The Hangman – Chapter 3


Oleh : Tammy Rahmasari

Ia telah mengawasi calon korbannya berjam-jam. Ia tadi bahkan telah sangat dekat dengannya. Ia sengaja berada sedekat itu dengan korban barunya. Ia ingin mengetahui apakah korbannya sadar akan nasib yang akan terjadi padanya nanti.

Tadi sore ia sengaja mengikuti Sarah semenjak dari ia keluar dari apartemennya. Ia berusaha sedekat mungkin dengannya. Selama tiga perempat perjalanan pengintaiannya berjalan mulus. Tetapi, pada saat tinggal beberapa blok lagi dari tempat kerjanya, Sarah mulai curiga dan secara tiba-tiba langsung masuk ke toko kelontong. Akibatnya ia harus menunggu Sarah di lorong samping pintu masuk tempat kerjanya. Ia tahu resiko tertangkap dan dicurigai lebih besar, tapi menjadi lebih tertantang saat ia mempertaruhkan nasibnya. Dan ternyata Tuhan berpihak padanya. Ia selalu diberikan keberuntungan yang besar oleh-Nya.

Ia ternyata tidak salah memilih korban kali ini. Sarah Adams lebih peka dari korban lainnya yang membuat perburuannya menjadi lebih menegangkan. Ia jadi harus merancang rencana cadangan dengan cepat karena rencana awal yang telah ia persiapkan telah gagal. Tadinya ia akan langsung menculik Sarah di lorong sebelah gedung tempat kerjanya. Tetapi, ia tidak jadi melakukannya pada saat-saat terakhir karena ia ingin melihat respon Sarah lebih lanjut. Kewaspadaannya, ketakutannya, ia ingin melihatnya lebih jauh. Ia bahkan rela memperpanjang tenggat waktunya yang selalu ia jalani secara teratur.

ia kembali menyenandungkan lagu ceria lagi. Entah kenapa suasana hatinya terus membaik seiring semakin banyak bagian bonekanya yang mulai terkumpul.

Dari seberang jalan, ia melihat pintu karyawan gedung restoran itu terbuka. Penantiannya kini akan berakhir, Sarah sudah terlihat didepan matanya. Hanya tinggal menunggu waktu hingga Sarah menghampirinya. Kali ini ia tidak akan terburu-buru menangkap mangsanya. Ia juga tidak terburu-buru dengan semua publikasi yang ditujukan padanya. Ia akan memberikan waktu luang pada para polisi itu untuk berpikir. Ia selalu berhati-hati dalam melakukan aksinya, sedapat mungkin tidak tertangkap. Ia juga selalu berhati-hati saat mengembalikan tubuh korban yang salah satu bagian dari tubuhnya telah ia pinjam agar tidak meninggalkan sedikitpun bukti yang akan mengarahkan padanya.

***

Nina selalu menyukai kala hujan datang. Seperti hari ini. Walaupun sepanjang jalan rekannya Lutz terus merajuk, tapi perasaannya selalu membaik jika hujan turun dengan lebatnya. Hujan seperti membawa rasa sakit hatinya pergi. Ia tidak pernah bisa memahami mengapa hatinya selalu terasa sakit bila mengingat kejadian yang telah terjadi bertahun-tahun yang lalu itu.

Pada saat itu ia merasa dunianya telah berakhir. Ia berharap pada saat ia membuka kedua matanya pada pagi hari, ia dapat melihat senyum ibunya yang selalu membangunkannya untuk bersiap-siap sekolah. Lalu, ia juga berharap ketika ia melangkah keluar dari kamarnya, ia melihat ayahnya yang selalu menunggunya untuk mengantarkan ia bersekolah. Ia juga rindu sekali pada Flor, adik kecilnya yang selalu memujanya. Meniru semua sikap Nina. Adik kecilnya yang manis dan sangat ia sayangi.

Waktu tidak dapat diputar kembali, tapi setidaknya kenangan tentang mereka selalu berputar di kepalaku. Hal itulah yang membuatnya selalu bertahan melewati saat-saat tersulit dalam hidupnya. Ia juga bertahan melalui hidup agar dapat menemukan pembunuh ayahnya yang tidak dapat Lutz tangkap. Nina tidaklah dendam padanya. Hanya saja ia ingin sekali menangkap orang itu dan menanyakan alasan atas perbuatannya yang telah merenggut nyawa keluarganya.

Nina juga sangat berterimakasih dengan adanya Lutz disampingnya, selalu menemami dan mendampinginya walau dari jauh, walau tidak pernah sekalipun menunjukkannya. Tapi ia selalu bersyukur memiliki paman Jensen-nya.

Sebenarnya ia telah mengetahui kehadiran Lutz dalam hidupnya bertahun-tahun yang lalu. Pada saat itu, waktu dimana orang tua murid diharuskan datang ke sekolah untuk membicarakan evaluasi belajarnya selama ini. Nina menunggu paman yang saat itu mengasuhnya datang, tapi paman Alex tidak pernah mau sekalipun datang, walau sekeras apapun Nina memohon atau walau sesering apapun gurunya meminta, ia tetap tidak pernah datang. Nina tahu, paman Alex mengasuhkan karena terpaksa. Hanya karena pengadilanlah yang membuatnya mau menerima Nina untuk hidup diantara istri dan kedua anaknya. Baik paman Alex dan bibi Hilda, maupun Angie dan Benjie tidak pernah menyukainya.

Nina ingat, pada hari itu hujan turun dengan derasnya. Ia menangis diam-diam di ruangan di depan kelasnya yang biasa digunakan oleh sekolahnya sebagai gudang. Ia terus menunggu pamannya datang, padahal hari telah petang. Ia terus berdoa memohon agar pamannya datang. Tetapi, orang yang ia tunggu dan ia harapkan tidak pernah datang. Padahal anak-anak lain orangtuanya selalu datang untuk mengambil evaluasi belajar anak mereka.

Dengan tubuh lunglai dan wajah sembab habis menangis ia bersiap-siap akan meninggalkan tempat persembunyiannya. Nina mengambil tas serta memakai jas hujan lusuhnya. Saat ia sedang berjalan menuju pintu ia melihat seseorang memasuki lorong di depan ruangan kelasnya sambil membawa payung yang masih meneteskan air hujan. Nina melihat rekan ayahnya di kepolisian datang ke sekolahnya. Tapi ia tidak mempedulikan pria itu. Mungkin saja anaknya pun satu sekolah dengannya. Pria itu kemudian berhenti di depan pintu kelas Nina, merapikan jaketnya, menaruh payung yang ia bawa di dinding ruangan kelas Nina. Ia mengetuk sekali sambil terus merapikan jaketnya yang sudah kusut masai itu.

Setelah beberapa saat Ibu Hanna, guru Nina, membukakan pintu sembari berkata, “anda orang tua murid siapa?” Tanya Ibu Hanna.

“Saya Jensen Lutz, paman dari Nina Aparel. Ini ruang kelas delapan, kan?” jelasnya.

Nina yang tidak mempercayai pendengarannya, mendekati pintu ruangan kelasnya lebih dekat saat Ibu gurunya dan pria itu masuk dalam kelas. Ia seperti mendapat hadiah ulangtahun yang tidak pernah ia dapatkan selama bertahun-tahun. Seseorang yang bahkan tidak dekat dengannya malah peduli dengannya.

Semenjak saat itu, setiap akhir semester, ia selalu menunggu Lutz diam-diam di ruang kelasnya. Lutz tidak mengetahui bahwa sebenarnya Nina telah tahu mengenainya sejak lama. Dan Nina pun tidak berniat memberitahunya. Jika Lutz tidak berbicara tentang hal itu sedikitpun, maka ia pun akan terus diam. Nina menunggu sampai mau Lutz berbicara sendiri dengannya.

Petir mengajak Nina kembali ke dunia nyata dan membuyarkan lamunannya. Lutz masih tetap saja menggerutu karena padatnya jalan raya. Hujan deras membuat mobil-mobil berjalan pelan, sehingga kami tidak sempat datang ke tempat tujuan pada waktu yang telah ditentukan.

***

Sarah merasakan bulu kuduknya meremang. Ia merasakan ada hal ganjil disekitarnya padahal ia baru beberapa langkah keluar dari restoran itu. Ia melihat ke tempat pria yang tadi membetulkan mobilnya. Tapi ia sudah tidak ada di tempat itu lagi. Di tempat pria tadi memarkirkan mobilnya kini hanya tersisa ruang kosong dengan bayangan hitam gedung sebelah yang menyeramkan.

Sarah ingin cepat-cepat sampai di rumahnya. Dengan hidupnya saat ini, ia tidak bisa menghambur-hamburkan uang untuk ongkos perjalanan pulang pergi yang sebenarnya dapat ia lakukan dengan berjalan kaki. Ia ingin bisa membayar sewa kamarnya tepat waktu, di samping itu ia juga ingin menabung. Jadi karena letak bangunan tempat tinggalnya dengan tempat kerjanya tidak jauh, ia selalu berjalan kaki.

Udara dingin menerpa wajahnya berkali-kali. Setelah hujan deras pada petang hari tadi udara menjadi lebih segar dan sejuk. Tapi dengan adanya perasaan aneh yang dirasakannya sejak tadi, ia merasakan keringat dingin terus mengalir dari leher menuju punggung bawahnya membanjiri bajunya. Ia ingat terakhir kali merasakan hal seperti ini adalah pada saat seorang nasabah yang dirugikan karena kasus penggelapan itu menguntit dirinya. Pria itu menguntitnya selama seminggu, mengirimkan surat-surat ancaman, bahkan ia terus menelpon rumahnya dengan segala caci maki yang paling kasar yang pernah ia dengar selama hidupnya.

Pada saat itu ia sangat ketakutan, bertanya-tanya apa yang akan dilakukan oleh orang itu padanya. Apakah ia akan selamat saat itu. Tak hanya ia yang jadi sasaran, bahkan kedua orangtuanya serta saudaranya juga jadi sasaran teror orang itu. Sampai saat ini ia tidak mengenal pria itu, hanya mengetahui wajah kesalnya saja. Saat memberikan keterangan kepada polisi pun, ia tidak memperhatikan. Ia hanya menyerahkan segala sesuatunya pada pengacaranya. Tetapi karena nasib tidak berpihak padanya saat itu, pria itu lolos dari jeratan hukum karena pengaruh dari pengacara korporatnya. Jalan damai terpaksa dipilihnya, asal itu bagian dari kebebasan yang tidak pernah ia peroleh walaupun ia tidak bersalah dalam kasus penggelapan uang tersebut.

Sarah mempercepat langkahnya. Ia ingin cepat sampai di rumahnya. Ia melihat sekelilingnya, ternyata tidak ada pejalan kaki lain yang berada di trotoar yang sama dengannya. Hanya ada beberapa mobil yang lewat dengan cepat melaluinya. Ia mengarahkan pandangan pada mobil sedan berwarna gelap yang melaluinya dengan lambat, lalu kemudian mobil tersebut berbelok ke kanan di ujung jalan, sama dengan arah menuju rumahnya.

Ia berusaha mengingat bagaimana rupa mobil yang tadi terparkir di lorong restoran walau pada saat itu tidak ada cahaya lampu yang menerangi di lorong tersebut. Kalau ia tidak salah, mobil tersebut lampu sein kanannya pecah sama seperti mobil yang terparkir di lorong. Tapi Sarah tidak mempedulikan hal itu saat ini. Saat ini yang dibutuhkannya adalah melupakan semua beban yang hinggap di kepalanya. Ia lelah dan butuh tidur.

Sarah berbelok ke kanan di ujung jalan. Ia tidak menyadari adanya orang lain saat itu, sampai ia merasakan sepasang tangan mengunci kedua tangannya ke belakang dan membekap mulutnya dengan sapu tangan yang berbau aneh. Hal yang diingatnya terakhir kali adalah rasa getir yang tertinggal di tenggorokannya dan pening di kepalanya yang membuat dunia tempatnya berpijak berputar-putar.

***

Pria itu menunggu Sarah melewatinya. Ia telah dengan sengaja memperlihatkan dirinya di depan calon korbannya. Tetapi, ternyata ia sama dengan korban sebelumnya. Ia pikir Sarah Adams sedikit lebih pintar dibandingkan dengan korbannya yang lain. Little miss Adams tidak sadar dengan takdir yang akan terjadi di depan matanya.

Ia lalu berpikir kembali, tidak mungkin seseorang dapat mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan. Ia lalu tersenyum simpul karena hal itu. Itulah yang membedakan siapa yang berkuasa dan yang dikuasai. Ia mempertaruhkan nasibnya sendiri. Apa yang akan terjadi nanti padanya, ia bersemangat ingin mengetahuinya.

Tiga langkah.

Dua langkah.

Satu langkah.

Sekarang!

Ia langsung menerjang Sarah dengan mengapit kedua tangannya dengan tangan kirinya. Kemudian tangan kanannya membekap mulut Sarah dengan saputangan yang telah ia beri kloroform. Ia merasakan tubuh Sarah meronta-ronta dibawah bekapannya. Tapi ia lebih kuat dari wanita itu. Bahkan dengan ukuran telapak tangannya yang besar, menguntungkannya karena dapat meraup kedua tangan korbannya dengan sekali tangkap.

Secara fisik tingginya adalah rata-rata orang kebanyakan, tubuhnya pun tidak mencolok. Ototnya memang terlatih dibandingkan dengan orang lainnya. Tetapi, ia sedapat mungkin menutupinya dengan baju yang tidak memperlihatkannya.

Sejak ia mulai bisa berjalan dengan benar perlahan-lahan ia mulai dilatih oleh ayahnya, semakin lama porsi latihannya semakin keras. Ayahnya adalah seorang veteran perang yang terus aktif dalam kemiliteran. Setiap hari ia selalu dilatih berbagai macam latihan sampai berpuluh-puluh set. Kadang-kadang ia sampai tidak diberikan makanan oleh ayahnya karena tidak berhasil melaksanakan perintahnya.

Saat itu ia tidak berdaya diperlakukan seperti itu. Tidak ada seorangpun yang membelanya. Ibunya telah lama meninggal sejak ia kecil. Setiap harinya ia selalu mendapatkan luka baru yang menandakan setiap tetes perjuangannya melewati hari demi hari yang dialaminya bersama ayahnya. Tetapi, walaupun demikian ia tidak membenci ayahnya, ia malah sangat berterima kasih pada ayahnya telah melatihnya dan telah membantu mengarahkan jalan hidup yang sekarang dijalaninya.

***

Mobil Lutz memasuki pelataran parkir Dreamland Zone dengan lambatnya. Pada akhir pekan ini, karena publikasi media setempat akan kasus pembunuhan itu, arena bermain ini dipenuhi oleh pengunjung. Setelah terjebak macet, kali ini kami terjebak antrian. Dengan panjang pendek Lutz memaki mobil yang ikut mengantri didepan kami. Seorang ibu beserta suaminya yang akan membeli tiket didepan kami sedang bersitegang dengan seorang penjual. Pada peraturan yang terpampang di pintu masuk, anak usia kurang atau sama dengan sepuluh tahun bisa mendapatkan karcis setengah harga. Tetapi, petugas penjual karcis tersebut tidak percaya atas keterangan ibunya yang menyatakan bahwa usia anaknya adalah sembilan tahun.

Aku juga tidak akan percaya jika aku yang menjual tiketnya, seru Nina dalam hati sambil mendengus keras.

Hal itu justru membuat suasana hati Lutz semakin panas. Dengan geram ia membuka pintu mobil dan kemudian menutupnya dengan keras dan meninggalkan Nina terheran-heran. Ia lalu berjalan menuju ketiga orang yang berselisih itu sambil berteriak dan menunjuk-nunjuk.

“Polisi.” Teriak Lutz yang spontan membuatnya jadi pusat perhatian.

“Berhenti membuat keributan disini atau kalian semua kutangkap karena mengganggu ketertiban umum.” Lanjut Lutz dengan amarah yang belum reda juga.

Ibu tersebut langsung diam mendengar Lutz mengatakan hal itu. Padahal tadi ia tidak mendengarkan penjelasan gadis penjual tiket tersebut yang telah menahan air matanya sejak dari awal karena diprotes dengan keras oleh ibu itu. Dengan cepat ibu itu langsung membayar tiga tiket yang akan dibelinya tanpa sepatah katapun sambil menggandeng tangan anak dan suaminya dengan erat meninggalkan gadis penjual tiket tersebut yang kini berteriak-teriak padanya karena uang kembalian yang tidak diambil oleh wanita tersebut.

Lutz menghampiri gadis itu lalu memberikan sinyal kepada Nina untuk membawakan mobilnya dan menyuruh Nina untuk menepi di gedung pegawai yang kebetulan terletak bersebelahan dengan loket penjualan karcis.

Nina melangkah menuju Lutz setelah ia menenangkan gadis tersebut, Lutz lalu memberi tanda pada Nina untuk mengikutinya. Nina memasuki gedung kantor dari Dreamland Zone. Gedung tersebut dari luar memang tampak bagus dan berwarna-warni, tapi saat sudah didalam kesan kurang terawat dan kusam terlihat dari setiap sudutnya. Karcis yang terjual dari tempat ini sepertinya tidak dapat memenuhi seluruh biaya perawatannya.

Kami dibimbing menuju ruangan manager di tempat itu. Ia memperkenalkan dirinya sebagai Ben Mill. Nina langsung tidak menyukai Mill sejak kesan pertama yang diperlihatkan pria itu padanya. Ia tidaklah jelek atau berkelakuan buruk. Hanya saja penampilannya tidak serasi dengan tempat ini. Terlalu bergaya untuk ukuran manager dari taman hiburan yang tidak terlalu ramai dikunjungi. Perannya kali ini adalah sebagai pengamat. Ia akan mempersilakan Lutz mewawancarai orang itu dan aku akan berjalan-jalan di sekitar taman hiburan ini.

“Lutz, aku keluar untuk berkeliling,” Seru Nina.

Lutz mengangguk sebagai tanda persetujuan darinya tanpa melepaskan pandangan dari Mill.

Nina tidak balas memprotes atas sikap Lutz yang tidak mempedulikannya. Hari ini Lutz memang terlihat agak aneh, lain dari hari biasanya. Biasanya ia selalu santai walau tetap fokus. Tapi kali ini ia terlihat terlalu serius, kaku, dan pemarah. Ia mengerti, akhir-akhir ini adalah waktu yang menegangkan baginya. Bahkan Nina pun merasakan hal itu. Kami dipacu waktu untuk menemukan tersangka untuk kasus ini. Jika saja ia tidak terlatih untuk mengeraskan hatinya sejak lama, mungkin saja ia saat ini sudah menyerah pada kasus ini. Tapi Nina sadar, semua orang bergantung pada kami untuk menemukan siapa yang bertanggung jawab pada terbunuhnya empat korban.

Nina berjalan keluar dar kantor itu menuju tempat gadis penjual karcis tadi. Setelah rapat tadi, Nina melihat sebentar rekaman yang diambil oleh salah satu petugas saat kejadian ditemukannya mayat keempat. Semua orang dalam rekaman itu tidak ada yang mencurigakan. itu yang membuat Nina kesal. Dari keempat TKP, ia tidak menemukan seseorang yang bisa ia deskripsikan sebagai pelaku. Persentase kemungkinan ia dapat melihat pelaku dalam rekaman itu sangatlah kecil, tapi Nina berharap pelaku kali ini ceroboh dan meninggalkan petunjuk.

Ia juga melihat semua rekaman dari kamera pengawas yang dipasang di setiap penjuru di taman hiburan tersebut. Terutama pada jam-jam tertentu saat mayat tersebut diduga diletakkan, juga pada waktu perkiraan pembunuhan dilakukan. Matanya sampai lelah harus melihat video berkali-kali.

Nina terus berjalan menuju loket tersebut. Ternyata gadis tadi telah berganti shift dengan temannya. Ia kini sedang duduk di kursi dekat loket tersebut. Pakaian kerja warna-warni yang dikenakan olehnya tidak cocok dengannya. Nina melihat ia sedang menyeka keringat dari pelipisnya. Untuk gadis seusia itu, ia tidak pantas berada disini pada malam hari sekolah seperti ini. Gadis itu melihat Nina dan tersenyum saat melihat Nina berjalan kearahnya.

“Siapa namamu?” tanya Nina.

“Aku Tania.” Jawabnya singkat.

Tanpa basa-basi, Nina langsung duduk disebelahnya dan meneruskan pembicaraan.

“Apa kau tahu mengenai kasus pembunuhan yang terjadi disini?”

Tania spontan mengernyit saat mendengar topik tersebut.

“Aku tahu. Itu terjadi pada saat giliran aku bekerja. Aku tidak suka dengan adanya pembunuhan yang terjadi disekitarku. Tapi, tampaknya tidak semua orang tidak suka dengan semua itu.”

“Maksudmu?”

“Banyak sekali orang yang senang mengunjungi tempat ini karena hal itu. Selain wartawan dan polisi yang bertanya kesana-kemari, pengunjung yang penasaran, juga bos-ku.” Jawabannya terhenti saat ia menghela nafas panjang.

“Bos-mu?” tanyaku penasaran.

“Iya. Bos-ku senang sekali dengan grafik pengunjung yang meningkat akhir-akhir ini. Hanya dia yang tidak sedih akan peristiwa ini. Senyum menyebalkannya terus terpampang apabila melihat tempat ini penuh. Dua hari ini merupakan hari tersibuk dalam setahun ini. Kasus itu seperti magnet yang menarik orang-orang untuk datang.”

“Jika itu memang menguntungkan. Mengapa kau tidak senang?” Sela Nina.

“Berbeda dengan orang-orang itu. Aku ingin sekali jauh-jauh dari tempat ini. Kasus itu membuatku takut. Dari koran aku membaca bahwa ketiga korban sebelumnya adalah wanita. Aku terus-menerus ketakutan, jangan-jangan pelakunya melihatku dan ingin membuatku menjadi korban barunya.” Balas Tania dengan suara bergetar.

“ibuku sampai tidak bisa tidur sebelum melihatku pulang.” Lanjutnya.

“Jika memang begitu, mengapa kau tidak berhenti dari sini. Untuk ukuran gadis seusiamu, kau seharusnya belajar dan bergosip mengenai pria di sekolah. Apalagi pada malam sekolah seperti sekarang ini. Yang aku tahu, jam kerja disini kadang dari pagi sampai malam hari.” Seketika wajah Tania memerah karena penjelasan Nina. Ia lalu menunjukkan mimik muka seperti saat berargumen dengan wanita yang membeli tiket tadi.

“Apakah kau akan menangkapku karena tidak bersekolah?”

“Tidak.”

“Baiklah. Akan aku katakan alasannya. Ibuku sakit, ia sudah berhenti bekerja satu tahun lalu. Kami hanya memiliki satu sama lain. Dia menjagaku dan aku pun harus menjaganya. Dan sejak itu biaya selalu menjadi permasalahan utama. Tunggu sebentar. Kau tidak akan mengadukanku pada bos-ku kan hanya karena berbicara seperti itu?” Tanyanya sengit.

“Tidak. Aku hanya menjalankan tugasku. Bertanya mengenai kasus itu. Bukan urusan bos-mu jika kau mengatakan hal lain padaku.”

“Syukurlah. Bekerja disini memang tidaklah menyenangkan. Tapi upahnya lumayan.”

“Baiklah. Aku ingin tahu, apa kau melihat orang yang mencurigakan mondar-mandir di sekitar sini?” Tanya Nina sembari mengeluarkan buku catatan dari saku jaketnya.

“Menurutku tidak ada. Seperti biasa, dua hari sebelum hari pertunjukan di teater itu selalu banyak orang datang dan pergi. Mereka biasanya membawa perlengkapan pertunjukan, mulai dari set panggung sampai kostum. Tidak ada yang aneh. Aku bahkan kenal sebagian besar dari mereka. Lalu, saat mereka tidak melakukan pertunjukan, mereka selalu latihan di gedung tersebut.”

“Jika kau memang mengenal sebagian besar dari mereka. Apa kau tahu, ada personil baru yang bergabung dengan grup tersebut?”

“Mereka biasa membawakan satu judul dalam tiga bulan. Biasanya saat-saat akan dimulai pertunjukan baru, mereka selalu mengadakan audisi. Jadi, selain personil tetap mereka, orang baru pun selalu berganti.” Jelas Tania.

“Mereka melakukan audisi? Bukankah upah pemain disini lebih rendah dibandingkan tempat lainnya.” Sela Nina.

“Memang. Aku juga menanyakan hal yang sama pada mereka. Tapi katanya, melakukan pertunjukan itu sama dengan menambah jam terbang dalam portfolio mereka. Mereka juga banyak yang bekerja ganda di tempat lain.”

“Biasanya untuk set panggung dan kostum, apakah mereka berlangganan dengan perusahaan tertentu?”

“Maaf. Kalau yang itu aku tidak tahu, kau harus menanyakan langsung pada mereka.”

“Baiklah. Terima kasih atas waktumu, dan ini nomorku apabila ada sesuatu hal yang kau lupakan. Telepon aku jika ingat sesuatu.” Balas Nina sambil mengeluarkan kartu nama dari dompetnya.

Setelah selesai berbicara dengan Tania, Nina kembali munuju gedung dimana Lutz berada. Ia pun telah selesai dengan manager itu dan sekarang sedang berjalan kearah Nina.

“Bagaimana? Ada hal baru yang dapat menguntungkan kita?” Tanya Nina.

“Tidak ada. Semua informasi darinya tidak ada yang berguna, aku bosan duduk beberapa menit saja dengannya. Mood-ku sudah mundur sampai level 0 sekarang. Lelaki brengsek itu tidak peduli dengan korban yang ada di teater itu, ia hanya peduli pada publisitas yang mengarah padanya dan tempat ini.” Jawab Lutz sambil bergidik.

“Aku ingin bertanya pada para pemain dalam teater tersebut. Apakah kau akan ikut?”

“Baik, aku…” Jawaban Lutz terpotong oleh bunyi dering telepon genggamnya. Ia menarik dengan cepat telepon itu dan mendekatkan bagian pengeras suara pada telinganya. Dari raut wajah yang diperlihatkan oleh Lutz, tampak sekali ia tidak suka dengan berita yang ia dapat.

Nina langsung bertanya sesaat setelah Lutz mematikan telepon. “Ada apa?”

“Kita harus kembali ke markas. Ada perkembangan baru,” Jawab Lutz. “kita akan kembali kesini apabila diperlukan.”

***

Sarah bergerak-gerak dalam gelap. Ia telah sadar semenjak pria itu membopongnya menuju ruangan tersebut. Sayang sekali ia belum sadar saat pria itu membawanya dari mobilnya ke tempat ini. Siapa tahu ia dapat mengenali tempat ini.

Ia diletakkan di lantai dalam ruangan itu. Tangan dan kakinya terikat. Tetapi kain yang diikatkan pada mulutnya kini telah dibuka. Ia tidak ingin mengambil resiko untuk berteriak dan mengundang pria itu untuk datang. Ia mencoba berkali-kali menggerakan pergelangan tangannya yang terikat. Tetapi, simpul yang menjerat kedua tangannya begitu kuat, ia tidak mempunyai cukup tenaga untuk melepasnya.

Sarah menggigil merasakan dingin yang langsung menusuk dari lantai dibawahnya. Ia melihat kearah jendela di sebelah kirinya bahwa langit telah berubah warna menjadi kemerah-merahan. Tanda fajar akan datang. Jika sekarang adalah pagi, maka ia telah berada disini selama kurang lebih tujuh jam sejak berakhir jam kerjanya pada pukul sepuluh malam. Ia adalah orang yang peka terhadap udara dingin. Jika merasakan sedikit saja dingin yang tidak bisa ditolerir oleh tubuhnya, ia akan langsung demam. Saat ini pun, Sarah merasakan tubuhnya mulai menuju fase tersebut. Ia tidak mengharapkan hal itu terjadi di saat seperti ini. Dimana ia memerlukan kondisi optimal agar bisa lepas dari tempat ini.

Ia tidak mengerti apa yang diinginkan oleh orang itu darinya. Ia tidak memiliki apapun saat ini. Apa mungkin ia memang benar-benar mengincar nyawaku.

Oh, tidak. Tolonglah jangan.

Sarah mulai menangis karena mengetahui hal tersebut. Ia adalah orang yang lemah bila dihadapkan dalam situasi yang tidak biasa. Ia ingin sekali hidup lebih lama. Masih banyak hal-hal yang belum pernah dilakukannya, masih banyak tempat yang belum pernah ia kunjungi. Ia telah menyia-nyiakan waktunya dimasa lalu. Kini ia ingin sekali menebus kesalahannya. Memang penyesalan selalu datang di saat-saat terakhir. Ia hanya bisa berharap ini bukanlah akhir dari hidupnya.

Ia mendengar langkah kaki mantap menuju ruangan tempatnya berada. Kepalanya langsung tersentak karena kaget. Ia belum mempersiapkan pertemuan pertamanya dengan pria yang telah menculiknya. Ia kembali meregangkan tangannya agar simpul pada tali yang menjeratnya dapat terlepas. Baru kali ini Sarah merasakan ketegangan seperti ini. Ia merasakan seakan-akan jantungnya terus saja mencelos turun menuju kakinya. Selang waktu yang terjadi pada denyut jantungnya semakin rapat. Seluruh tubuhnya juga menggigil bukan karena kedinginan. Ia merasakan aliran udara panas dan dingin berputar-putar disekitar tubuhnya. Jika saja ia tadi menuruti kata hatinya untuk pulang tidak berjalan kaki, mungkin hal ini tidak akan terjadi.

Kenop pintu berputar berlawanan arah dengan jarum jam. Daun pintunya terbuka perlahan seiring dengan masuknya cahaya dari ruangan di belakangnya yang menerangi sekeliling pintu tersebut. Dari arah tersebut, muncul sesosok pria yang mengenakan pakaian serba hitam masuk ke dalam ruangan tempat Sarah disekap. Sarah mencoba mengingat-ingat apakah ia pernah melihat wajah pria tersebut.

Tetapi, rasa takut yang dialaminya mengalahkan akal sehatnya. Ia tidak dapat berpikir dengan jernih saat ini. Semua wajah tampak sama dimatanya hingga ia tidak dapat mengenalinya sama sekali. Tanpa terasa air mata mengalir dari kedua matanya. Dadanya bergemuruh karena menahan air mata tersebut agar tidak tumpah membasahi wajahnya.

Sarah melihat kearah pria itu. Ia melihat mulutnya bergerak mengatakan sebuah kalimat. Tetapi, ia tidak bisa mendengarnya. Ia tetap mendengar detak jantungnya yang semakin lama semakin keras. Pria itu tersenyum padanya, atau menyeringai. Ia tak peduli. Dengan sedikitnya cahaya yang memasuki ruangan itu, ia tetap tidak dapat melihat dengan leluasa. Pria itu kini berdiri dan berjalan memunggunginya. Ia menuju saklar lampu yang terletak di sebelah pintu masuk. Seketika cahaya membanjiri ruangan tersebut. Sarah menyipitkan kedua matanya yang tidak siap menerima cahaya dari lampu pijar yang terletak di atas kepalanya.

Pria itu kembali mendekati Sarah. Kini ia melipat kedua kakinya untuk duduk di hadapan Sarah. Sarah menatap kedua matanya dengan rasa takut. Ia hanya duduk diam sambil memperhatikan Sarah dengan seksama. Ekspresinya tidak terbaca oleh Sarah sampai pria itu tersenyum miring padanya.

“Apa kau sudah siap?” Tanyanya lembut.

“Apa yang akan terjadi padaku?” Kali ini Sarah memberanikan dirinya untuk berbicara dengan pria itu.

“Jika kau bersikap baik, maka aku pun akan baik padamu.” Jawabnya.

Tapi Sarah tahu kalau pria itu berbohong. Ia melihat seringai puas terus terpasang di wajahnya.

***

Protected by Copyscape Web Plagiarism Checker

Advertisements

6 thoughts on “The Hangman – Chapter 3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s