The Hangman – Chapter 5


Oleh : Tammy Rahmasari

Nina menghirup aroma kopinya yang kelima dalam satu hari ini. Empat hari telah berlalu sejak Sarah diculik. Ia dan Lutz belum menemukan petunjuk apapun untuk menangkap pelakunya. Mirrh bahkan telah mendesak mereka untuk bekerja lebih keras dari biasanya, walau hanya sekedar untuk menyusun daftar tersangka. Karena Mirrh secara tidak langsung, telah didesak oleh pihak dewan kota untuk cepat menyelesaikan kasus ini.

Nina merasakan pusing sejak kemarin malam. Ia tidak sempat tidur karena terus melakukan penyelidikan atas kasus ini. Matanya lelah melihat semua huruf dalam laporan yang berserakan di atas mejanya. Ia merasa tidak perlu membereskannya saat ini karena ia takut jika ada hal kecil yang dapat ia hilangkan. Ia berusaha memejamkan matanya pada sandaran kursinya. Tetapi, sedikitpun ia tidak bisa tidur. Bayangan akan nyawa Sarah berada di tangannya dan Lutz membuat beban pekerjaannya semakin berat.

Ia melayangkan pandangan kearah Lutz yang sejak dari saat datang selalu menempel ketat pada pesawat teleponnya. Nina tidak berani mengganggu Lutz pada saat serius karena bagaimanapun berusaha mendapatkan perhatiannya, Lutz tetap berkonsentrasi pada hal sedang dilakukannya.

Ia tahu Lutz kesal dengan statisnya perkembangan kasus ini. Malam-malam sebelumnya ketika ternyata ada rekaman dari kamera pengawas di restoran tempat Sarah bekerja, telah membawa angin segar padanya. Tetapi, rekaman itu tenyata sama sekali tidak dapat diolah lebih lanjut. Pencahayaannya kurang sehingga apa yang terlihat pada rekaman itu hanyalah bayangan gelap seorang yang dicurigai adalah pelaku sedang membetulkan mobilnya pada saat Sarah datang. Tidak terlihat plat mobil, jenis mobil, dan ciri-ciri orang tersebut.

Melanie menyatakan bahwa jejak ban yang tertinggal di lorong tersebut akan diselidiki lebih lanjut untuk menentukan jenis mobil yang dipakai oleh seseorang yang gambarnya terlihat tidak jelas di dalam rekaman itu. Sayang sekali jejak kakinya tidak dapat teridentifikasi karena banyaknya jejak lain yang terdapat pada lorong itu. Padahal jika saja jejak itu muncul, Melanie kemungkinan dapat menganalisa profilnya. Dalam rekaman, orang itu tidak terlihat jelas karena berdiri dalam posisi membungkuk dan tersembunyi dibalik kap mobilnya. Dan pada saat ia meninggalkan tempat itu, ia sengaja memilih area gelap yang memungkinkannya tidak dapat terlihat.

Jika saja saat itu ada saksi, pikir Nina.

Nina bertanya pada semua orang yang berhubungan dengan Sarah Adams. Mulai dari psikolognya, istri psikolognya, teman kerjanya, sampai keluarganya yang berada di luar kota. Tetapi, tetap saja ia tidak menemukan sedikitpun titik terang. Harapan yang ia pikir akan berpihak padanya, kini hilang tanpa bekas. Ia dan Lutz kini harus mulai kembali dari titik awal.

Nina membuka kembali laporan pertama kasus tersebut. Merasakan huruf-hurufnya berputar-putar di sekitar matanya. Kemampuan tubuhnya telah mencapai batas maksimum. Ia melemparkan kembali berkas itu kembali ke mejanya, lalu kemudian menyandarkan kepalanya pada kursinya. Ia mencoba beristirahat dengan menutup matanya. Tetapi, pikirannya terus melayang pada dua hari sebelumnya. Saat Maddie Rayn berteriak padanya.

Saat itu, ia baru saja kembali ke markas dari wawancaranya dengan rekan kerja Sarah. Walaupun ia tidak mengerti mengenai psikologi, setidaknya ia tahu dan dapat membedakan antara seseorang yang berbohong dan yang tidak. Dari kesannya terhadap semua rekan Sarah, mulai dari Ethan Hayes, Sandy Ray, hingga Stacy Ingham tidak menunjukkan mereka terlibat dengan hilangnya Sarah. Sandy yang merupakan istri Dr. Ray sampai terguncang karena berita itu. Ia juga bertanya pada teman Sarah lainnya, Raul Estavez. Raul tidak menunjukkan tanda-tanda berbohong padanya, walaupun ia tidak bekerjasama dengan baik dengan dengan pihak kepolisian.

Nina dan Lutz lalu kembali ke markas. Dalam perjalanannya menuju markas Nina sampai harus menahan nafas karena cara mengemudi Lutz. Lutz menginjak pedal gas sampai dasar sehingga mau tidak mau Nina harus berpegangan pada sesuatu. Sejak awal berpartner dengan Lutz, baru kali ini Lutz menunjukkan berbagai emosi yang dimiliki padanya. Marah, kesal, dan gembira. Padahal saat pertama kali bertemu dengannya, nyalinya langsung ciut ketika Lutz menunjukkan sikap dingin padanya. Ia tidak pernah membayangkan Lutz mulai mencairkan tembok disekitarnya. Nina bahkan tahu mengenai kecelakaan anak Lutz yang telah meremukkan hatinya. Ia mendengarnya belum lama ini, Melanie memberitahunya mengenai hal itu setelah Lutz menyinggung tentang mantan istrinya saat rapat terakhir. Saat itu, hati Nina terasa sakit karena tidak dapat mendampingi paman Jensen-nya di saat terburuknya.

Nina melangkah keluar dari mobil Lutz menuju bangunan tempat kerjanya selama ini. Ia mulai terbiasa menganggap markas sebagai rumah keduanya. Terutama di saat sibuk seperti ini. Ia tidak sempat untuk pulang dan kembali lagi kesini. Lagipula di tempat manapun ia selalu merasa kesepian. Lebih baik baginya untuk dikelilingi orang yang dikenalnya daripada berdiam diri di rumah yang terasa asing.

Ia berjalan memasuki gedung dengan mantap. Bersemangat untuk melanjutkan pekerjaannya kembali. Padahal waktu pertama kali ia mendaftar di akademi, yang ia ingat adalah suatu hari dapat melacak dan menangkap pembunuh keluarganya yang sampai saat ini belum ditemukan. Di lobi tampak beberapa petugas yang mengenalnya tersenyum padanya. Lalu ia pun balas tersenyum pada mereka. Ia melihat diantara orang-orang tersebut ada yang sama sekali tidak menyukainya karena karirnya dengan cepat menanjak. Tetapi, ia tidak peduli dengan pendapat mereka. Ia telah berusaha dengan keras untuk mencapai titik ini, tidak ada yang perlu disesali karena sakit hati mereka. Karena ia tidak melakukan kesalahan apapun untuk menjadi sekarang ini.

Nina telah disambut oleh Melanie yang memang menunggunya semenjak tadi.

“Maddie datang lagi. Ia bersikeras ingin mendengar laporan terbaru tentang kasus Sarah.” Ucap Melanie.

Sarah mengerang kesal. “ia benar-benar mengesalkan.” Sebal Nina. Tapi ia tetap melangkah menuju ruangannya untuk bertemu Maddie. Selama beberapa hari ini sejak temannya menghilang, Maddie terus-menerus datang dan mengganggu ketenangan di kantor itu. Membuat semua orang tidak menyukainya.

Melanie geli melihat Nina yang seperti itu dan kemudian melayangkan pandangan kearah Lutz yang semenjak tadi tidak mengeluarkan sepatah katapun. Kemudian senyumnya hilang. Nina melihat Melanie yang tadi tertawa melihat tingkahnya, langsung terdiam karena melihat ekspresi Lutz. Ia melihat Lutz kembali menjadi Lutz yang dingin ketika kembali ke markas. Nina melihat kasus ini merupakan beban bagi Lutz. Tetapi, ia harus membantunya melaluinya kali ini. Untuk mengurai rasa bersalah yang sama sekali bukan karenanya.

Lutz mengikuti Nina memasuki ruangannya. Disusul kemudian oleh Melanie. Nina melihat Maddie lebih berantakan dari saat terakhir kali mereka bertemu. Maddie yang merasakan ada orang yang memasuki ruangan itu, langsung melayangkan pandangan pada mereka bertiga. Ia melangkah kearah Nina dengan tiba-tiba. Tanpa pertahanan, Nina di terjang oleh Maddie yang emosi.

“Kau! Kau berjanji padaku akan menemukan Sarah. Tapi mana dia? Apa saja kerjamu selama ini?” Jerit Maddie.

Dengan cepat Lutz menangkap pergelangan tangan Maddie dan melipatnya ke belakang. Seketika Maddie berteriak-teriak kesakitan.

“Apa kau tahu…menyerang aparat kepolisian dapat menyebabkan kau di tuntut dan dijebloskan dalam sel tahanan.” Tegas Lutz.

“Aku tidak menyerangnya! Jika saja ia dapat melakukan tugasnya dengan benar.” Bantah Maddie yang saat ini menangis.

Dengan kasar, Lutz mendorong Maddie pada sofa di ruangan tersebut. “mengapa kau tidak menyerangku? Mengapa kau tidak berkata padaku bahwa aku tidak melakukan tugasku dengan benar? Apakah hanya karena ia wanita sehingga kau berani padanya.”

“Kau tidak tampak lebih bodoh darinya.” Balas Maddie dengan sinis.

“Dan kau? Apa kau pikir, kau lebih pintar darinya?” Dengus Lutz.

Nina yang mendengar pernyataan Maddie hanya berdiri mematung di tempatnya saat ini. Ia merasakan tangan Melanie menggapainya. Mengusap punggungnya dengan khawatir. Nina berpikir, mungkin saja apa yang dikatakan oleh Maddie benar. Atas dasar apa ia begitu percaya diri menerima kasus ini. Ia yang belum berpengalaman sebelumnya, tanpa ragu mengambil kesempatan yang waktu itu disodorkan di depan hidungnya. Setelah berpikir lama, ia menyadari bahwa alasan utama ia menerima kasus ini karena ia ingin dekat dengan Lutz. Ingin mengenal lebih jauh orang yang selama ini ia anggap sebagai ayahnya sendiri.

“Lalu apa buktinya? Sampai saat ini bukti keberadaan Sarah pun tidak dapat kalian temukan.” Balas Maddie.

“Kau pikir, kami tidak melakukan tugas kami dengan benar? Lagipula untuk apa kami memperlihatkan bukti yang kami dapatkan pada orang luar. Kau pun tidak lebih pintar dariku ataupun darinya untuk menangani kasus ini. Jika kau memang ingin temanmu ditemukan, bekerja samalah dengan kami. Bantu kami dengan tidak melakukan hal-hal yang dapat merugikan dirimu sendiri.” Ucap Melanie menimpali.

Nina tidak berani menatap semua orang yang berada dalam ruangan itu. Kebenaran telah disodorkan dengan jelas padanya. Ia memang tidak dapat menemukan keberadaan Sarah. Maddie memang tidak salah. Ia juga berterimakasih pada Lutz dan Melanie karena membelanya. Tapi setelah ini, ia merasa tidak percaya diri akan kemampuannya.

“Kumohon Maddie. Berhentilah bersikap seperti ini. Berhentilah mengganggu kerja mereka. Jika saja kau tahu, mereka telah bekerja sepuluh kali lebih keras dibandingkan semua orang di departemen ini. Jika memang kau ingin temanmu ditemukan, bantulah kami dengan informasi yang kau tahu tentangnya.” Lanjut Melanie.

Maddie yang tidak suka karena perkataannya dibantah, kemudian berjalan menuju pintu. “Aku akan melihat bagaimana kerja kalian. Dan aku akan datang lagi. Sesering yang ku mau. Sebaiknya saat aku kembali, kalian sudah mendapatkan perkembangannya.” Ancam Maddie sambil meninggalkan ruangan itu.

Setelah Maddie menutup pintu diruangan itu. Lutz tidak membahas kejadian itu. Ia hanya menepuk bahu Nina dengan lembut dan berkata, “sebaiknya kita bekerja.” Katanya sambil berlalu berjalan menuju mejanya.

“Ayo sayang. Bersemangatlah. Buktikan pada Maddie yang ia katakan itu salah.” Ucap Melanie sembari meremas bahunya untuk menyemangatinya dan kemudian meninggalkan ruangan itu.

Semenjak hari itu, Nina terus memaksakan tubuhnya untuk bekerja tanpa istirahat. Berusaha bekerja lebih keras dari biasanya. Ternyata menutup matapun tidak membantunya untuk tertidur. Ia kemudian membuka kedua matanya kembali dan menyadari Lutz sedang menatap kesal padanya.

“Sebaiknya kau pulang. Kau butuh tidur.”

“Itu tidak perlu. Aku masih bisa melanjutkan pekerjaanku.” Bantah Nina.

“Akan kucarikan petugas yang akan mengantarkanmu pulang—“

“Tapi—“

“Jangan membantahku.” Teriak Lutz.

Tahu ia tidak dapat menang dari Lutz, Nina lalu mengambil jaket dan tasnya untuk pulang.

Ia benar, aku memang perlu tidur.

Tunggulah. Aku akan menangkapmu hangman, cepat atau lambat.

***

Ia berhasil mendapatkan lokasi kelima untuk memamerkan hasil karyanya. Ia kesal karena polisi-polisi itu telah mengawasi semua teater di kota ini. Sehingga ia harus menemukan lokasi pengganti untuk Sarah. Ia telah mencari ke seluruh tempat dan akhirnya menemukan tempatnya. Ia merasa perlu melakukan persiapan pada tempat itu sebelum ia menggantung karya seninya. Karena karyanya tidak sebanding dengan karya apapun didunia ini, tak ternilai harganya. Walau bagaimanapun, sebuah nyawa tidak ternilai dengan uang. Maka dari itu, ia memilih membunuh mereka. Menghargai nyawa mereka karena telah bekerja sama dengannya.

Ia memutar mobilnya kearah markas kepolisian. Ia berhenti tidak jauh dari pintu masuknya. Ia tidak mengerti mengapa ia mengambil resiko dengan datang ke tempat itu. Ia berpikir mungkin saja ada hal menarik yang akan terjadi disana.

Ia berdiam diri dalam mobilnya selama satu jam. Tidak berniat beranjak dari tempat itu. Ia menganalisa keadaan disana. Tempatnya ramai karena berdekatan dengan sekolah, balai kota, dan sebuah toko waralaba besar. Ia berpikir tidak akan melakukan hal yang dapat menarik perhatian orang-orang itu. Dan memang seperti yang diharapkannya. Semua orang yang berlalu lalang pada jalan tersebut sibuk dengan urusan mereka masing-masing.

Saat ia kembali menghidupkan mesinnya. Ia menangkap sosok seseorang yang dikenalnya melangkah dari gedung markas kepolisian. Ia melihat Detektif Nina Aparel sedang berjalan menuju mobil patroli yang tengah menunggunya. Ia melihat Nina melambaikan tangannya pada orang-orang yang menyapa dan mengenalnya, lalu dengan santai memasuki mobil patroli itu.

Tanpa pikir panjang ia langsung mengikuti mereka saat mobil tersebut memasuki jalan raya. Ia berusaha menjaga jarak agar tidak dicurigai. Mobilnya terpaut dua mobil dengan mobil patroli tersebut. Untung saja ia telah mengantisipasi hal-hal kecil. Ia telah mencuri plat mobil lainnya yang sejenis untuk dipasang pada mobilnya. Sehingga jika polisi dalam mobil itu curiga padanya, nomor plat mobilnya hanya akan mengantarkannya pada pemilik aslinya.

Ia berbelok ke kiri saat melihat tanda-tanda mobil patroli itu akan berhenti. Ia memarkirkan mobilnya di depan salah satu rumah yang tidak jauh dari mobil itu berhenti. Walaupun agak jauh, tapi ia tetap dapat menangkap gambar saat Nina memasuki rumahnya di kawasan tersebut. Dengan cepat ia menghitung nomor rumah Nina dan mencatat alamatnya dalam buku catatannya.

Setelah benar-benar aman, ia menghidupkan kembali mobilnya untuk kembali menuju tempat persembunyiannya. Ia akan menemui Sarah.

***

Melanie memasuki ruangan kerjanya dengan perasaan aneh. Saat di luar ruangan Lutz dan Nina tadi, ia terkejut mendapati Lutz berekspresi yang mengingatkannya saat kasus pembunuhan Rudy terjadi. Apa yang telah memicunya?. Ia telah bersahabat dengan Lutz selama—nya. Ia bahkan tidak mengingat berapa tahun mereka bersama. Seperti telah seumur hidup mengenalnya.

Ia tidak ingin melihat Lutz kembali pada keadaan itu. Hidup hanya dalam dunianya sendiri. Rupanya kasus ini telah membebaninya terlalu berat. Begitu pula yang ia lihat dari Nina.

Kasihan sekali anak itu.

Padahal Melanie tahu bagaimana kerasnya mereka bekerja. Kejadian tadi telah merenggut rasa percaya diri Nina. Tapi ia berharap Nina akan pulih dari hal itu. Tidak ada waktu bagi mereka untuk menyerah, yang harus dilakukan hanyalah terus bergerak maju. Ia sebenarnya ingin menemani Nina, tapi pandangan Lutz menghalanginya melakukan hal itu. Pandangannya seakan-akan menyiratkan “Jangan ikut campur urusannya”. Sehingga ia urung melakukan hal tersebut.

Ia mengerti maksud Lutz. Ia ingin Nina dapat bangkit dari keterpurukan dengan usahanya sendiri. Ia telah menjaga Nina dengan caranya sendiri selama ini. Walaupun Lutz tidak memberitahunya, ia tahu arti Nina baginya. Seperti ayah yang melindungi putri kesayangannya. Ia juga tahu apa yang telah Lutz lakukan selama ini untuk Nina. Tetapi, kadang-kadang tindakannya hanya seperti penebusan dosa bagi Melanie. Karena Melanie tahu, bagaimana besarnya rasa bersalah Lutz terhadap Nina karena membiarkan keluarganya terbunuh.

Melanie menyingkirkan pikirannya jauh-jauh. Ia harus meneruskan pekerjaannya sekarang. Bukti yang didapat dari TKP pada korban keempat tidak banyak. Selain secarik kertas yang ia temukan, yang lain tidak berguna. Ia bahkan telah memerintahkan Ken dan Lisa untuk melakukan identifikasi sidik jari dan jejak kaki di dekat korban keempat digantung. Banyak sekali jejak yang tumpang tindih dengan jejak lainnya yang menghambat pengidentifikasian. Ia sampai dibenci oleh mereka karena telah memerintahkan mereka melakukan hal itu.

Ia mengambil sarung tangan karetnya, lalu membuka plastik yang membungkus baju yang dikenakan oleh korban keempat. Menghamparkannya di atas meja yang telah ia beri alas plastik. Ia mengambil kaca pembesar dari mejanya, lalu kemudian memulai pencariannya. Ia menelusuri bagian-bagian dalam baju itu sedikit demi sedikit. Ia membalikkan kemeja itu untuk meneliti bagian dalamnya. Ia kembali tidak mendapatkan apa-apa dari usahanya.

Ia kemudian melipat baju tersebut saat sehelai rambut yang hanya memiliki panjang dua sentimeter jatuh dari baju tersebut. Seperti menemukan harta karun, ia langsung tersenyum lebar dengan senang. Satu lagi bukti ia temukan, ia berharap perkembangannya saat ini terus berlanjut.

***

Lutz kembali membanting berkas laporan di mejanya. Tidak ada satupun yang berguna. Entah mengapa ia terus merasa tidak percaya pada dirinya untuk terus melanjutkan kasus ini. Ia kembali mengingat kejadian dengan Miss Rayn. Jika saja Rayn menyerangnya, bukannya Nina. Maka harga dirinya akan luluh lantak. Ia bukanlah orang yang lemah, tapi ia pun tidak mengerti mengapa saat ini ia seperti kembali pada kejadian sepuluh tahun yang lalu. Ia merasakan hal itu. Kabar dari Sheila ternyata telah membuatnya teringat akan kenangan pahit di masa lalu.

Waktu itu pun sama, kami semua bekerja dengan bukti yang terbatas. Tidak dapat menyelidiki kasus tersebut lebih jauh, tapi juga tidak dapat menghentikannya. Ia telah dipermainkan oleh pelaku yang sampai saat ini ia tidak tahu siapa. Berusaha keras pun percuma, orang itu telah melaju selangkah lebih jauh dari dirinya. Ia tidak berdaya seperti saat itu. Waktu ternyata tidak dapat menyembuhkan hatinya. Tetap saja ia merasakan sakit. Dan rasa bersalah itu—tetap ada dalam hati terdalamnya.

Ia sadar tadi ia telah membentak Nina. Ia tidak bermaksud seperti itu, tapi anak itu memang terlihat pucat. Sedangkan baik Lutz maupun kasus ini membutuhkannya dalam keadaan sehat. Jadi ia harus melakukan hal itu. Untung saja Nina tidak terguncang karena sikapnya.

Telepon pada mejanya berdering nyaring membuat riuh ruangannya. Lutz langsung mengangkatnya pada dering pertama.

“Lutz.” Sapanya singkat.

“Lutz, aku telah menemukan sehelai rambut dari baju korban keempat kita—dan itu bukanlah rambut Sarah.” Kata Melanie tenang.

“Benarkah? Baguslah. Kira-kira berapa lama sampai kita mendapatkan hasil?” Tanya Lutz.

“Aku tidak bisa berjanji akan cepat. Tetapi, aku akan melakukannya secepat yang aku bisa mengingat kita tidak mempunyai DNA pembanding. Jadi mencocokan DNA dengan database kepolisian akan memakan waktu berhari-hari bahkan berming-minggu.”

“Tidak apa-apa. Setidaknya ini dapat membantu daripada kita terus berjalan ditempat.” Ucap Lutz sambil mengakhiri percakapan mereka.

Ia lalu memutar nomor ponsel Nina pada pesawat teleponnya. Tetapi kemudian ia letakkan kembali gagang telepon itu pada posisi semula. Ia ingat untuk memberikan waktu pada Nina untuk beristirahat. Disaat yang sama, ponselnya berdering dari balik saku celananya. Dengan cepat Lutz mengambilnya dan mulai bicara.

“Lutz.”

“Ini aku. Sepertinya Sarah selalu memakai rute yang sama saat berangkat dan pulang.”

“Nina?” ada jeda sebentar saat Lutz berbicara, “bukankah seharusnya kau beristirahat di rumahmu?” Tanya Lutz tenang walau ia kesal Nina mengabaikan perintahnya karena jelas sekali ia tidak berada di rumahnya. Itu terbukti oleh suara bising lalu lintas yang terdengar oleh Lutz dari ponselnya.

“Sudah kucoba. Tapi aku tidak bisa memejamkan mataku. Dengar—jika kau memang ingin memarahiku, nanti saja. Sekarang dengarkan aku.” Balas Nina.

“Ada seseorang yang melihat saat Sarah diculik oleh Hangman. Ia adalah seorang tunawisma yang pada saat itu melintas daerah tersebut. Karena ia tidak tinggal di daerah ini, waktu kita mewawancarai penduduk daerah ini, ia terlewat,”

Nina berhenti untuk mengambil nafas, lalu kemudian melanjutkan kembali. “ia melihat seseorang membekap mulut Sarah dari belakang. Saat itu keadaan disini memang gelap, tapi ia dapat menangkap sosok pelakunya dan dapat mengidentifikasinya. Walaupun ia bilang, ia tidak melihat wajahnya dengan jelas.” Lanjut Nina.

“Kerja yang bagus, rekan. Bawalah dia kesini, akan aku carikan seorang pelukis sketsa wajah. Siapa tahu kita beruntung kali ini.”

“Baiklah. Sampai bertemu disana.” Nina memutuskan sambungannya dengan cepat.

***

Ia memasuki tempat persembunyiannya. Setelah memarkirkan mobilnya di dalam tempat itu. Ia langsung menuju tangga menuju ruang bawah tanahnya. Ia berjalan menyusuri lorong gelap pada ruang itu. Tanpa melihat, ia menekan saklar lampu pada ruangan itu. Ia terus berjalan menuju ruangan tempat Sarah berada. Mengeluarkan kunci kamar itu dan menaruh serta memutarnya pada lubangnya. Ia membuka pintu kamar itu dan mendengar engsel pintu itu berderit saat ia membukanya.

Ia melihat Sarah seketika langsung tegang di tempatnya tertidur. Ia melihat ke sekeliling ruangan itu. Tampak tidak jauh dari Sarah berada, sarapan yang ia berikan padanya tidak ia gubris sama sekali. Sarah berusaha keras menolak semua makanan yang ia berikan. Padahal tubuhnya sudah tampak lemah. Ia berpikir apakah ia perlu mempercepat jadwalnya melihat kondisi Sarah.

Kondisi Sarah mengingatkannya pada ibunya. Sering kali ayahnya menyekap mereka tanpa makanan jika berbuat salah. Ibunya pun rela menghalau dengan tubuh lemahnya semua pukulan yang dilayangkan padanya.

Jace.

Jace.

Jace.

Ia mendengar namanya disebut berkali-kali.

Ia benci nama panggilan itu. Itu bukanlah namanya. Tetapi tetap saja ia dipanggil dengan panggilan itu. Jika saja ia tidak mirip dengan orang itu.

Pikirannya kembali pada Sarah yang telah melempar sarapan yang ia beri beserta piringnya pada wajahnya. Pelipisnya terluka saat pecahan piring tersebut memantul mengenainya. Tanpa pikir panjang, ia melayangkan tangan kanannya pada pipi Sarah dengan keras. Amarah yang tadi ia rasakan pada ibunya ia lampiaskan pada Sarah.

“Jangan pernah melawanku! Ingat itu! Atau kau akan berakhir dengan cepat di tanganku.”

Sarah yang mendengarnya mengucapkan kalimat itu langsung bergetar dan kembali diam.

“Bagus. Jadilah gadis yang baik. Maka aku akan baik padamu.”

“Kau akan membunuhku?” tanya Sarah tenang.

Ia tersenyum pada Sarah. Ia telah mengontrol kembali emosinya. “menurutmu bagaimana?”

Sarah terdiam kembali lalu kemudian merespon pertanyaan retoris itu, “iya, aku pasti akan mati ditanganmu.” Jawab Sarah sambil meneteskan air mata.

“Kau menarik. Sayang sekali aku harus membunuhmu. Sebaliknya, aku akan memberikan penghargaan terbaik untukmu. Kau bisa memilih bagian tubuhmu yang mana, yang nanti kujadikan marionette?”

Sarah terus diam. Air matanya terus mengalir dari kedua matanya. Ia tidak membuka sedikitpun mulutnya. Sarah hanya menatapnya dengan pandangan mengiba. Dengan suara berbisik ia lalu berbicara, “jika aku memang akan mati juga. Mengapa begitu lama kau baru membunuhku.”

Ia tersenyum kembali. “pertanyaan bagus. Satu hal yang bisa ku katakan padamu diantara alasan lainnya adalah karena aku ingin menganalisamu.”

“Apakah kau mau mengatakan alasan lainnya?” Tanya Sarah kemudian.

“Sabar. Aku akan mengatakannya besok, jika kau bekerjasama dengan baik.”

“Dasar gila. Kau pikir aku rela dibunuh olehmu.” Teriak Sarah sambil terus menangis. Kemudian melanjutkan perkataannya kembali, “aku akan bunuh diri dengan menggigit lidahku sampai putus.”

Ia tertawa keras sekali karena mendengar ucapan Sarah. Sambil mengusap air mata di ujung matanya yang keluar karena ia tertawa ia berkata, “apa kau pikir aku bodoh. Manusia tidak akan mati hanya dengan menggigit putus lidahnya, perlu usaha lebih dari itu. Jika kau tidak percaya, lakukan saja. Itu tidak akan mempengaruhi karyaku sama sekali.”

Ia meninggalkan ruangan itu sambil masih terus tersenyum. Perempuan itu ternyata tidak takut mati. Ia mengira ia akan memohon-mohon padanya untuk membebaskannya. Tapi ia ternyata cukup berani menantangnya.

***

Sarah tidak berhenti menangis. Sejak lelaki itu datang ke ruangan ini kemarin, ia terus tidak tenang. Tahu bahwa hidupnya tidak akan lama lagi, ia terus menerus ketakutan. Tadi malam ia berkali-kali tertidur disela-sela kegiatannya menangis. Ia berusaha memutar otaknya, mencari cara supaya ia dapat bebas. Tetapi, tidak ada benda apapun dalam ruangan itu yang dapat ia gunakan.

Hari pertama ia tiba di sini, tangan dan kakinya diikat dengan kuat dengan tali. Tetapi setelah hari kedua ia disini, tali tersebut telah berganti menjadi rantai panjang yang tidak mengganggu gerakannya untuk menjelajah ruangan tersebut. Tapi hal itupun percuma. Lelaki itu selalu mematikan lampu di ruangan tersebut jika ia tidak berada di dalamnya.

Ia tidak percaya, dari berjuta-juta manusia di dunia ini, mengapa harus ia yang mengalami nasib seperti ini. Mengapa lelaki itu memilihnya? Jika memang ia ditakdirkan untuk mati, mengapa dengan cara seperti ini. Tidak bisakah ia mati dengan normal.

Lalu apa maksud perkataannya tentang bagian tubuhnya yang akan dijadikan marionette. Kemarin malam ia terlalu sulit mencerna pertanyaan itu, sehingga ia hanya terdiam dan terguncang. Ia berusaha setenang mungkin saat berbicara dengan lelaki itu. Tetapi sebenarnya ia sangat ketakutan. Lelaki itu tidak mudah digertak. Ia menganggap semua hal yang keluar dari mulutnya hanya sekedar hiburan belaka.

Sarah mengusap pipinya tempat tangan kasar lelaki itu mendarat. Ia merasakan pipinya memar akibat pukulan lelaki itu. Ia tidak berpikir saat itu. Ia hanya benci terus melihat wajahnya dan dengan spontan melakukan hal itu. Ia pikir lelaki itu akan langsung membunuhnya saat ia mulai memukulnya. Tetapi kemudian ia hanya tersenyum terus menerus dengan cara yang menjijikan, membuatnya semakin muak berada dekat dengannya.

Ia mendengar langkah kakinya dengan tenang menuju kearahnya. Sarah hanya berdiam diri dan mematung tanpa daya mendengar bunyi itu. Lalu langkah tersebut terhenti, lalu lelaki itu memutar kenop pintu dan membukanya. Seketika ruangan itu silau karena lampu yang dinyalakan tiba-tiba oleh lelaki itu.

Wajahnya kali ini serius tanpa topeng senyum, tidak seperti biasanya. Sarah lalu melihat ia membawa tas hitam besar di sisi kiri tangannya.

Apa itu? Apa isi tas itu? Biasanya ia tidak pernah membawa apapun kecuali makanan, pikir Sarah.

Sarah beringsut menjauh dari lelaki itu. Sorot mata yang dimilikinya membuatnya ketakutan. Ia berdiri di tengah ruangan. Menaruh tas hitam itu di lantai. Kemudian memandang Sarah tanpa berbicara. Ia terus memperhatikan Sarah sambil melipat kedua tangan di dadanya. Matanya terus mengikuti gerakan Sarah yang gelisah. Ia menyiapkan pecahan piring yang dipungutnya kemarin pada telapak tangannya. Secara tidak sengaja ada salah satu pecahan kaca dari piring kemarin yang mendarat di dekat kakinya. Dengan cepat ia mengambilnya. Ia tidak tahu apakah pecahan itu akan berguna nantinya atau tidak. Tetapi, setidaknya ia akan memperjuangkan hidupnya walaupun ia tahu kemungkinan besar ia tidak akan hidup.

Dengan tenang lelaki itu berjongkok di sebelah tas yang dibawanya, lalu kemudian membukanya. Ia mengeluarkan balok kayu yang berbentuk persegi. Lalu balok itu ditempatkan olehnya tak jauh darinya. Ia kemudian mengeluarkan sebuah terpal dan membentangkannya di tengah ruangan. Balok kayu yang tadi ia keluarkan, kemudian ia tempatkan di tengah-tengah terpal tersebut.

Lelaki itu kembali berdiri dan menatap Sarah dengan buas. Tangan Sarah mengepal kuat di belakang tubuhnya sampai terasa sakit. Lalu kemudian ia sadar, ia tengah meremas potongan kaca hingga kaca tersebut merobek kulit tangannya. Ia melonggarkan kepalannya dan terus mundur melangkah menuju sudut ruangan. Pandangan lelaki itu masih terus mengikutinya dan pada saat ia telah berada di ujung ruangan ia tersenyum dan mendekati Sarah perlahan-lahan.

“Berhenti! Jangan mendekatiku!” Teriak Sarah kuat-kuat.

Lelaki itu terus mendekati Sarah tanpa mempedulikannya.

“Pergi! Jangan dekati aku!” Kali ini sarah berteriak sambil menangis.

Sarah sadar kemungkinan terbesar dari arti pandangan lelaki itu adalah karena ia akan membunuhnya hari ini. Tidak ingin lelaki itu meraihnya, ia kemudian berlari ke ujung ruangan lainnya. Tetapi, rantai yang membelenggunya dihentakkan oleh lelaki itu sehingga membuatnya jatuh terjerembab mencium lantai.

Cairan asin mengalir melalui rongga hidungnya, menetes melewati mulutnya. Dengan mengabaikan rasa sakit yang dideritanya ia bangun kembali. Saat akan berlari, ia merasakan tangan dingin lelaki itu meraih rambut dan menariknya menuju ke tengah ruangan. Ia meronta-ronta, memukul-mukul udara kosong di sekitarnya, tapi ia tetap tidak bisa melepaskan tangan lelaki itu dari rambutnya. Dilemparkan Sarah pada terpal itu sehingga menyebabkan banyak sekali rambutnya tertarik lepas. Ia menangis tersedu-sedu karena rasa sakit yang dideritanya secara bertubi-tubi.

Lelaki itu mendekati Sarah kembali. Ia membalikkan tubuh Sarah yang tadinya terlentang menjadi tertelungkup. Dengan sisa tenaga yang di memilikinya ia melayangkan pecahan kaca itu pada leher lelaki itu berharap ia dapat mengenai pembuluh darah utamanya dan menimbulkan luka yang dalam. Tetapi, usaha yang dilakukannya sia-sia. Pecahan kaca itu hanya menggores pipinya. Karena tidak senang dengan apa yang dilakukan oleh Sarah. Lelaki itu lalu menendangnya berkali-kali.

“Dasar berengsek.” Ucap lelaki itu sambil terus menendang Sarah.

Lelaki itu kemudian menarik paksa kedua tangan Sarah dan mengikatnya ke belakang, melemparkan pecahan kaca tadi jauh-jauh. Hal itu ia lakukan juga pada kedua kaki Sarah, walau rantai besi masih membelenggu penggelangan kakinya. Setelah yakin Sarah terikat dengan kuat. Lelaki itu kemudian membaringkan miring kepala Sarah sehingga lehernya bertumpu pada balok kayu yang tadi ia pasang di tengah terpal.

Oh Tuhan… Oh Tuhan…

Tolonglah aku…

Jangan biarkan ia melakukannya padaku…

Sarah sadar tidak ada cara lain yang dapat ia lakukan untuk menyelamatkan hidupnya sendiri, ia hanya diam sambil menangisi nasibnya.

Lelaki itu dengan perlahan duduk di sebelah Sarah dan saling berhadapan dengannya. Ia kini tersenyum kembali. Sarah memandanginya dengan perasaan benci yang meluap-luap. Tidak menyerah sampai akhir, terus menentang lelaki itu.

Seringainya terus melebar melihat Sarah bersikap seperti itu. “Nah. Bukankah kau akan mengajukan pertanyaan padaku? Tanyalah—aku akan menjawab dengan jujur.” Ujarnya dengan manis.

“Untuk apa? Apa ada bedanya bagiku—kau tetap akan membunuhku.” Sarah berkata sambil berbisik karena ia memaksakan menjawab padahal ia sama sekali tidak ingin menanggapi lelaki itu.

“Kau kan bisa memuaskan rasa ingin tahumu.” Jawab lelaki itu cepat.

Kini Sarah tidak menangis tersedu-sedu, tapi entah mengapa air matanya terus mengalir membanjiri wajahnya.

“Siapa namamu?” Sarah memaksakan mulutnya untuk berbicara kembali dan kali ini yang keluar berupa desisan.

“Ibuku memanggilku Jace, walau aku benci nama itu.” Jawabnya ringan. “Pertanyaan selanjutnya?”

Sarah terus menatap lelaki dihadapannya yang kini tak terasa asing lagi. “Dimana ibumu?”

“Mati.”

“Ayahmu?”

“Mati?”

“Siapa yang membuatmu seperti ini?”

Ia terdiam beberapa saat, lalu kemudian menjawab. “Ayahku.” Ujarnya dengan bangga.

“Apa kau yang membunuh ibumu?”

“Bukan.”

“Apa kau yang membunuh ayahmu?”

“Ya.” Jawabnya dengan bersemangat. Lalu ia melanjutkan kembali, “Apa ini sesi psikologi dengan tema keluarga. Cepat tanya yang lain, atau aku semakin tidak sabar untuk membunuhmu. Apa kau tahu… Aku ini mencoba mengulur waktumu agar hidup lebih lama.”

Ya Tuhan. Orang ini benar-benar sudah gila. Ia tidak dapat memikirkan pertanyaan satupun. Mana sempat? Ia hanya berpikir tentang keselamatannya sendiri. Masa bodoh pertanyaan-pertanyaan itu. Otaknya terus-menerus berteriak meminta tolong. Tapi pada siapa? Kali ini ia benar-benar putus asa.

“Kau mulai membuatku bosan.” Kata lelaki itu sambil berpura-pura menguap.

“Sudahlah. Kita akhiri saja. Aku membutuhkan bagian tubuhmu untuk karyaku. Ada saran bagian yang mana?” Tambahnya singkat.

“Tunggu… tunggu… aku akan bertanya lagi.” Jerit Sarah pada lelaki itu.

“Maaf nona, Jawabanmu salah,” kepala lelaki itu menggeleng tidak setuju, “lagipula waktumu sudah habis, kau menyia-nyiakan waktu yang kuberikan padamu tadi.” Responnya sembari mengeluarkan sebilah pedang yang masih berada dalam sarungnya keluar dari tas hitam itu.

“Tunggu… ku mohon, jangan lakukan ini padaku.” Ujar Sarah mengiba.

“Apa kau ingin ku bius sebelumnya?” Tanyanya tanpa menggubris perkataan Sarah sebelumnya.

“Apa bedanya, sialan. Aku tetap mati!” Histeris Sarah.

“Itu benar. Baiklah jika kau tidak ingin. Diamlah supaya aku dapat melakukannya dengan benar.”

“Aku mohon padamu. Jangan lakukan ini padaku.” Bisiknya.

Dari ujung matanya, Sarah melihat lelaki itu mengangkat pedangnya dengan kedua tangan ke udara. Ia mengayunkannya setelah dirasa kuda-kudanya pas. Ia melihat kilatan logam saat benda itu mengarah padanya. Lalu dunia menjadi gelap…

***

Protected by Copyscape Web Plagiarism Checker

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s