The Hangman – Chapter 2


Oleh : Tammy Rahmasari

Nina melangkah dengan enggan saat memasuki bangunan yang sekarang berdiri sebuah markas kepolisian. Selama tiga hari ini tidurnya hanya berjumlah 6 jam. Ia lemas, tidak dapat berkonsentrasi, dan lelah. Ia memaksakan dirinya mengkonsumsi lebih banyak kafein untuk membantunya tetap sadar. Walaupun hal itu ia tidak keberatan dengan tingginya kadar kafein dalam darahnya. Tetapi, ia selalu mengalami masalah dengan lambungnya jika ia melewatkan jam makannya akibat mengasup kopi lebih dari biasanya.

Nina tiba terlambat beberapa menit. Di ruangan rapat telah hadir kepala polisi, jaksa, forensik, rekannya Lutz, dan beberapa orang yang belum dikenalnya. Tampaknya semua orang menunggunya datang karena rapat belum juga dimulai. Tanpa sadar wajahnya merona karena malu ia datang terlambat. Tetapi ia beruntung, tampaknya kasus ini lebih menarik perhatian orang-orang daripada dirinya sehingga yang lainnya tidak perduli dengan wajah Nina yang memerah.

Kepala polisi melihat kearah Nina sekilas lalu ia memberi tanda pada yang lainnya bahwa rapat akan segera ia mulai. “Baiklah, kita akan memulai rapat sekarang,”

“seperti telah kita tahu sebelumnya, salah satu selebritis kita saat ini atau yang sekarang yang kita kenal, the hangman, telah membunuh dan mempublikasikan karyanya yang keempat.” Lanjut Abe Mirrh.

Kepala Mirrh kemudian mengangguk kepada Melanie untuk bicara dan menjabarkan hasil evaluasi mayat korban yang telah dilakukannya. Melanie mengerti isyarat dari Mirrh, lalu berdiri dan memulai pembicaraan.

Sebelum memulai bicara, Melanie menarik nafas panjang terlebih dahulu kemudian menghembuskannya dengan keras. Ia tampak lelah. Itu terlihat dari bagian bawah matanya yang menghitam, jelas ia lembur dan belum pulang ke rumah hanya untuk mengotopsi mayat keempat itu agar dapat dibahas dalam rapat ini.

“Sebelumnya, aku hanya ingin mengatakan bahwa Jane Doe nomor empat kita tidaklah berbeda dengan ketiga mayat lainnya. Kematian disebabkan oleh terpenggalnya kepala korban yang memutuskan kontak otak dengan tubuh. Setelah korban dipastikan mati, pelaku memotong sisa bagian tubuh korban dengan benda yang sangat tajam dengan sekali tebas. Menurut perkiraan korban-korban tersebut dipenggal dengan kapak atau pedang,” Melanie menjelaskan sambil memperlihatkan foto korban kepada semua yang hadir.

Melanie kemudian melanjutkan kembali, “setelah korban dimutilasi, bagian-bagian tubuh korban dibersihkan dari darah dengan merendamnya dalam air. Darah tersebut ikut mengalir dengan air buangan yang telah pelaku digunakan untuk merendam potongan mayat korban. Air tersebut juga adalah media yang digunakan oleh pelaku agar darah cepat mengalir keluar. Kemudian bagian tubuh tersebut digantung sampai air mengering dan berhenti menetes. Dengan adanya kontaminasi mikroorganisme dalam air tersebut, mendorong cepatnya pembusukan pada korban. Korban kemudian dirangkai kembali dengan menggunakan kawat baja yang diikatkan antara sendi. Kawat baja ini cukup kuat untuk menahan bobot tubuh korban selama penggantungan, ini berarti pelaku telah merencanakan dengan teliti semua detail. Pakaian yang dikenakan oleh setiap korban juga adalah pakaian yang sama saat mereka semua menghilang. Tidak ada serat dari baju pelaku yang tertinggal. Tidak ada rambut, cairan, serpihan kulit, sidik jari, atau bukti apapun yang dapat mendorong kita mendekati pelaku.” Ia menghentikan laporannya begitu melihat Lutz merengut dengan sengaja.

Nina spontan langsung melihat kearah rekannya dan melotot sebagai tanda peringatan. Melihat ia begitu, Melanie tersenyum simpul kepada Lutz dan kembali melanjutkan, “Aku menemukan sesuatu yang lain dan ini mungkin tidak terlalu membantu.  Pada lipatan lengan baju korban bagian dalam terdapat sobekan kertas bertuliskan AMS. Tulisan tersebut ditulis dengan huruf kapital tebal dengan jenis huruf arial berukuran 28. Aku juga telah melakukan uji dengan ninhydrin2. Tetapi, hasilnya negatif. Dan satu hal lagi yang ganjil terjadi disini. Mengapa pelaku memberikan ketamine pada masing-masing korban, padahal mereka semua dibunuh secara langsung dan tidak merasakan sakit sedikitpun,”

“Di TKP juga terlalu banyak orang yang keluar masuk sehingga aku tidak bisa mengambil sampel jejak sepatu yang kira-kira digunakan oleh pelaku. Berbeda jika pelaku membuang mayat korban di rumah korban atau di tempat pribadi lainnya. Tapi disini, TKP tidak bersih sehingga menyulitkan kami bekerja. Sekian laporan dariku, untuk lebih jelas tentang detailnya dapat dilihat dari laporan yang akan aku bagikan setelah rapat ini selesai.” Tutup Melanie.

“Lutz, Aparel. Ada perkembangan dari kasus ini?” Tanya Mirrh dengan cepat pada keduanya.

Nina mengikuti arah pandang Mirrh pada Lutz, lalu kemudian mempersilakan Lutz untuk angkat bicara, “Menurut perkiraanku, pelaku adalah pria atau wanita yang kuat, yang bisa mengayunkan kapak atau pedang dengan sempurna. Setelah kami selidiki, tidak ada kasus pembunuhan yang serupa pada kota lainnya, kecuali jika pelaku membunuh dengan menggunakan cara lain yang sama sekali berbeda dengan cara yang dipakainya sekarang. Berarti pelaku tergolong baru dalam dunia ini. Kami juga tidak dapat mengetahui apa motif pelaku melakukan pembunuhan ini. tetapi, dengan bukti yang didapat oleh Melanie pada kertas tersebut dapat membantu kita walau tidak banyak. Sekian dariku, Aparel apa ada yang mau kau tambahkan?” Tanya Lutz sambil melihat kearahku.

“Aku hanya ingin menambahkan, pelaku kemungkinan tidak membunuh korbannya secara acak. Itu yang aku dan rekanku yakini secara pasti. Ia sepertinya memilih korbannya untuk satu tema atau motif tertentu yang sampai saat ini aku belum mengerti. Ia tidak mungkin memilih orang di jalanan kemudian membunuhnya. Hal ini tidak pas dengan profil pembunuh berantai yang selalu berhati-hati dalam melakukan aksinya. Ketamine yang diberikan pada korban kemungkinan dimaksudkan sebagai rasa iba yang dimilikinya. Kekurangan dalam profilnya. Ia tidak mendapatkan apa yang ingin didapatnya pada korban karena itu langsung membunuh para korbannya. Ia juga kemungkinan tidak stabil, mengalami gangguan psikologis dalam dirinya. Emosi negatif dan positif bertarung dalam dirinya. Memilah-milah antara kebaikan dan keburukan seakan-akan ia mencoba memperlihatkan hasil yang telah ia capai untuk seseorang. Ia berusaha keras untuk berhasil. Ini yang membuatku takut.” Jelas Nina.

Semua orang dalam ruangan itu terdiam mendengarkan penjelasan Nina. Seperti berusaha berpikir benar atau tidaknya penjelasannya. Mencerna setiap kata darinya dan berusaha merefleksikan pelaku sesuai gambaran Nina.

Nina merasa gugup pada kali pertamanya ia berbicara dalam rapat kasus ini. Pada rapat sebelumnya ia hanya mengangguk dan tidak berbicara jika Lutz menjabarkan perkembangan kasus.

Jantungnya berdegup kencang, tangannya mengepal keras disamping tubuhnya menahan getaran tubuhnya selama ia berbicara, ia pun berkeringat dingin. Ini adalah kasus pertamanya, kasus yang menentukan perkembangan karirnya. Sehingga ia harus berusaha melakukan sebaik-baiknya. Bekerja sama dengan Lutz menangani kasus ini.

“Baiklah. Penjelasan yang bagus Aparel. Rapat kali ini selesai. Laporkan setiap perkembangan yang didapat oleh kalian semua kepadaku. Dan terakhir, cepatlah tangkap orang ini” Tutup Mirrh tanpa tersenyum sedikitpun.

***

Sarah Adams merasa ada yang mengikutinya hari ini. Tetapi, setiap kali ia menengok ke belakang atau kearah lainnya, tidak seorangpun tampak mengikuti dan memandangnya.

Ia memasuki toko kelontong di sudut jalan dengan tiba-tiba, berpura-pura akan berbelanja. Ia langsung mengambil tempat di ujung ruangan yang mengarah langsung ke jalan. Dari tempat itu ia memperhatikan para pejalan kaki. Dari pandangannya kini, ia diuntungkan karena dapat melihat langsung ke empat sisi jalan. Beberapa orang yang melewati toko tersebut tidak ada yang mengikutinya memasuki toko tersebut, bahkan tidak ada orang yang berpura-pura tidak melihatnya saat melakukan kontak mata dengannya.

Syukurlah, ternyata memang hanya imajinasiku saja, ucap Sarah dalam hati.

Ia menjadi paranoid setelah suatu kejadian menimpa dirinya. Ia kini selalu waspada dan tidak mudah percaya pada orang lain. Waktu itu ia diduga telah menggelapkan uang perusahaan yang berjumlah tidak sedikit. Ia bahkan tidak percayai akan jumlahnya. Bagaimana mungkin ia melakukan hal tersebut padahal yang ia inginkan adalah bekerja dengan giat agar suatu hari ia menjadi bankir seperti ayahnya.

Kasus penggelapan tersebut disusun dengan sangat rapi sampai-sampai pengacara serta keluarganya pun tidak percaya ia tidak bersalah. Ia berjuang mati-matian mengatakan tidak bersalah, tapi pengacara bodoh itu yang mengatakan bahwa ia harus mengakui kesalahan untuk mendapatkan pengurangan masa tahanan.

Kini ia telah bebas, memulai hidup baru di kota yang baru. Tidak ingin mengingat atau berhubungan kembali dengan masa lalunya. Masa tenangnya dulu kini berubah seratus delapanpuluh derajat. Setelah kejadian itu, ia mengalami depresi yang menyebabkannya mencoba bunuh diri beberapa kali. Ia juga menjadi tidak percaya dengan semua orang disekitarnya. Disamping itu, ia menjadi lebih cepat marah apabila tersinggung dan selalu menolak bantuan orang-orang yang mencintainya dengan kasar.

Saat ini, setelah ia bertemu dengan Dr. Ray, ia menjadi lebih terkendali dan depresinya perlahan-lahan memudar. Ia telah diberikan kesempatan kedua untuk memulai hidup baru. Kini ia bekerja di sebuah restoran milik istri Dr. Ray. Walaupun tidak banyak yang ia dapat setiap harinya. Tetapi ia bahagia. Setiap hari ia bekerja pada shift kedua, kecuali pada saat-saat tertentu ia bekerja lembur sehari penuh.

Setelah dirasanya cukup aman. Ia melangkah keluar meninggalkan toko tersebut. Ia berjalan dengan cepat menuju tempat kerjanya yang kini hanya tinggal berjarak beberapa bangunan. Cuaca hari ini tidak cerah, awan-awan berwarna kelabu tidak ada tanda-tanda akan menghilang di langit, tanda hujan akan turun dalam beberapa jam. Kilatan petir tampak dari kejauhan memecah cakrawala dengan pendarnya yang membuat orang lain takut. Angin juga terus berhembus menerpa wajah dan tubuhnya sehingga menyebabkan ia terus mengetatkan jaketnya.

Di jalanan hanya beberapa mobil yang lewat. Tidak terlalu padat lalu lintas pada kota kecil ini, terutama pada hari kerja. Tanpa direncanakan ia melihat kearah mobil yang diparkir disebelah bangunan restoran tempatnya bekerja. Sebuah Ford Focus berwarna perak seperti miliknya dulu yang harus ia jual untuk membayar sedikit bagian dari uang yang mereka tuduhkan ia gelapkan.

Ia melangkah ke samping bangunan restoran. Pintu karyawan terletak di sisi kiri bangunan tersebut. Di lorong itu jalannya hanya cukup untuk satu mobil dan merupakan jalan buntu. Cuaca  mendung seperti saat ini membuat lorong itu semakin menyeramkan. Sandy menghemat setiap listrik dalam restorannya, sehingga lampu yang ada pada lorong tersebut selalu dibiarkan gelap.

Sarah melihat sebuah mobil sedan berwarna gelap, tidak jelas warnanya karena kurangnya pencahayaan pada lorong tersebut. Bisa saja warnanya biru tua, hitam, atau hijau tua. Pada bagian depannya terdapat seorang pria yang menunduk pada bagian dalam kap mobilnya yang terbuka. Ia tidak ingin berurusan dengan orang asing, dengan cepat ia memacu kakinya pada pintu samping restoran. Di depan pintu ia berhenti, kemudian melirik sekilas pada pria itu. Tetapi, karena pria tersebut tidak menyadari keberadaannya. Ia lalu terus mendorong pintu tersebut sampai terbuka.

Di dalam dapur Ethan tersenyum padanya. Ia langsung menuju loker pegawai untuk berganti dengan baju kerjanya. Hari ini suasana restoran tidak padat. Hanya beberapa orang pelanggan tetap yang sedang bersenda gurau dengan Sandy dan pelayan wanita baru yang sedang bergenit-genit dengan sekelompok siswa pria sekolah menengah atas. Melihat kebiasaan sehari-hari dalam restoran apabila tidak penuh, ia kembali tenang. Tidak ada yang harus dikhawatirkan karena semua berjalan normal seperti biasanya.

***

Lutz langsung membaca berkas laporan Melanie sekali lagi. Ia terus mempelajarinya untuk melihat detail yang terlewat. Ia membaca laporan itu tanpa menggunakan kacamata bacanya, akibatnya ia merasa pusing karena berusaha membaca tulisan yang hampir tidak dapat ia baca berkali-kali.

Ia teringat perkataan Melanie tentang ketamine itu. Apakah pelaku ragu-ragu, merasa kecewa pada korban, dan iba seperti yang telah dijelaskan oleh Nina. Ia tidak menyangka anak itu dapat menjelaskan mengenai profil pelaku. Seharusnya ia bekerja juga sebagai profiler3 di kepolisian.

Lokasi pada setiap korban yang ditemukan berjarak cukup jauh. Korban pembunuhan pertama ditemukan di teater yang tidak pernah dibuka lagi di selatan kota. Laporan pada polisi disampaikan oleh pemilik gedung yang akan merenovasinya. Pemilik gedung dan pegawainya meyakinkan polisi tidak melihat mayat tergantung pada hari sebelumnya. Mereka meninggalkan gedung kira-kira pukul 10 malam pada hari sabtu. Sayangnya gedung tersebut tidak memiliki kamera pengawas.

Korban pembunuhan kedua ditemukan di teater pusat kota. Kasus kedua ini cukup mencoreng nama kepolisian karena tempat ditemukannya pelaku dan kantor kepolisian hanya berjarak sepuluh menit. Media massa juga mulai mempublikasikan dan mencari-cari detail mulai dari kasus yang kedua ini. Petugas keamanan pada gedung tersebut memeriksa setiap ruangan dalam gedung tersebut setelah midnight show pada pukul 2 dini hari. Pada saat itu hanya dua ruangan yang menayangkan film, ruangan lainnya tidak digunakan dan telah dikunci oleh petugas keamanan pada pertujukan terakhir pukul 10 malam. Dalam kamera pengawas yang ditempatkan di dalam gedung, tidak ada aktivitas yang mencurigakan. mayat korban ditemukan pagi harinya oleh cleaning service di teater 2 yang pada malam sebelumnya menayangkan midnight show.

Korban pembunuhan ketiga ditemukan di daerah utara kota, disebuah teater sekolah swasta. Beruntung hari itu adalah sabtu, sehingga yang menemukan korban bukanlah salah satu siswa. Korban ditemukan oleh salah satu guru magang yang lembur mempersiapkan materi. Petugas keamanan yang berkeliling setiap satu jam pun tidak melihat ada tanda-tanda mencurigakan.

Korban pembunuhan keempat ditemukan pada hari sabtu pagi di dalam teater salah satu tempat hiburan. Korban ditemukan oleh seorang pemain drama dalam teater tersebut yang tidak sengaja melihat ke atas panggung tersebut. Korban ditemukan tergantung sama seperti korban sebelumnya. Saksi bertugas membersihkan panggung sebelum pertunjukan siangnya dimulai. Pertunjukan drama dalam teater itu hanya dilangsungkan pada akhir pekan.

Persamaan dari setiap pembunuhan adalah waktu. Waktu the hangman membunuh dan meninggalkan korbannya adalah hari sabtu. Saturday night killer. Kemungkinan ia telah memilih korban pada waktu yang sama juga dengan ia membuang korban.

Lutz merasakan pusing kembali. Ia lalu merebahkan tubuhnya pada kursi di meja kerjanya dan menyerahkan bobot tubuhnya untuk disangga oleh kursi tersebut. Dengan perlahan, ia memijat pangkal hidungnya untuk menghilangkan sakitnya. Tapi tidak berhasil. Ia kemudian mendengar langkah kaki mendekatinya. Dengan santai ia membuka mata dan memalingkan wajahnya kearah sumber bunyi tersebut.

Dilihatnya Nina berjalan mendekatinya dengan melipat kedua tangannya di depan dada. Tanpa sadar ia tersenyum padanya. Tetapi, Nina tidak balas tersenyum. Ia sendiri tidak mengerti mengapa emosinya berubah riang apabila berdekatan dengan Nina. Selalu tersenyum atau kadang menggodanya. Padahal ia bukanlah orang seperti itu.

Nina kemudian berdiri di sebelah kanan meja Lutz dan melihat kearah berkas yang tadi ditutup Lutz.

“Kau tidak pernah bilang pernah belajar psikologi?” Tanya Lutz pertama kali.

Sambil mengangkat kedua bahunya Nina menjawab, “Ada dalam salah satu mata kuliah yang kuambil. Lagi pula kau tidak pernah bertanya.”

“Kau bagus di dalam tadi Aparel. Hanya satu hal yang harus kau perbaiki. Janganlah mengatakan kau takut sebagai seorang polisi. Itu tidak akan membantu kasus ini apabila kau sendiri takut terhadap orang yang akan kau tangkap.” Jawab Lutz sambil tersenyum.

“Baik, dimengerti. Satu hal lagi. Aku tidak ingin berspekulasi dengan mengatakannya pada rapat tadi. Pelaku sepertinya mengenal dengan baik tempat-tempat menggantung korbannya. Tidak mungkin ia mengetahui setiap kebiasaan yang terjadi di tempat tersebut atau mungkin juga ia telah mengintai dan mengunjunginya secara berkala,”

“ia mengerti setiap kebiasaan yang terjadi dalam gedung-gedung tersebut. hal itu selalu menggangguku akhir-akhir ini, seakan-akan aku melewatkan sesuatu yang penting. Sesuatu yang dapat kita gunakan untuk menangkapnya. Mungkin pelaku juga adalah orang terdekat karyawan gedung tersebut atau pelaku pernah dan mungkin sedang bekerja disana.” Lanjut Nina.

“Hal itu dapat diterima olehku. Ayo kita periksa kembali setiap tempat.” Tambah Lutz sambil berdiri dan mengambil jas yang ia tadi tak sengaja jatuhkan di lantai.

————————————————————————————————–

2Ninhydrin akan bereaksi terhadap asam amino pada sidik jari, menyebabkan bagian dalam surat-surat asli berubah menjadi ungu tua.

3Profiler adalah orang yang membuat profil yang sesuai dengan pelaku sesuai bukti yang didapat. Persentase error pada hasil analisis profiler biasanya sangat kecil, terutama pada profiler yang telah berpengalaman. Tetapi, tidak menutup kemungkinan adanya kesalahan terhadap profil pelaku.

Protected by Copyscape Web Plagiarism Checker

Advertisements

6 thoughts on “The Hangman – Chapter 2

  1. wooaaa seru2 tapi sama kyk tadi kata saya dii ym nama panggilannya 1 aja >.< soalnya jadi rada bingung ihihihi ga sabar chapter 2 😄

  2. chapter 2 euy…well done…
    penggambaran objeknya lebih bagus dari chapter 1…hehe
    mungkin bisa lebih objektif lagi, kayak novel2 luar gitu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s