The Hangman – Chapter 1


Oleh : Tammy Rahmasari

Nina terbangun tiba-tiba karena dering telepon. Ia sudah tahu siapa yang meneleponnya karena dering pada telepon genggamnya.

“Aparel.” Jawabnya lantang.

“Datanglah ke Dreamland Theater di Dreamland Zone. Cepat.”

Tanpa pikir panjang, Nina langsung mengambil pistol yang selalu ia tempatkan di sisi kanan tempat tidurnya.

Nina telah mengerti ucapan rekannya. Korban baru telah bertambah. Ia tak menyukai ini. setelah ditemukan ketiga korban sebelumnya, pihak kepolisian tidak mendapatkan cukup bukti yang dapat mengarahkan kepada tersangka. Ia dipasangkan dengan seorang detektif yang terkenal telah memecahkan banyak kasus pembunuhan berantai yang sulit dipecahkan, padahal ia baru saja dipindahkan ke dalam divisi pembunuhan.

Jensen Lutz adalah seorang yang berhati dingin dan berkemampuan diatas rata-rata polisi lainnya. Nina sendiri tidak mengerti mengapa dia yang baru ini langsung mendapatkan kesempatan yang diperebutkan semua orang di divisinya. Apa mungkin ini semua karena ayahnya. Sebelum ayahnya meninggal 10 tahun lalu, beliau telah dipasangkan dengan Lutz untuk waktu yang sangat lama. Satu-satunya kasus yang tidak dapat diselesaikan oleh Lutz adalah saat dipasangkan dengan ayahnya. Kasus yang telah membuat ayahnya menjadi korban.

Berhentilah berpikir tentang itu.

Nina tidak ingin mengingat kasus itu. Kasus yang menyebabkan kedua orangtua dan adik perempuannya meninggal. Setelah kejadian itu ia harus berpindah-pindah, walaupun ia diasuh oleh kerabatnya. Tetapi tidak ada seorangpun yang benar-benar menginginkannya. Tapi ia akhirnya bertahan di rumah bibi dari pihak ayahnya. Ia dikenalkan dengan dunia politik, kriminal, medis dan psikologi. Sehingga akhirnya ia ingin berkarier dibidang ini, karena ia tidak ingin kejadian yang sama menimpa orang lain.

Jalanan pada malam tahun baru sangat padat sehingga ia datang terlambat di TKP. Seperti yang telah diketahuinya, pers dan pengunjung Dreamland berkumpul mendahuluinya. Tidak mengherankan, dengan adanya korban pembunuhan di tempat umum, berita dengan cepat tersebar.

Ia menyisir setiap orang yang ada. Melihat ada atau tidaknya penonton yang telah melakukan pembunuhan ini. Biasanya pembunuh selalu tertarik melihat kerja kepolisian menyelesaikan kasus. Ia akan berbaur dengan orang disekitarnya dengan sangat lihai.

“Mencari tersangka lagi?” Lamunan Nina dibuyarkan oleh perkataan Lutz. Lutz kemudian berdiri disampingnya dan tersenyum ke arahnya.

“yah, seperti biasa. Mungkin aku dapat langsung melihat pembunuhnya.” Nina balas tersenyum pada Lutz.

“Dan aku seperti biasa. Telah meringankan tugasmu yang itu dengan memerintahkan salah seorang petugas untuk merekam semua orang yang hadir disini, bahkan kita pun tidak akan luput dari kamera. Tersenyumlah… dan sebaiknya kita masuk kedalam. Acara tidak akan lengkap tanpamu.” Gurau Lutz.

***

Ia telah menyiapkan penyamaran ini dengan sebaik-baiknya. Tidak akan ada orang mengenalinya. Ia telah menyamar menjadi orang yang akan dengan mudah dilupakan oleh orang lain. Ia telah mengontrol seluruh emosinya sampai tingkat yang paling rendah. Karena ia tidak diperbolehkan untuk salah.

Lihatlah ayah hasil dari pengarahanmu.

Ia lupa tidak boleh tersenyum. Dengan santai ia melihat orang disekelilingnya yang dapat menyadari perubahan emosinya ini. aku harus pergi dari sini setelah aku mendapatkan korban selanjutnya. Sampah yang sama. Yang tidak dapat hidup karena terlalu banyak berbuat salah dan mengecewakan keluarga mereka. Tentu saja tidak seperti aku. Aku tidak pernah mengecewakan mereka.

Aku akan memperhatikan orang-orang yang ada disini, menetapkan para korban baru, mengintai mereka, memeriksa riwayat hidup mereka, bahkan kalau perlu aku akan membobol data-data keuangan, rekening tagihan sampai tindakan kriminal yang telah mereka lakukan agar aku tidak melakukan kesalahan. Tunggulah korbanku yang kelima. Dalam hati ia menyenandungkan lagu dengan gembira.

***

Lutz enggan memasuki TKP. Tapi ia kembali ingat pada janji yang telah ia terlanjur janjikan pada rekannya. Rudy yang malang. Kejadian itu adalah kesalahannya, jika saja ia pada saat itu mau mendengarkan Rudy agar tidak terburu-buru mempublikasikan kasusnya, hal itu tidak akan pernah terjadi. Karena kesalahan sekecil itu, membuat si pembunuh mendendam kepada para penyidik dan meneror keluarganya. Untung saja hal itu tidak terjadi pada keluarganya. Orangtuaku telah lama bermigrasi ke luar negeri beralasan untuk mendapatkan suasana baru, sehingga mereka tidak akan menjadi sasaran pelaku.

Tapi kemalangan itu justru terjadi pada Rudy. Si pembunuh telah mengetahui wajah rekanku. Lalu ia mengikutinya saat pulang. Beruntung anak sulung Rudy, Nina sedang berkunjung ke rumah neneknya di luar kota. Jadi dia hanya mendapatkan Rudy, Sarah, dan Flor.

Hanya. Mengapa kata itu bisa terpikirkan.

Dampaknya tentu saja lebih dari itu. Baik pada dirinya maupun pada Nina. Setiap bulan dan tahun perkembangan Nina tidak pernah ia lewatkan. Walaupun ia hanya memantaunya dari jauh. Selepas sekolah menengah atas Nina langsung mendaftarkan dirinya ke kepolisian. Hal itu tidaklah aneh. Dengan dendam sebesar itu, bergabung dengan kepolisian merupakan cara yang terbaik untuk menyalurkan tenaganya.

Ironisnya kini ia mencalonkan diri menjadi rekan Nina. Padahal anak itu masih harus belajar lebih giat lagi untuk menghadapi kasus pembunuhan berat seperti ini. tapi, walaupun sulit aku akan berusaha membimbingnya.

Tenanglah Rudy, aku akan menjaga anakmu.

“Mengapa kau tertawa? Jika kau bukan rekanku, kau akan aku jadikan tersangka karena tertawa di TKP.” Ucap Nina dengan mengernyit.

Lutz kembali tertawa. Tapi kini lebih keras. Ia terhibur hanya dengan melihat wajah sebal Nina. Anak ini sungguh menggemaskan. Sehingga membuat ia jatuh hati dari pertama kali ia mellihatnya. Tapi ia bukanlah anakku, ia anak Rudy.

Teringat karena hal itu, senyumnya kembali hilang. Seketika itu ia kembali menunjukkan ekspresi serius.

“Apa yang kau dapat, Mel?” Tanya Lutz.

“Selama aku bekerja di bagian forensik, baru pertama kali mendapatkan kasus seperti ini,” Sambil terus menggeleng ia meneruskan kembali perkataannya.

“Korban berjenis kelamin wanita, berusia antara 20-30 tahun, tubuhnya atletis terlihat dari massa otot yang terlatih, sejauh ini kami belum menemukan identitasnya. Dilihat dari waktu kematian, kira-kira pembunuhan dilakukan dalam rentang 12 jam ini. Akan aku buktikan setelah penelitian lebih lanjut.”

“Kita beruntung lebih cepat menemukannya kali ini.” Sela Lutz.

Melanie menunjukkan wajah tidak suka atas selaan Lutz, sedangkan Lutz tersenyum melihat teman lamanya itu marah.

“Seperti korban sebelumnya, mayat dimutilasi menjadi 10 bagian, dihubungkan kembali masing-masing bagian dengan kawat baja, menggantungnya di panggung seperti boneka marionette. Hanya kali ini ia membawa paha kanan sebagai souvenir dan mengganti paha kanannya dengan paha dari manekin. Aku akan menguji bahan yang digunakan untuk pembuatan manekin tersebut, mungkin kita beruntung dapat melacak produsen penghasil dan daftar penyalurnya. Tapi aku tidak dapat berjanji. Sama seperti sebelumnya manekin itu hanyalah manekin biasa yang dapat dibeli dimana saja, dan aku juga yakin, potongan manekin itu berbahan dasar sama dengan manekin dari korban sebelumnya. Kemudian tidak ada tanda kekerasan dan perkosaan pada korban. Dan setelah diijinkan untuk mengosongkan TKP, aku akan menguji ada atau tidak ketamine1 dalam darahnya untuk melihat persamaan dengan Korban sebelumnya.” Lanjut Melanie.

“Lakukanlah secepatnya.” Tegas Lutz

Setelah Melanie mengangguk, Lutz melirik lewat ujung matanya pada rekannya. Merasa kasihan padanya karena harus mengalami hal semacam ini pada kasus pembunuhan pertamanya.

“Satu lagi Melanie. Uji secepatnya DNA korban, bandingkan dengan bank data. Kemudian cari petujuk dari daftar orang hilang yang sesuai dengan deskripsi korban.”

Melanie mengangguk sebagai tanda mengerti lalu kembali meneliti mayat korban.

“Setelah lengan bawah kiri, lengan atas kiri, dan paha kiri pada setiap korban. Sekarang ia mengambil paha kanannya. Sebenarnya dia akan membuat apa?” Komentar Lutz datar sembari menghadap rekannya.

Nina berdiri mematung dengan wajah pucat dan ekspresi sedang berpikir keras ketika memperhatikan mayat korban yang menggantung itu.

“Apa kau akan muntah atau pingsan sekarang? Karena aku tidak melihatmu dapat menerimanya.” Tanya Lutz pada Nina.

Setelah menarik nafas panjang dan dalam Nina menjawab. “Aku tidak apa-apa. Hanya merasa kasihan dengan korban yang telah mengalami kejadian ini. kemudian mempertanyakan mengapa ada orang yang setega ini melakukan hal yang sangat sadis pada manusia.”

“Aku mengerti perasaanmu. Tapi itu semua bukanlah tugasmu. Kau harus siap, juga berkonsentrasi atas segala kemungkinan yang ada serta bukti-bukti yang kita dapatkan untuk menangkap pembunuh ini.” Balas Lutz.

“Ayo, kita kembali bekerja. Siapa tahu kita beruntung kali ini atas kecerobohan pelaku yang meninggalkan bingkisan untuk para forensik disana.” Lanjut Nina sambil berjalan menuju sisi ruangan lainnya.

Anak yang tangguh. Sedikit demi sedikit kau akan menjadi seorang polisi yang hebat. Ucap Lutz dalam hati.

***

Setelah selesai pemeriksaan pada TKP, Nina langsung kembali ke rumahnya tanpa harus kembali ke markas. Semua data yang ia butuhkan telah ia siapkan di rumahnya. Mulai dari data korban pertama sampai yang ketiga, foto TKP, laporan identifikasi korban dari petugas forensik, serta laporan dan foto bukti-bukti remeh yang masih belum dapat ia pecahkan yang dapat menghubungkannya dengan pelaku.

Ia berusaha mengerti jalan pikiran si pembunuh agar lebih mudah melacaknya. Ia melakukan pembunuhannya secara periodik. Setelah membuang mayat korbannya, ia langsung memutuskan korban selanjutnya. Ia akan mengintainya, menculiknya, dan kemudian membunuhnya tepat tujuh hari setelah korban terakhirnya. Kemudian ia akan menempatkannya dalam salah satu teater di kota ini, menggantungnya, dan terakhir mengundang penonton berdatangan melihat hasil karyanya.

Apakah pembunuhnya ini memanfaatkan korban sebagai hasil karya seninya. Juga apakan pembunuhnya ini mengibaratkan teater itu sebagai tempat pertunjukkan seninya. Tetapi, lain dengan pameran karya seni lainnya, hasil karya psikopat ini tidak dapat dinikmati.

Dari ketiga pembunuhan sebelumnya, baru satu korban yaitu korban pertama yang telah teridentifikasi. Korban bernama Jenny Kim, 21 tahun, keturunan Asia, seorang reporter kolom gosip koran lokal yang baru-baru ini memenangkan kasus pencemaran nama baik atas gugatan seorang anggota band yang ia cemarkan telah melakukan penganiayaan terhadap anaknya. Bukti yang didapat penggugat lemah sehingga hakim telah menutup kasus itu.

Korban diperlakukan sama oleh pembunuhnya dengan memutilasi menjadi 10 bagian. Tetapi, suvenir yang diambil oleh pelaku adalah lengan bagian atasnya. Sama dengan korban lainnya, bagian tubuh yang telah dimutilasi direndam dalam air untuk membersihkan darah agar tidak menetes saat digantung. Setidaknya dari sini dapat diketahui bahwa pelaku tidak menetapkan korbannya dari ras tertentu dan membuat tugas pihak kepolisian menjadi lebih berat karena tidak jelasnya pola yang dilakukan pelaku.

Pelaku juga membawa potongan tubuh korban. Masing-masing korban dengan bagian tubuh yang berbeda. Nina teringat kata-kata Melanie tadi, bahwa potongan tubuh itu digantikan dengan potongan tubuh dari manekin yang sama. Kalimat itu mengganggu Nina. Ia terus berpikir mengenai itu. Seperti celah kosong yang akan ia masuki dan mendapatkan bukti didalamnya.

Nina berguling dengan gelisah di tempat tidurnya. Berusaha memecahkan teka-teki yang diberikan pelaku. Sama seperti ketika ia bermain catur, langkah selanjutnya akan mengantarkan ia dalam akhir yang tidak dapat ia duga.

Sebaiknya aku beristirahat. Masih ada sisa waktu 2 jam sebelum aku pergi ke markas dan menghadiri rapat. Aku juga harus beristirahat agar laporan korban keempat yang akan diserahkan oleh Melanie nanti dapat kuteliti dengan maksimal.


—————————————————————————————-

1Ketamine adalah zat yang sangat dekat dengan PCP (phencyclidine) : sejenis anastesi yang mempunyai efek halusinogenik yang biasa digunakan oleh dokter hewan sebagai anastesi, ketamine dapat melumpuhkan pasien (apabila dalam dosis besar dapat menyebabkan delusi disebut K-zone). Kadang digunakan juga pada kasus date rape (Pemerkosaan disertai dengan pembiusan)

Protected by Copyscape Web Plagiarism Checker

Advertisements

4 thoughts on “The Hangman – Chapter 1

  1. alzzz….
    dirimu smart…!
    saya baru baca bab 1,,seru banget saya suka novel kaya gini…
    very smart…saya dukung dirimu lebih dari apa yg kau bayangkan…!! hahaha

    semangat alz! Ganbatte…!

    berhubung udah sangat malam saya lanjut baca terusannya bsk ah…can’t wait for that…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s