikit demi sedikit untuk menggunakan berbagai identitas. Ia berusaha tidak terlibat dengan siapapun, tidak mengizinkan seseorang mengenalnya dengan baik. Semenjak ia lulus dari gelar sarjananya yang kedua, ia merasa lebih lega. Tidak perlu lagi kegiatan sosial untuk mendongkrak nilainya, tidak perlu lagi ikut dalam kelompok belajar, dan ia tidak perlu lagi menjilat semua dosennya.

Ia meraih remote-control televisinya. Pada layarnya langsung menampakkan stasiun berita yang biasa ditontonnya. Ia melihat bangunan tua yang baru saja ia tinggalkan terpampang jelas pada layar kaca. Hanya saja kali ini bangunan itu tersorot oleh puluhan lampu yang membuatnya lebih bercahaya.
Panggung pribadinya.

Ia tersenyum melihatnya. Ia tidak menyangka polisi dan media dapat secepat ini menemukan Sarah. Kemungkinan terbesar adalah seseorang melihatku saat itu. Seharusnya ia merasakan ketakutan, tapi yang terjadi sekarang ia malah bersemangat.

Apa mereka sudah menemukan pesanku?
Ini mulai menarik. Aku kini mendapatkan publisitas yang cukup untuk karyaku.

Ia mengambil buku catatan yang ia tempatkan dalam tas olahraganya. Buku catatan itu selalu ia bawa jika hal itu memungkinkan. Dalam buku catatan itu ada sepuluh baris daftar nama yang telah ia beri nomor secara berurutan. Dari nomor satu sampai empat telah ia coret dengan menggunakan bolpoin merah. Lalu dengan menggunakan warna yang sama ia mencoret nama pada urutan kelima.
Ia kemudian melirik pada nama di urutan keenam.
Hmm… Callie yang manis.

***
(myalizarin)

Protected by Copyscape Web Plagiarism Checker

Advertisements

6 thoughts on “The Hangman – Chapter 6

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s